إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسناوشيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إلهإلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صل الله عليه وعلي الهوسلم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون يا أيها الناس اتقواربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراًونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً يا أيها الذين آمنوااتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطعالله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً اما بعد Sesungguhnya segala puji (hanyalah) bagi Allah, kami memujiNya, kami memohon pertolongan kepadaNya, dan kami memohon ampunan (hanyalah) kepadaNya. kami pun berlindung dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal kami. barangsiapa yang diberi petunjuk Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada yang dapat menberinya petunjuk. aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah -yang berhak disembah- kecuali Allah saja, Yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan (sekaligus) utusanNya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada beliau dan keluarganya. Allah berfirman (yang artinya) : "Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan islam." [Ali Imraan : 102] "Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dair diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasikamu." [An-Nisaa' : 1] "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." [Al-Ahzab : 70-71] amma ba'du : sesunggunya sebenar-benar perkataan adalah kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (perkara baru dalam agama) dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat...
ahlan wa sahlan di blog abu dzar aljanary semoga bisa mengambil segala manfaat di dalamnya dan menjadi sarana dalam memperbaiki diri dan menuju ketaatan kepada-Nya

MENGGAPAI QOLBUN SALIM

"PADA HARI YANG HARTA DAN ANAK-ANAK TIADA BERGUNA.KECUALI BARANG SIAPA YANG DATANG KEPADA ALLAH DENGAN QOLBUN SALIM" [ASY-SYU'ARA'<26>:88-89]

Sunday, September 11, 2005


BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH ?

(Naskah ceramah Syaikh Sholeh bin Abdil 'Aziz Ali Asy-syaikh (
Pada rabi'uts tsani 1411 H
Alih Bahasa :
Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc.

Muqoddimah

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman : (لكل أمة جعلنا منسكاهم ناسكوه فلا ينازعنك في الأمر وادع إلى ربك إنك لعلى هدى مستقيم . وإن جادلوك فقل الله أعلم بما تعملون . الله يحكم بينكم يوم القيامة فيما كنتم فيه تختلفون)
Artinya : Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah : " Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.Allah akan mengadili diantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (Surat Al-Hajj : 67 – 69)
Dan segala puji baginya yang telah berfirman :
(أليس الله بكاف عبده ويخوفونك بالذين من دونه ومن يضلل الله فما له من هاد. ومن يهد الله فما له من مضل أليس الله بعزيز ذي انتقام)
Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya . Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.
(Surat Az-Zumar : 36)
Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak untuk disembah dengan benar melainkan Allah tiada sekutu baginya, persaksian orang yang telah merasuk ketauhidan didalam lubuk hatinya, dan dia mengetahui apa – apa yang dicintai Allah dan yang diridhoi-Nya dari perkataan maupun perbuatan.
Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan, pilihan serta kekasih-Nya, dialah pemberi kabar gembira sekaligus peringatan, beliau bersabda dan memberi pelajaran, maka beruntunglah bagi yang mengambil sunnah dan mengikuti jejak
serta meneladani petunjuknya, semoga shalawat Allah baginya, keluarga, shahabatnya, serta yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat nanti, kemudian setelah itu :
Wahai saudaraku berlindunglah kepada Allah dari segala bentuk fitnah, berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang merusak agama ini, merusak pikiran, badan serta merusak segala bentuk kebaikan, berlindunglah kepada Allah dari itu semua, karena tidak ada kebaikan didalam fitnah itu selamanya.Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan darinya.
Oleh karena itulah ketika Bukhari –rahimahullah- menyebutkan didalam Shahihnya kitab Al -fitan beliau memulainya dengan perkataan : ( Bab : firman Allah ta'ala :
(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)
Artinya : Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantara kamu . (Surat Al-Anfal : 25)
Dan dahulu Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- memperingatkan dari fitnah itu).
Fitnah itu apabila telah datang tidaklah akan menimpa orang yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya, dan tidak akan meninggalkan perkataan orang yang berkata . Maka wajib bagi kita untuk berhati – hati dari fitnah sebelum terjerumus kedalamnya, serta menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari setiap hal yang mendekatkan kepada fitnah karena termasuk tanda-tanda akhir zaman adalah banyaknya fitnah sebagaimana yang telah tersebut didalam hadits shohih bahwasanya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda : (tanda – tanda akhir zaman adalah ..pent-cepatnya waktu, sedikitnya amal, meratanya kebakhilan, banyaknya atau nampaknya fitnah ).
