Salafus Shalih Merasa Takut Jika Amalan Mereka Batal Tak Terasa 2

Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali Halaman 2
Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa khawatir amalan-amalan mereka batal tanpa disadari, hal ini termasuk bagian dari kesempurnaan iman mereka. Firman Allah Ta'ala:
.. Tidaklah yang merasa aman dari adzab Allah, kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raaf: 99). 'Abdullah bin 'Ubaidillah bin Abi Mulaikah, seorang yang tsiqah lagi faqih berkata,
Aku mendapati 30 sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semuanya merasa takut kemunafikan menimpa diri mereka, tidak ada seorangpun dari mereka berkata imannya seperti keimanan (malaikat) Jibril dan Mika-il. 5 Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (I/110-111):
Para sahabat yang didapati oleh Ibnu Abi Mulaikah yang paling utama adalah 'Aisyah, saudaranya yaitu Asma', Ummu Salamah, 'Abdullah bin 'Umar, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin Mas'ud, dan 'Abdullah bin Az-Zubair, Abu Hurairah, 'Uqbah bin Al-Harits dan Al-Musawwar bin Makhramah. Mereka adalah para sahabat yang ia dengar haditsnya.
Ia juga mendapati Sahabat lain yang lebih utama dari mereka, seperti 'Ali bin Abi Thalib dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia memastikan bahwa mereka merasa takut (munculnya) kemunafikan dalam amalan-amalan mereka. Dan tidak ada nukilan dari selain mereka yang menyalahi itu, seakan-akan ini adalah ijma'.
Yang demikian itu karena seorang mukmin terkadang ditimpa rintangan yang mengotori amalnya, sehingga membuatnya tidak ikhlas, namun rasa takut mereka dalam perbuatan tersebut, tapi hanya menunjukkan kelebihan mereka dalam wara' dan ketakwaan. Radhiyallahu 'anhum. Sungguh benar apa yang dikatakan al-Hafidz tadi, generasi Rabbani itu telah berjuang melawan hawa nafsunya karena Allah, sehingga mereka pun dekat kepada Allah berlipat-lipat dari amalan orang selain mereka.
Mereka -para shiddiqin- selalu melihat kepada hak Allah yang wajib mereka tunaikan, maka Allah pun memberikan (kenikmatan) berupa rasa penyesalan terhadap diri mereka (karena mereka merasa belum memenuhi hak-hak Allah dengan sempurna), mereka mengetahui bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan ampunan Allah dan rahmat-Nya. Karena hak Allah adalah untuk ditaati dan bukan dimaksiati, untuk diingat dan tidak dilupakan serta untuk disyukuri dan tidak dikufuri.
Maka, barangsiapa yang selalu melihat hak Penciptanya yang wajib dilakukannya, ia akan tahu secara yakin bahwa ia belum dapat melaksanakannya sebagaimana mestinya. Tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali ampunan-Nya, ia merasa akan celaka bila hanya bersandar pada amalannya saja.
Inilah tempat melihatnya orang-orang yang ikhlas demi Allah semata, dan inilah yang mewariskan rasa putus asa kepada dirinya, ia hanya menggantungkan seluruh pengharapannya kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya.
Akan tetapi sungguh sangat disayangkan, jika orang yang bijaksana memperhatikan keadaan manusia di zaman ini, ia mendapati kenyataan yang berlawanan dengan hal tersebut. Mereka hanya menuntut hak mereka kepada Allah dan tidak mau memenuhi hak Allah atas mereka.
Dari situlah, mereka telah terputus asa dari Allah, hati mereka telah tertutup untuk mengenal, mencintai, merasakan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Allah dan terhadap dirinya.
Ketahuilah -mudah-mudahan Allah merahmatimu- bahwa modal utama perdagangan yang tidak akan merugi adalah seorang hamba yang senantiasa melihat kepada hak Allah, kemudian melihat, apakah ia telah melaksanakannya dengan benar. Karena hal itu akan membawa seorang hamba kepada kedudukan para shiddiqin yang Rabbani yang menundukkan hatinya di hadapan Rabb-nya, ketundukan yang di dalamnya terdapat kemuliaan, yang merasa fakir kepada Allah, kefakiran yang di dalamnya terdapat kekayaan.
Ya Allah, inilah hati kami di hadapan-Mu, amalan kami tidak pernah tersembunyi dari-Mu, maka tetapkanlah -ya Allah- hati kami di atas jalan-Mu yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka dari para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih. Merekalah sebaik-baik teman.
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...5 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (tanpa sanad) I/109-Fathul Bari dan disambung (sanadnya) oleh Abu Zur'ah Ar-Razi dalam Taarikh Dimasyqi (1367) secara ringkas.
--------------------------------------------------------------------------------
Disalin dari kitab "Mubthilaatul A'maal fii Dhau-il Qur'aanil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah al-Muthahharah" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, Edisi Indonesia, "Penyebab Rusaknya Amal Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahih" Pustaka Imam Syafi'i hal. 7 - 17.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home