Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (2/4)

Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Sunday, 13 February 2005Salah satu alasan mengapa sikap cinta dunia merupakan faktor utama kehancuran manusia adalah sikap itu merupakan penyebab kekufuran. Benarkah demikian? Apa yang mendasarinya? Simak sebagian dalil-dalil dan keterangannya berikut ini.
2 Cinta Dunia Penyebab Kekufuran? Selanjutnya marl kita menyimak dalil dari Al-Qur'an dan sunnah serta fatwa para ulama' untuk mendapatkan jawabannya.
2.1 Dalil Pertama
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (orang munafiq tentang perkataannya), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya senda gurau dan main-main".
Katakanlah: "Apakah dengan Alloh dan ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu sekalian berolok-olok? "
Janganlah kamu minta maaf, sungguh kamu telah kufur setelah kamu beriman, jika Kami memaafkan sebagian golongan dari kamu (karena bertaubat), maka aku akan mengazab sebagian kelompok yang lain, karena mereka itu orang-orang yang berdosa. (QS. At-Taubah: 65-66). Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di berkata:
"Ada sebagian orang Islam yang pernah ikut perang Tabuk berkata Tidaklah kita melihat Qurro' kita yaitu Nabi Muhammad dan para shahabatnya melainkan orang yang paling besar perutnya, paling pendusta bila berbicara dan paling penakut bila berjumpa dengan musuh dan lain-lain. Tatkala omongan mereka itu sampai kepada Rosulullah mereka datang kepada Nabi untuk minta maaf,
"Wahai Nabi! Kami hanya bersenda gurau, tidak bermaksud untuk menghina dan mencaci." Maka Alloh menurunkan ayat menolak alasannya, bahkan Nabi diperintah agar memberitahu kepadanya,
Pantaskah kamu mengolok-olok Alloh, ayat dan Rasul-Nya, kamu jangan minta maaf, kamu telah kafir setelah kamu beriman. Ayat ini sebagai dalil juga bahwa siapa saja bertujuan menghina agama Alloh dan Rasul-Nya dengan rahasia, maka Alloh akan membuka aibnya dan dia itu kafir kecuali bila dia segera bertaubat." 2
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:
"Apabila kamu telah mengerti bahwa sebagian manusia yang pernah ikut perang bersama Rasulullah ketika melawan bangsa Romawi, mereka menjadi kafir karena mengolok-olok Nabi dan para shahabatnya walaupun hanya dengan senda gurau.
Maka lebih jelas lagi bagimu bahwa orang yang mengeluarkan perkataan kafir karena takut akan kekurangan harta, turun jabatannya atau takut dihina oleh manusia adalah lebih kejam dan berbahaya daripada senda gurau." 3 Abdul Aziz Lathif menambahkan:
"Apabila ada orang yang diperintah agar mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat, lalu matanya memicing, lidahnya menjulur, bibirnya mencibir, mereka tergolong mengolok-olok dinul Alloh dan amalannya termasuk kufur, maka bagaimana hukumnya dengan orang yang melecehkan tauhid?" 4
Kesimpulannya:
Bukankah orang yang mengolok-olok Islam dan pemeluknya dikatakan kafir karena ingin melampiaskan hawa nafsunya dan ingin mencintai dunia? Waspadalah! Jikalau orang yang mencemooh dan menghina Islam dengan senda gurau saja hukumnya kafir, bagaimana bila disertai dengan kesengajaan? Sebagaimana mulut tokoh tokoh yang pada zaman sekarang ini mengaku sebagai pembela Islam? Tidaklah diragukan lagi mereka itu kafir, pembela dunia, pembela hawa nafsu syaithoniyah dan harus segera bertaubat. Jika tidak, dia adalah kafir. Oleh karena itu, waspadalah wahai pengikut bila kamu punya pimpinan.
2.2 Dalil Kedua:
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu di neraka yang paling bawah dan tidaklah engkau menjumpai. baginya penolong " (QS. An-Nisa': 145). Mengapa mereka di neraka yang paling bawah? Bukankah mereka menjalankan shalat, ikut berjamaah, berdzikir, mengeluarkan zakat dan beramal shaleh? Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di menjawab:
"Karena mereka ikut mengingkari Alloh dan memusuhi Rosul-Nya, bahkan mereka memusuhi dan membuat makar kepada kaum mislimin dengan cara yang halus, sulit diraba". 5
Kami simpulkan:
Orang-orang munafik menyembunyikan kekafiran dan pura-pura membela Islam tidak lain disebabkan karena cinta dunia dan takut mati. Orang yang beramal hanya mencari dunia, akan celaka di akhiratnya. Tauhid bukan hanya pengakuan hati, tetapi harus dibuktikan dengan lisan dan perbuatan, jika salah satunya hilang, lenyaplah keislamannya.
2.3 Dalil Ketiga:
Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar.
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. An-Nahl: 106-107). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:
"Ayat di atas menerangkan bahwa Alloh tidak menerima udzur apapun dari hambaNya yang berbuat kekafiran melainkan orang yang dipaksa, tetapi hatinya masih tetap teguh dengan keimanan.
Adapun selain dipaksa tetap dikatakan kafir, baik dengan alasan khawatir kekurangan harta, atau karena ingin meraihnya, takut dihina oleh manusia, atau karena ingin membela keluarga dan harta, atau pun hanya karena bersenda gurau.
Mengapa demikian? Sebab dalam ayat di atas ada dua pembahasan yang pokok. (Illaa man ukriha = kecuali dipaksa). Perlu difahami bahwa manusia hanya mungkin mendapat paksaan dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Sedangkan hati, tidak ada seorangpun yang bisa memaksanya. (dzalika biannahumus tahabbul hayaatad dunyaa 'alal aakhirati = yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka, mencintai kehidupan di dunia melebihi dari akhirat). Alloh menjelaskan bahwa amalan kufur yang pelakunya berhak diazab dengan adzab yang pedih bukanlah karena sebab keyakinan hati, atau karena kebodohan, atau karena membenci agama Islam, atau karena mencintai kekafiran, tetapi karena ingin meraih dunia dengan memojokkan agama Islam". 6
Kami simpulkan:
Orang yang berbuat kufur karena ingin meraih dunia maka dia itu kafir. Orang yang berbicara kufur karena ingin meraih dunia, dia itu pun kafir. Kekafiran mungkin terjadi sebab keyakinan saja, perkataan saja atau perbuatan saja. Bisa jugs terjadi karena, keyakinan dan perkataan, keyakinan dan perbuatan ataupun karena keyakinan, perkataan dan perbuatan sekaligus.
--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...2 Lihat Tafsir Al-Karimur Rahman hal. 300. ...3 Lihat kitab Kasyfus Syubuhat hal 129 syarah Abdul Aziz Lathif. ...4 Lihat kitab Tarikh Ibnu Ghonim 2/319 dan Kasyfus Syubuhat hal 128. ...5 Lihat Tafsir Al-Karimur Rahman hal 174. ...6 Lihat Kasyfus Syubuhat hal. 128 Syarah Abdul Aziz Lathif.
--------------------------------------------------------------------------------
0 Comments:
Post a Comment
<< Home