Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (3/4)

Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Sunday, 13 February 2005Melanjutkan pembahasan yang lalu, masih mengenai dalil-dalil yang membuktikan bahwa penyebab kekufuran (salah satunya) adalah cinta kepada dunia. Hal ini tidak lain hanya untuk menguatkan alasan dan juga untuk menunjukkan betapa bahayanya sikap cinta terhadap dunia. Dalil-dalil kali ini cukup panjang pembahasannya dari pada dalil sebelumnya.
2.4 Dalil Keempat:
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka kami akan penuhi mereka usahanya di dunia dan mereka tidak dirugtkan.- Mereka di akhirat tidak mendapatkan apa-apa melainkan api neraka dan gugurlah apa yang mereka kerjakan di dunia dan batal apa yang mereka kerjakan. (QS. Hud: 16). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab tauhidnya menulis judul "termasuk syirik orang yang beribadah untuk kepentingan dunia " lalu beliau berdalil dengan ayat tersebut. 7
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Ali Syaikh berkata:
"Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin menjelaskan kepada kita semua bahwa amalan ibadah yang diperuntukkan untuk mencari dunia tergolong syirik, menghapus kemumian tauhid dan menghapuskan amalan shalih.
Bahkan lebih berbahaya dari pada riya'. Karena orang yang bertujuan mencari dunia selalu memusatkan ibadahnya untuk kepentingan dunia belaka. Berbeda dengan perbuatan riya', tidak selamanya terjadi. Oleh karenanya, orang mukmin harus menjauhi dua perkara yang sangat membahayakan ini". 8 Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas demikian:
"Barang siapa yang beribadah dengan maksud untuk mendapatkan imbalan harta, maka Alloh akan membalasnya berupa kesehatan dan kesenangan dunia, tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan neraka". Qotadah menafsirkan:
"Barang siapa menilai dunia ini sebagai tujuan utama hidupnya makaAlloh akan membalas amalannya di dunia berupa kenikmatan dunia saja, sedangkan di akhirat tidak mendapatkan apa-apa". 9 Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab pernah ditanya makna ayat ini, beliau menjawab:
Orang yang beramal shalih karena Alloh, seperti mengerjakan shalat, bersilaturahmi dan meninggalkan perbuatan dzalim, tetapi tidak berniat untuk mendapatkan pahala akhirat, dia menginginkan agar berkembang hartanya dan keluarganya sehat, maka dia akan memperoleh dunia saja, sedangkan di akhiratnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikianlah perkataan Ibnu Abbas. Lebih berbahaya dari pada yang pertama, yaitu orang beramal shalih hanya ingin mencari pujian manusia, tidak ingin mencari pahala demikianlah perkataan Mujahid Orang beramal shalih hanya ingin mendapatkan keuntungan dunia, seperti menjalankan haji dan berhijrah hanya untuk meraih harta dan wanita, atau belajar agama Islam agar menjadi pengajar dan memperoleh pekerjaan di sekolahnya atau untuk meraih jabatan yang tinggi, dia belajar membaca Al-Qur'an dan membagusi shalatnya agar diangkat sebagai pegawai masjid sebagaimana kenyataannya pada zaman sekarang. Orang yang taat kepada Alloh dan ikhlas, tetapi dia mengamalkan amalan kufur seperti orang Yahudi dan Nasroni maka amalnya ditolak, demikian juga umat yang berbuat kemusyrikan, amalannya tidak diterima. 10
Kami simpulkan:
Beramal shaleh untuk meraih dunia adalah syirik, maka bagaimana jika beramal dengan perbuatan syirik? Orang beribadah untuk kepentingan dunia, akan disiksa kelak di akhiratnya.
2.5 Dalil kelima: Dari Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda:
Hancurlah penyembah dinar, hancurlah penyembah dirham, dan binasalah penyembah pakaian dari sutra dan wol, jika diberi, dia rela, jika tidak diberi dia marah, binasa dan terbalik kepalanya. 11 Ibnu Taimiyah berkata:
"Nabi menamakan pecinta dunia dengan sebutan penyembah dunia. Hadits ini juga mengandung doa semoga penyembah dunia celaka.." Beliau berkata:
"Orang yang mencari harta ada dua macam, Pertama, bila dia mencarinya untuk sekedar menutup kebutuhannya seperti makan, minum, menikah, kebutuhan tempat tinggal dan semisalnya, maka dianjurkan, karena harta sebagai wasilah untuk beribadah kepada Alloh.
Menurut golongan ini, harta baginya ibarat kendaraan dan hamparan, artinya di waktu dia membutuhkan dia menggunakannya, orang ini tidak dinamakan penyembah dunia.
Adapun yang kedua: mereka mencari harta melebihi kebutuhan, hatinya selalu memikirkannya sehingga lupa ibadah kepada Alloh. Mereka senang apabila mendapatkan harta, dan marah bila -tidak mendapatkannya, inilah penyembah dunia". 12
Kami simpulkan:
Betapa rugi penyembah dunia. Belum tentu bahagia di dunia, tapi pasti celaka di akhiratnya. Jadikanlah dunia sebagai budakmu, jangan sebaliknya.
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...7 Lihat Fathul Majid hal 126. ...8 Lihat Fathul Majid hal. 451. ...9 Lihat Fathul Majid 452. ...10 Lihat Fathul Majid: 454. ...11 HR Bukhori (dalam) Kitabul Jihad. ...12
0 Comments:
Post a Comment
<< Home