Karena fitnah itu apabila telah tampak maka akan selalu mengiringinya kerusakan yang mendekatkan kepada hari kiamat.
Termasuk dari kasih-sayangnya Nabiyullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- kepada kkita adalah peringatan beliau untuk kita berhati-hati dari terjerumus kedalam segala bentuk fitnah.
Allah subhanahu wa ta'ala telah memperinngatkan kita dengan firman-Nya :
(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)
Berkata Ibnu katsir rahimahullah didalam mentafsiri ayat ini : (Ayat ini walaupun ditujukan kepada Shahabat akan tetapi dia itu umum untuk setiap muslim karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan dari segala bentuk fitnah).
Berkata pula Al- alusy didalam tafsirnya tentang ayat ini : (ditafsirkan fitnah didalam ayat : ( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )
dengan sikap bertoleransi didalam menyuruh yang baik dan melarang yang mungkar, ditafsirkan pula dengan perpecahan dan perselisihan serta tidak adanya pengingkaran terhadap bid'ah yang telah tampak dan lain sebagainya).
Beliau pun berkata : (Semua makna tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi).
Maksudnya apabila zaman itu zaman perpecahan atau perselisihan maka seharusnya sebagian kita memperingatkan sebagian yang lain dengan firman-Nya :
( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )
Maksudnya adalah takutlah perpecahan dan perselisihan yang akibatnya tidak hanya menimpa mereka yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya.
Oleh karena itulah kami pada kesempatan kali ini ingin mengingatkan tentang perkara ini, sebab kami melihat adanya kebangkitan islam yang lurus – dengan seizin Allah – di negeri ini (Saudi Arabia –pent-) yang tegak diatas tauhid dan seruan kepada peribadahan hanya kepada Allah saja pada masa ini, yang mana kita tidak melihat hal demikian itu kecuali yang hanya dikehendaki oleh Allah.
Maka wajib bagi kami untuk mengingatkan mereka dan diri kami semuanya untuk terus menuntut ilmu yang bermanfaat dan memegang teguh aqidah para Salafush sholeh aqidah ahli sunnah wal jama'ah.
Sesungguhnya kebangkitan yang mubarak ini adalah kebangkitan yang kita meng harap darinya tersebar agama Allah dan menjadikan manusia cinta terhadap syariat ini serta istiqomah diatasnya, kita menginginkan darinya agar dia tetap diatas ilmu yang bermanfaat, sebab pemuda-pemuda kita pada saat ini mereka sangat berantusias sekali terhadap ilmu yang bermanfaat serta terhadap perkataan ahli sunnah wal jama'ah.
Oleh sebab itu wajib bagi saya untuk menukilkan, mengingatkan serta menerangkan kepada mereka beberapa perkataan Imam-imam kita ahli sunnah wal jama'ah yang dibangun diatas hadits Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam serta diatas firman Allah subhana.
Sesungguhnya fitnah apabila tidak diperhatikan keadaan serta tidak dilihat akibatnya maka akan berakhir dengan kejelekan, hal ini jika ahli ilmu tidak memperhatikan perkara- perkara baru yang timbul atau fitnah yang tampak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.
Ketentuan-ketentuan (dhowabith) dan kaidah-kaidah haruslah diperhatikan, karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari kekeliruan. Jika kita mengambil ketentuan-ketentuan syariat serta kaidah-kaidah tersebut dan kita pegang teguh maka akan kita hasilkan banyak sekali kebaikan dan kita tak akan menyesal selamanya –insya Allah-.
Ketentuan (Dhabith) pada setiap perkara haruslah diketahui, sehingga mudah bagimu –wahai saudaraku- untuk menjaga diri dari terseret kedalam akibat yang buruk atau kamu tidak bisa mengetahui apa akibatnya nanti, kemaslahatan atau kerusakan.
Dari sinilah kita mengetahui bahwasannya harus kita memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan ahlu sunnah wal jama'ah.
Apakah yang dimaksud dengan dhobith (ketentuan) dan kaidah itu ?
