Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (4/4)

Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Monday, 14 February 2005Sebagai penutup, kami sertakan satu dalil tambahan lalu memberikan pandangan yang benar terhadap (kehidupan) dunia itu sendiri agar tidak terkecoh seperti kaum sufi yang tersesat. Apakah kita harus menjauhi dunia dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya? Temukan jawabannya di sini,
2.6 Dalil Keenam Dari Abu Hurairah dia berkata: Saya telah mendengar Rosulullah bersabda:
"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pads hari kiamat ialah orang yang coati dalam peperangan. Dia dipanggil di hadapan Alloh dan diperkenalkan nikmat-nikmatNya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?" Dia menjawab: "Aku gunakan berperang untuk membela agama-Mu sehingga aku meninggal dunia."
Alloh berkata: "Kamu dusta, kamu melakukan itu hanyalah supaya disebut sebagai pemberani." Dan dia telah memperoleh gelar itu. Lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka.
Yang kedua seorang laki-laki ketika di dunia menuntut ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an. Dia dipanggil dihadapan Alloh dan diperkenalkan nikmat-nikmatNya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?". Dia menjawab: "Aku pergunakan untuk mempelajari ilmu dien dan aku mengajarkannya. Aku membaca Al-Qur'an untuk mencari keridhoan-Mu." Alloh berkata:
"Kamu dusta. Kamu berbuat itu supaya disebut sebagai orang pandai dan engkau ntentbaca Al-Qur'an ingin disebut sebagai ahli membaca Al qur'an". Dan dia telah memperoleh gelar itu. Lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka.
Yang ketiga orang kaya, karena Alloh memberi kelapangan dan macam-macam harta, dia dipanggil di hadapan Alloh dan diperkenalkan nikmatnikmat-Nya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?". Dia menjawab: "Tidaklah aku membiarkan jalart yang Engkau sukai apabila aku membelanjakannya melainkan aku membelanjakannya untuk mencari ridho-Mu." Alloh berkata: "Kamu dusta. Kamu melakukan itu hanyalah supaya disebut sebagai dermawan." Dan dia telah memperoleh gelar itu. lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka. " 13
Kami simpulkan:
Orang yang beribadah untuk mencari kesenangan dunia atau popularitas maka hukumnya syirik dan neraka tempat kediamannya. Amalan ibadah akan diterima bila dzohirnya sesuai dengan sunnah dan hatinya ikhlas karena Alloh . Betapa tinggi nilai amalan hati, karena amalan anggota badan harus disertai dengan amalan hati, bukan sebaliknya. Keikhlasan hati hanya Alloh yang Maha Mengetahuinya kemudian sipelakunya, bertanyalah kepada dirimu: "Siapakah yang bisa menegur diriku jika niat atau tujuanku salah?". Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur'an maupun sunnah yang mengingatkan kita agar tidak terjerumus di dalam kemusyrikan atau kekafiran dan kehancuran, karena mencintai dunia yang berlebih-lebihan. Adapun dalil selain di atas masih banyak sekali.
3 Untuk Apa Dunia Ini? Setelah kita menelaah pembahasan di atas, bukanlah kita harus menjauhi dunia dan kenikmatannya sebagaimana yang difahami oleh kaum sufi yang tersesat.
Ketahuilah bahwa Alloh menjadikan dunia seisinya ini untuk kita umat manusia sebagaimana disebutkan didalam surat Al-Baqoroh ayat 29.
Para utusan Alloh menikmati dunia, mereka makan dan minum, menikah dan mencari nafkah, bahkan Nabi Muhammad melarang orang yang mengharamkan dirinya dari kenikmatan dunia karena ingin memfokuskan ibadahnya kepada Alloh. Beliau berpuasa dan berbuka, beliau shalat malam dan tidur, beliau menikah bahkan menganjurkan umatnya agar segera menikah. Beliau melarang umatnya membujang dan mengebiri.
Tetapi lihat ibadah beliau dan para sahabatnya, lihatlah ibadah pembela-pembelanya, seperti ahli hadits, ahli tafsir, ahli fikih. Mereka bersunguh-sungguh menegakkan syariat Islam bukan hanya lewat mulut yang membual, berteriak kesana kemari: "Ayo tegakkan syariat Islam." Tetapi dibuktikan di dalam kesungguhan mereka menuntut ilmu dien, mengamalkan dan mendakwahkannya, baik secara lisan atau tulisan.
Mereka sabar menghadapi kemiskinan, cobaan dan penganiayaan karena menyampaikan yang haq. Mereka ridho dengan kenikmatan dunia yang sedikit dan penuh dengan kekurangan untuk mencari ridho Alloh yang abadi kelak di akhiratnya.
Jasad mereka sudah dikubur, mereka tidak meninggalkan harts benda yang menjadi perebutan umat sesudahnya dan tidak meninggalkan hutang yang menjadi beban pengikutnya. Tetapi meninggalkan warisan yang tidak bisa dihabiskan oleh orang yang `tamak' mengambilnya.
Mereka sudah meninggal dunia tetapi selalu diingat jasa kebaikannya. Ilmu mereka selalu menyinari umat yang mendapatkan taufiq dari Robbnya. Silakan simak riwayat hidup mereka ketika menuntut ilmu, ketika menyampaikan ilmu kepada umat, lihat kesederhanaan urusan dunianya.
Insya Alloh dengan membaca kitab-kitabnya, engkau akan dapat mengetahui betapa indah kehidupan mereka di dunia, apalagi di akhiratnya. Lalu bandingkan dengan kehidupan kita umat Islam di zaman sekarang, apa yang mereka prioritaskan, dan apa yang mereka lupakan dan apa kerugiannya?
Akhirnya mari kita mohon kepadaAlloh semoga kita senantiasa mendapatkan hidayat-Nya, dimudahkan untuk menelaah ajaran Islam dengan pemahaman salaful umat dan dimudahkan untuk mengamalkannya dan mampu mendakwakannya dan diberi kesabaran setiap menghadapi rintangan karena membela ajaran-Nya.
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...13 HR. Muslim (dalam) Kitabul Imaroh.
--------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari majalah Al-Furqon 4/II/1423H hal. 23 - 24.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home