Sebab-sebab Lapangnya dada dan sehatnya Hati
Dikutip dari buku “Do’a dan wirid” Penyusun Yazid Abdul Qadir Jawas, penerbit Pustaka Imam As-Syafi’i, hal 284-293.
Pengobatan yang paling ampuh terhadap penyakit-penyakit hati dan sempitnya dada adalah dengan cara sebagai berikut :
1. Mengikuti petunjuk dan tauhid, sebagaimana kesesatan dan syurik itu merupakan faktor terbesar bagi sempitnya dada.
2. Beriman dengan cahaya iman yang benar, yang dimasukkan oleh Alloh ke dalam hati hamba-Nya juga amal shalih (yang dilakukan seseorang).
3. Mencari ilmu yang bermanfaat. Setiap kali ilmu seseorang bertambah luas, maka akan semakin lapang dan luas pula hatinya.
4. Bertaubat dan kembali taat kepada Alloh yang Mahasuci, mencintai-Nya dengan segenap hati, serta menghadapkan diri kepada-Nya, dan menikmati ibadah kepada-Nya.
5. Terus-menerus dalam berdzikir kepada-Nya, dalam segala kondisi dan tempat. Sebab dzikir mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam melapangkan dan meluaskan dada, menyenangkan hati, serta menghilangkan kebimbangan dan kedukaan.
6. Berbuat baik kepada sesama makhluk dengan melakukan berbagai perbuatan baik kepada mereka sedapat mungkin. Sebab seseorang yang murah hati lagi baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya dan paling bahagia hatinya.
7. Mengeluarkan berbagai kekotoran hati dari berbagai sifat tercela yang menyebabkan hatinya menjadi sempit dan tersiksa, seperti; dengki, kebencian, iri, permusuhan dan kezhaliman.
8. Keberanian, sebab seorang yang berani mempunyai dada yang lebih lapang dan hati yang lebih luas.
9. Meninggalkan sesuatu yang berlebihan dalam memandang, berbicara, mendengar, bergaul, makan dan tidur.
10. Menyibukkan diri dengan amal atau ilmu yang bermanfaat.
11. Memperhatikan kegiatan hari ini dan tidak perlu khawatir terhadap masa yang akan datang atau pada kesedihan yang terjadi pada masa-masa lalu.
12. Melihat kepada orang yang ada dibawah Anda dan jangan melihat kepada orang yang ada di atas Anda dalam ‘afiat (kesehatan, keselamatan) dan hal-hal yang berkenaan dengannya, juga dalam rezeki dan hal-hal yang berkenaan dengannya.
13. Melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan yang telah terjadi pada masa lalu yang tidak mungkin dicegah, sehingga tidak larut memikirkannya.
14. Jika dia tertimpa musibah, maka hendaklah dia berusaha meringankan agar dampak buruknya bisa dihindari, serta berusaha keras untuk mencegahnya sesuai kemampuannya.
15. Adanya kekuatan hati dan tidak tergoda serta terpengruh oleh angan-angan dan berbagai khayalan yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran buruk, menahan marah, serta tidak mengkhawatirkan pada hilangnya hal-hal yang menyenangkan dan datangnya berbagai hal yang tidak menyenangkan, tetapi menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Alloh dengan melakukan faktor-faktor yang bermanfaat (seperti menuntut ilmu syar’i, belajar ilmu syar’i, serta mengamalkannya, bershadaqoh, dsb), serta memohon ampunan dan ‘afiat kepada Alloh.
16. Menyandarkan hati hanya kepada Alloh, seraya bertawakkal kepada-Nya, berhusnudzan (berbaik sangka) kepada-Nya.
17. Jangan memperbanyak keluhan, karena hal tersebut justru bertolak belakang dengan kehidupan yang benar dan sehat.
18. Jika tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan, hendaklah dia membandingkan dengan berbagai kenikmatan yang talah dilimpakan kepadanya, baik yang berupa agama maupun duniawi.
19. Mengetahui bahwa gangguan dari orang lain tidak akan memberikan madharat (bahaya) padanya, khususnya yang berupa ucapan buruk, tetapi hal itu justru akan memberikan madharat kepada diri mereka sendiri. Hal itu tidak perlu dimasukkan ke hati dan difikirkan sehingga tidak membahakannya.