Dhobith didalam suatu masalah itu adalah apa-apa yang dengannya kita mengetahui bagaimana menghukumi masalah-masalah disuatu bab dan kepadanyalah dikembalikan permasalahan-permasalahan di bab tersebut.
Adapun kaidah itu adalah perkara menyeluruh yang merujuk kepadanya masalah-masalah dibab-bab yang berbeda.
Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mengambil ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang dipakai Ahlu sunnah wal jama'ah.
Nabi shallallahu 'alahi wa sallam pernah bersabda : ( إنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا, فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ).
Artinya : Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian akan melihat perselisihan yang banyak maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa' rasyidin setelahku, pegang dan gigit dengan gigi-gigi geraham.( Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), dan Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah(43,44)
Sungguh para Shahabat telah melihat perselisihan tersebut dan tidaklah mereka itu selamat melainkan karena berpegang teguh dengan kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa' rasyidin setelahnya.

MANFAAT YANG BISA DIAMBIL DARI BERPEGANG DENGAN KETENTUAN-KETENTUAN DAN KAIDAH-KAIDAH INI.
PERTAMA :Bahwasanya memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut akan menjaga gambaran seorang muslim dari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat dan sekaligus memantapkan pikirannya tentang gambaran tersebut.
Telah dimaklumi bahwa seorang muslim apabila menghadapi suatu masalah tanpa dhobith dan kaidah akan terombang-ambing didalam perbuatannya terhadap diri, mau pun keluarganya, masyarakat serta umatnya.
Dari sinilah kita mengetahui pentingnya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah itu karena dia akan mengatur akal seorang muslim didalam gambaran-gambarannya yang merupakan sumber dari perbuatannya didalam diri, keluarga, ataupun masyarakatnya. KEDUSA
KEDUA : Kemudian didalam memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut ada manfaat yang lain yaitu dia akan menjaga seorang muslim dari kesalahan, karena kalau dia berjalan hanya berlandaskan diatas pendapatnya saja didalam menghadapi apa yang dia temui atau dalam menghadapi fitnah jika telah tampak dan mencari jalan keluar dengan mengandalkan akal pikirannya saja tanpa peduli dengan dhowabith serta kaidah-kaidah Ahli sunnah wal jama'ah maka dikhawatirkan akan terjerumus kedalam kesalahan dan jika itu terjadi maka akan berakibat fatal karena kesalahan ini akan bercabang dan berkembang dan mungkin juga bertambah.
Dhowabith dan kaidah-kaidah ini apabila kita berpegang teguh kepadanya akan kita dapati banyak sekali manfaatnya, sebab dia akan menjaga kita dari kesalahan.
Mengapa bisa demikian ?
Karena siapakah yang membuat dhowabith dan kaidah-kaidah tersebut ? Yang membuatnya adalah Ahlu sunnah wal jama'ah berdasarkan dalil-dalil.
Maka barangsiapa berjalan dibelakang dalil dan mengikuti ahlu sunnah wal jama'ah maka dia tidak akan menyesal selamanya.
KETIGA : Termasuk dari faedah mengikuti dhowabith serta kaidah-kaidah itu adalah bahwasannya dia akan menyelamatkan seorang muslim dari dosa, sebab jika dia berjalan hanya berlandaskan kepada akal pikirannya saja dan kamu juga seperti itu dan kamu sangka ini adalah benar tanpa peduli terhadap dhowabith serta kaidah-kaidah tersebut maka sesungguhnya kamu tidak akan bisa selamat dari dosa, karena kamu tidaklah tahu apa yang akan terjadi akibat dari perkataan serta perbuatanmu jika kamu berjalan hanya berlandaskan akal pikiran saja atau perasaanmu yang kau kira itu benar.
Adapun apabila kamu mengambil sesuai dengan apa-apa yang ditunjukkan oleh dalil dari dhowabith dan ushul yang global maka kamu akan selamat dari dosa - insya Allah – dan Allah azza wa jalla akan mengampunimu karena kamu berjalan sesuai dengan dalil dan sungguh baik orang yang mengambil dalil sebagai pedomannya.
Oleh karena itulah –wahai saudaraku- telah jelas bagi kita keharusan untuk meng ambil dhowabith serta kaidah-kaidah yang akan datang penjelasannya.
