Salafus Shalih Merasa Takut Jika Amalan Mereka Batal Tak Terasa 1
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali .....
Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah menerangi hatimu dengan petunjuk-, sesungguhnya pahala yang besar dan kebaikan yang luas, yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya hanya dapat dicapai oleh orang yang melakukannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
Setiap amalan itu pasti mempunyai permulaan dan tujuan akhir. Suatu amalan tidak akan menjadi ketaatan sampai di dasarkan atask keimanan, maka keimanan adalah pembangkitnya, bukan ada, bukan hawa nafsu, bukan pula karena mencari pujian dan kedudukan, dan sebagainya.
Tapi, permulaannya harus berasal dari iman, dan tujuan akhirnya adalah pahala Allah Ta'ala, serta mengharapkan keridhaan-Nya, yaitu al-ihtisab (mengharap pahala).
Oleh karena itu, dua perkara tersebut seringkali disandingkan, seperti dalam sabda Nabi, Barangsiapa yang berupasa Ramadhan dengan penuh keimana dan ihtisab (mengharap pahala)... 1
Barangsiapa yang bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan ihtisab ... 2 dan (hadits) yang semisalnya. 3
Hati para hamba berada di antara dua jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkan sesuai dengan kehendaknya. Ya Allah, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Terkadang, seseorang dihampiri aral yang merintangi dari maksudnya yang ikhlas, maka ia terhalang dari pahala dan dijanjikan tanpa ia sadari, karena pahala itu hanya diberikan atas amalan yang ikhlas saja.
Orang yang memperhatikan sirah (perikehidupan) Salafus Shalih dari perkataan dan perbuatan mereka, ia akan melihat bahwa mereka dalam rasa takut (khauf) dan berharap (raja').
Rabb seluruh makhluk, Allah subhanahu wa ta'ala, berfirman mensifati sebaik-baik makhluk (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam):
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka (dengan sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (QS. Al-Mu'minuun: 57-60).
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, Dan orang-orang yang memberikan ayat yang telah mereka berikan dengan hati yang takut ... 'Aisyah berkata, "Apakah mereka orang-orang yang minum arak dan mencuri?" Beliau menjawab,
Tidak wahai puteri Ash-Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, dan bershadaqah, sedangkan mereka merasa takut amalan-amalan itu tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang beregera dalam kebaikan. 4 Allah menyebutkan kaum mukminin yang bersegera dalam kebaikan dengan sifat yang paling baik, walaupun mereka senantiasa takut amalan mereka tidak diterima.
Rahasianya bukan karena khawatir Allah tidak memberikan pahala kepada mereka, sekali-kali tidak!! Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala amalan-amalan mereka dengan sempurna. (QS. Ali 'Imran: 57). Bahkan Allah menambahkan untuk mereka karunia, kebaikan dan nikmat-Nya:
Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya ... (QS. Al-Fathir: 30). Tapi, karena mereka merasa takut belum melaksanakan (amalan-amalan)nya sesuai dengan syarat-syarat ibadah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka mereka tidak bisa memastikan bahwa mereka telah melaksanakannya sesuai dengan keinginan Allah, tapi mereka mengira telah melakukan kekurangan dalam hal tersebut.
Oleh karena itu mereka merasa takut amalan mereka tidak diterima, maka mereka pun berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shalih. Maka, hendaknya seorang hamba memperhatikan ini, mudah-mudahan dapat menambah semangat untuk memperbaiki ibadah dan meluruskan amalan dengan cara ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti Rasulullah.
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 HR. Bukhari (2014), dan Muslim (760) dari Abu Hurairah. ...2 Ibid. ...3 Risaalah Tabuukiyah (hal. 45-46 dengan tahqiq Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali). ...4 Hasan dengan syawahidnya. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3175), Ahmad (VI/159, 205) dan Al-Hakim (III/393-394) dari jalan Malik bin Mighwal dari 'Abdurrahman bin Sa'id bin Wahb, dari 'Aisyah. Al-Hakim berkata, "Hadits ini sanadnya shahih." Dan Adz-Dzahabi menyetujuinya. (Demikian secara ringkas dari catatan kaki di buku "Penyebab Rusaknya Amal" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali -red. vbaitullah).
--------------------------------------------------------------------------------
Disalin dari kitab "Mubthilaatul A'maal fii Dhau-il Qur'aanil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah al-Muthahharah" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, Edisi Indonesia, "Penyebab Rusaknya Amal Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahih" Pustaka Imam Syafi'i hal. 7 - 17.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home