20. Mengarahkan fikirannya terhadap hal-hal yang membawa manfaat bagi dirinya, baik dalam urusan agama maupun dunia.
21. Hendaklah ia tidak menuntut terima kasih atas kebaikan yang telah dilakukannya kecuali dari Alloh. Dan hendaklah dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah mu’amalahnya (hubungannya) dengan Alloh, sehingga tidak mempedulikan terima kasih dari orang yang telah diberinya.
22. Memperhatikan pada hal-hal yang bermanfaat dan berusaha untuk dapat merealisasikannya, serta tidak memperhatikan pada hal-hal yang berbahaya, sehingga otak dan pikirannya tidak disibukkan olehnya.
23. Berkonsentrasi pada aktivitas yang ada sekarang, dan menyisihkan aktivitas yang akan datang sehingga aktivitas yang akan datang kelak dapat dikerjakan secara maksimal dan sepenuh hati.
24. Memilih dan berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas dan ilmu-ilmu yang bermanfaat, yakni, mengutamakan yang lebih penting, khususnya yang benar-benar menjadi keinginan. Dan dalan hal itu hedaklah ia memohon pertolongan kepada Alloh, lalu meminta pertimbangan orang lain, dan jika pilihan itu telah pasti, maka hendaklah bertawakal kepada Alloh.
25. Menyebut-nyebut (memuji) nikmat-nikmat Alloh, baik yang zahir maupun yang batin.
26. Mempergauli dan memperlakukan pasangan (suami maupun isteri) dan kaum kerabat serta semua orang yang mempunyai hubungan dengan Anda secara baik. Tidak menyebutkan aib mereka.
27. Berdo’a memohon perbaikan semua hal dan urusan (do’anya ada dalam buku).
28. Jihad di jalan Alloh.
Sebab-sebab dan saran-sarana ini merupakan pengobatan yang sangat bermanfaat bagi berbagai penyakit jiwa sekaligus menyebuh yang sangat ampuh untuk menghilangkan kegoncangan jiwa bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya secara jujur dan penuh keikhlasan.
“Mari kita saling tolong menolong pada kebenaran yang telah disepakati dan saling menasehati pada hal-hal yang diperselisihkan, serta memohon kepada Alloh subhanahu wata’ala untuk ditunjuki ke jalan yang lurus”
Pengobatan yang paling ampuh terhadap penyakit-penyakit hati dan sempitnya dada adalah dengan cara sebagai berikut :
1. Mengikuti petunjuk dan tauhid, sebagaimana kesesatan dan syurik itu merupakan faktor terbesar bagi sempitnya dada.
2. Beriman dengan cahaya iman yang benar, yang dimasukkan oleh Alloh ke dalam hati hamba-Nya juga amal shalih (yang dilakukan seseorang).
3. Mencari ilmu yang bermanfaat. Setiap kali ilmu seseorang bertambah luas, maka akan semakin lapang dan luas pula hatinya.
4. Bertaubat dan kembali taat kepada Alloh yang Mahasuci, mencintai-Nya dengan segenap hati, serta menghadapkan diri kepada-Nya, dan menikmati ibadah kepada-Nya.
5. Terus-menerus dalam berdzikir kepada-Nya, dalam segala kondisi dan tempat. Sebab dzikir mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam melapangkan dan meluaskan dada, menyenangkan hati, serta menghilangkan kebimbangan dan kedukaan.
6. Berbuat baik kepada sesama makhluk dengan melakukan berbagai perbuatan baik kepada mereka sedapat mungkin. Sebab seseorang yang murah hati lagi baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya dan paling bahagia hatinya.
7. Mengeluarkan berbagai kekotoran hati dari berbagai sifat tercela yang menyebabkan hatinya menjadi sempit dan tersiksa, seperti; dengki, kebencian, iri, permusuhan dan kezhaliman.
8. Keberanian, sebab seorang yang berani mempunyai dada yang lebih lapang dan hati yang lebih luas.
9. Meninggalkan sesuatu yang berlebihan dalam memandang, berbicara, mendengar, bergaul, makan dan tidur.
10. Menyibukkan diri dengan amal atau ilmu yang bermanfaat.
11. Memperhatikan kegiatan hari ini dan tidak perlu khawatir terhadap masa yang akan datang atau pada kesedihan yang terjadi pada masa-masa lalu.