Dhowabith dan kaidah-kaidah ini sumber dan dalilnya adalah satu dari dua perkara yaitu :
PERTAMA : Nash bagi kaidah dan dhobith tersebut didalam dalil-dalil syar'i seperti didalam Al-qur'an dan sunnah serta diamalkan oleh ahlu sunnah wal jama'ah.
KEDUA : Sunnah yang diamalkan oleh para Shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena para Shahabat, Tabi'in setelah mereka serta para Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah mereka memiliki sikap dalam menghadapi fitnah apabila telah tampak dan didalam keadaan yang telah berubah, mereka mensikapinya sesuai dengan dalil-dalil, kemudian mempraktekkannya dalam perbuatan .
Oleh karena itulah penglihatan, akal pikiran kita tidak akan tersesat jika kita meng ikuti jejak mereka. Dan ini adalah rahmat Allah bagi kita yang mana Dia tidak meninggal kan kita tanpa sauri tauladan, dan ulama Ahlu sunnah wal jama'ah itulah yang harus kita jadikan pemahaman, pemikiran dan perkataan mereka sebagai rujukan karena merekalah yang lebih tahu tentang syari'at ini, serta merekalah yang lebih paham tentang kaidah-kaidah global serta dhowabith yang bisa menjaga kita dari kesalahan dan dari ketergelin ciran.
Dari sini telah jelas bagi kita kewajiban untuk mengambil kaidah-kaidah dan dhowa bith yang akan saya jelaskan dan telah jelas juga bagi kita manfaat dari mengambil kaidah-kaidah dan dhowabith itu serta pengaruhnya bagi diri dan masyarakat kita. Maka berun tunglah bagi mereka yang berjalan dibelakang orang yang mendapat petunjuk dan yang sesuai dengan dalil-dalil dan dia tidak akan menyesal untuk selama-lamanya.

DHOWABITH DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT YANG WAJIB DIIKUTI DIDALAM MENGHADAPI FITNAH
PERTAMA : Apabila fitnah telah muncul dan keadaan sudah berubah maka wajib bagi kita untuk bersikap lemah lembut, berhati-hati tidak tergesa-gesa serta santun.
Ini merupakan kaidah yang penting yaitu :
1. Lemah lembut, karena nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shohih : (Tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali akan baik sesuatu itu dan tidaklah dia dicabut dari sesuatu itu kecuali dia akan menjadi buruk).
Berkata Ahli ilmi : sabda beliau ini (tidaklah dia ada pada sesuatu kecuali dia akan
baik) kata (شيء / sesuatu) adalah umum, dia datang setelah konteks peniadaan, hal ini mengharuskan mencakup segala sesuatu, yaitu bahwasanya lemah lembut itu terpuji disegala keadaan.
Dan didalam hadits yang lain Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda : (Sesung
guhnya Allah mencintai lemah lembut disegala perkala) hal ini beliau katakan kepada 'Aisyah As-siddiqah binti As-siddiq dan Imam Bukhari memberikan salah satu judul didalam kitabnya ash-shohih ( bab lemah lembut disegala perkara ).
Maka wajib bagi kamu untuk berlemah lembut disegala perkara dan berhati – hati jangan cepat marah serta kasar, karena kamu tidak akan menyesal selamanya kalau kamu berlemah lembut, tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali sesuatu itu akan baik didalam pemikiran, didalam mensikapi, didalam menghukumi dan lain sebagai nya.
Wajib bagi kamu untuk bersikap lemah lembut jangan tergesa-gesa dan jangan bersama orang yang tergesa-gesa, akan tetapi berhati-hatilah dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shllallahu 'alahi wa sallam : (tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu melainkan sesuatu itu akan baik).Ambillah perkara yang baik dan jauhilah perkara yang buruk yaitu dengan dicabut nya sikap lemah lembut.
2. Berhati-hati, bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais : (Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang Allah dan Rasul-Nya mencintai keduanya yaitu santun dan berhati-hati).
Berhati-hati itu adalah perangai yang terpuji, oleh karena itulah Allah berfirman :
( و يدع الإنسان بالشر دعاءه بالخير و كان الإنسان عجولا ) Artinya : Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Surat Al-Isra' : 11)
Ahlu ilmi berkata : disini ada celaan bagi manusia yang mana mereka selalu tergesa-gesa, maka barang-siapa yang memiliki perangai seperti ini maka dia tercela, oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah tergesa-gesa.
3. Santun dalam menghadapi fitnah dan ketika terjadi suasana yang tidak menentu adalah suatu hal yang sangat terpuji, karena dengan santun itulah seorang akan dapat melihat setiap permasalahan dengan sebenarnya.
Diriwayatkan dalam shohih Muslim dari hadits Al-laits bin sa'ad dari Musa bin 'ali dari ayahnya bahwasanya Al-Mustaurid Al-Qurasy ada disisinya 'Amru bin Al-ash -radhiyallahu 'anhu-dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda : (pada waktu terjadinya kiamat Rum adalah orang yang terbanyak) berkata 'Amru bin Al-'ash kepada Al-Mustaurid : bagaimana menurutmu ? dia menjawab : mengapa aku tidak mengatakan apa-apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ? dia berkata : jika memang demikian maka sebabnya adalah karena Rum memiliki empat perangai :
1. Mereka orang yang paling bersabar ketika menghadapi fitnah
2. Mereka orang yang paling cepat sadar ketika ditimpa musibah
3. dst...
Dan beliau menyebutkan keempat-empatnya bahkan menambahnya sampai lima.
Berkata ahlu 'ilmi : perkataan ini adalah dari 'Amru bin Al-ash bukan untuk memuji orang -orang Romawi dan nashara yang kafir, tidak ! akan tetapi untuk menjelaskan kepada kaum muslimin bahwasannya keberadaan Rum dan banyaknya jumlah mereka sampai datangnya hari kiamat nanti itu disebabkan karena mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi fitnah dengan kesantunan yang mereka miliki itulah mereka dapat melihat setiap permasalahan sekaligus menyelesaikannya dengan baik sehingga mereka dan golongannya tidak binasa.
Dan inilah yang dikatakan oleh As-Sanusy dan Al-Ubby dalam syarahnya terhadap shohih muslim.
Disini terdapat peringatan halus, karena Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam mengabar kan bahwasannya tidak akan terjadi hari kiamat sampai Rum menjadi orang yang terbanyak, mengapa ?
Berkata 'Amru bin al- 'ash : karena mereka memiliki empat perangai diantaranya adalah bahwasanya mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi perubahan zaman dan ketika menghadapi fitnah, mereka santun, tidak tergesa-gesa dan tidak cepat marah untuk menyelamatkan teman-teman mereka dari pembunuhan ataupun fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa kalau fitnah itu muncul maka akan menimpa mereka, dengan perangai itulah mereka bertahan sampai hari kiamat dan menjadi orang yang terbanyak.
Sungguh sangat mengherankan jika kita tidak mengambil perangai ini, yang mana 'Amru bin al-'ash menyebut Rum karenanya dan mereka memiliki perangai yang terpuji tersebut. Sebetulnya kitalah yang lebih pantas dengan segala kebaikan daripada selain kita. Santun adalah sangat terpuji didalam segala hal karena dia akan menerangi pikiran orang yang berakal didalam menghadapi fitnah dan ini menunjukkan atas keberadaan akal pikirannya.
Ini adalah dhobith yang pertama serta kaidah yang awal yang selalu diperhatikan oleh Ahlu sunnah wal jama'ah ketika munculnya fitnah dan berubahnya zaman.
Dhowabith dan qawaid ini sebagiannya dhobit dan sebagian lagi kaidah aku (pengarang) menggabungkannya karena ada persamaan makna diantara keduannya.
KEDUA : Apabila fitnah telah tampak dan keadaan telah berubah janganlah kamu menghukumi terhadap sesuatu dari fitnah tersebut atau dari perubahan keadaan itu kecuali setelah mengetahui gambaran dari hal tersebut.Hal ini sesuai dengan qaidah :
( الحكم على شيء فرع عن تصوره )
( Menghukumi sesuatu itu merupakan cabang dari gambaran dari sesuatu itu )
Qaidah ini digunakan oleh orang yang berakal pikiran semuanya sebelum islam atau sesudahnya, dalilnya yang syar'i adalah firman Allah jalla wa'ala :
( و لا تقف ما ليس لك به علم )
Artinya : Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. ( Surat Al-Isra' : 36 )
Maksudnya adalah setiap perkara yang kamu tidak mengetahui, tidak memiliki gambaran serta tidak mempunyai bukti tentangnya maka jangan sekali-kali kamu berbicara tentang nya lebih-lebih kamu menjadi pelopor atau orang yang diikuti atau sebagai hakim atasnya.