12. Melihat kepada orang yang ada dibawah Anda dan jangan melihat kepada orang yang ada di atas Anda dalam ‘afiat (kesehatan, keselamatan) dan hal-hal yang berkenaan dengannya, juga dalam rezeki dan hal-hal yang berkenaan dengannya.
13. Melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan yang telah terjadi pada masa lalu yang tidak mungkin dicegah, sehingga tidak larut memikirkannya.
14. Jika dia tertimpa musibah, maka hendaklah dia berusaha meringankan agar dampak buruknya bisa dihindari, serta berusaha keras untuk mencegahnya sesuai kemampuannya.
15. Adanya kekuatan hati dan tidak tergoda serta terpengruh oleh angan-angan dan berbagai khayalan yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran buruk, menahan marah, serta tidak mengkhawatirkan pada hilangnya hal-hal yang menyenangkan dan datangnya berbagai hal yang tidak menyenangkan, tetapi menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Alloh dengan melakukan faktor-faktor yang bermanfaat (seperti menuntut ilmu syar’i, belajar ilmu syar’i, serta mengamalkannya, bershadaqoh, dsb), serta memohon ampunan dan ‘afiat kepada Alloh.
16. Menyandarkan hati hanya kepada Alloh, seraya bertawakkal kepada-Nya, berhusnudzan (berbaik sangka) kepada-Nya.
17. Jangan memperbanyak keluhan, karena hal tersebut justru bertolak belakang dengan kehidupan yang benar dan sehat.
18. Jika tertimpa suatu hal yang tidak menyenangkan, hendaklah dia membandingkan dengan berbagai kenikmatan yang talah dilimpakan kepadanya, baik yang berupa agama maupun duniawi.
19. Mengetahui bahwa gangguan dari orang lain tidak akan memberikan madharat (bahaya) padanya, khususnya yang berupa ucapan buruk, tetapi hal itu justru akan memberikan madharat kepada diri mereka sendiri. Hal itu tidak perlu dimasukkan ke hati dan difikirkan sehingga tidak membahakannya.
20. Mengarahkan fikirannya terhadap hal-hal yang membawa manfaat bagi dirinya, baik dalam urusan agama maupun dunia.
21. Hendaklah ia tidak menuntut terima kasih atas kebaikan yang telah dilakukannya kecuali dari Alloh. Dan hendaklah dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah mu’amalahnya (hubungannya) dengan Alloh, sehingga tidak mempedulikan terima kasih dari orang yang telah diberinya.
22. Memperhatikan pada hal-hal yang bermanfaat dan berusaha untuk dapat merealisasikannya, serta tidak memperhatikan pada hal-hal yang berbahaya, sehingga otak dan pikirannya tidak disibukkan olehnya.
23. Berkonsentrasi pada aktivitas yang ada sekarang, dan menyisihkan aktivitas yang akan datang sehingga aktivitas yang akan datang kelak dapat dikerjakan secara maksimal dan sepenuh hati.
24. Memilih dan berkonsentrasi pada aktivitas-aktivitas dan ilmu-ilmu yang bermanfaat, yakni, mengutamakan yang lebih penting, khususnya yang benar-benar menjadi keinginan. Dan dalan hal itu hedaklah ia memohon pertolongan kepada Alloh, lalu meminta pertimbangan orang lain, dan jika pilihan itu telah pasti, maka hendaklah bertawakal kepada Alloh.
25. Menyebut-nyebut (memuji) nikmat-nikmat Alloh, baik yang zahir maupun yang batin.
26. Mempergauli dan memperlakukan pasangan (suami maupun isteri) dan kaum kerabat serta semua orang yang mempunyai hubungan dengan Anda secara baik. Tidak menyebutkan aib mereka.
27. Berdo’a memohon perbaikan semua hal dan urusan (do’anya ada dalam buku).
28. Jihad di jalan Alloh.
Sebab-sebab dan saran-sarana ini merupakan pengobatan yang sangat bermanfaat bagi berbagai penyakit jiwa sekaligus menyebuh yang sangat ampuh untuk menghilangkan kegoncangan jiwa bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya secara jujur dan penuh keikhlasan.
“Mari kita saling tolong menolong pada kebenaran yang telah disepakati dan saling menasehati pada hal-hal yang diperselisihkan, serta memohon kepada Alloh subhanahu wata’ala untuk ditunjuki ke jalan yang lurus”
0 Comments:
Post a Comment
<< Home