( الحكم على شيء فرع عن تصوره )
Kaidah ini kalian mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan pada waktu
yang berbeda-beda. Akal pikiran selalu memperhatikan kaidah ini, tidaklah sesuatu
perbuatan itu akan baik tanpa memperhatikan kaidah ini, karena kalau tidak maka ia akan terjerumus pada kesalahan, syariat ini telah menekankan dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya akan kaidah ini.
Saya akan memberikan permisalahan tentang kaidah ini agar lebih jelas :
Contoh : jika aku bertanya kepada salah seorang diantara kalian dan aku berkata kepadanya apa hukum islam terhadap jual belih Al- murabahah ?
Mungkin salah seorang akan mengatakan : mencari untung adalah suatu hal yang dinginkan dan ini tidak ada larangannya dalam syariat maka tidak mengapa jual beli dengan al-murabahah.
Hukum orang tersebut terhadap masalah ini adalah salah karena dia tidak memiliki gambaran yang dimaksud dengan perkataan orang : apa hukum islam terhadap jual-beli dengan murabahah? Dia mengira bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah mencari keuntungan dalam berdagang, karena salah dalam menggambarkan masalah ini maka diapun salah dalam menghukuminya secara syar'i.
Hukum syariat haruslah dibangun diatas gambaran yang benar, murabahah adalah suatu bentuk jual beli yang dilarang yang banyak dipakai oleh beberapa bank yang menisbatkan kepada islam atau yang tidak, dengan menutupi riba didalamnya.
Gambarannya adalah dia dibangun atas dasar perwakilan kepada orang lain, setelah mewakilkan, disana ada keharusan untuk membayar atau menepati janji, dan janji yang dijanjikan oleh orang yang mewakilkan ini kepada wakilnya mengharuskan dia untuk menepatinya.Ini tidak diperbolehkan dalam syariat, maka jual beli dengan murabahah ini dilarang.
Contoh lain yang menjelaskan kaidah " Menghukumi sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu " jika aku bertanya kepada seseorang diantara kalian apa hukum kita terhadap kelompok syuhudu yahwa[1] ? apa yang akan dikatakan oleh seorang diantara kalian?
Jika dia tahu mungkin dia akan menjawab dia adalah kelompok begini dan begitu dan hukum islam terhadapnya adalah begini atau begitu. Atau juga dia mungkin berkata aku tidak tahu kelompok ini ! aku tidak pernah mendengarnya sebelum ini, dari sini kamu tidak bisa menghukumi kelompok tersebut.
Dan juga kamu tidak bisa menjelaskan hukum syariat atasnya karena kamu tidak memiliki gambaran tentang kelompok ini, siapakah mereka ? apa undang-undang dasar mereka ? apakah dia itu islamiyah atau nashraniyah atau yahudiyah ? kamu tidak bisa menghukumi nya kecuali setelah tahu gambarannya.
Jika hal ini telah jelas bagi kamu maka seorang hakim atau pemberi fatwa atau pembicara didalam masalah syariat dilarang untuk berbicara – dalam rangka untuk menja ga diri mereka dari dosa dan hak-hak kaum muslimin serta untuk berlepas diri dari berka ta kepada Allah tanpa ilmu - kecuali kalau memiliki dua perkara :
Pertama : Dia harus memiliki gambaran yang benar tentang perkara yang diajukan tidak tersamarkan dengan perkara yang lain, karena kadang kala beberapa perkara itu ada persamaannya dan gambaran dari permasalahan itu ada keserupaan dengan permasalahan yang lain maka pikiranmu akan berpindah kepermasalahan yang lain yang serupa dengannya, pada saat itulah kamu akan terjerumus pada kesalahan.
Kedua : Mengetahui hukum Allah dan hukum Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam terhadap permasalahan yang dihadapi bukan pada permasalahan yang serupa dengannya.
Apabila hal ini telah jelas, timbullah suatu pertanyaan yang penting, mungkin seorang dari kalian bertanya : bagaimana timbul penggambaran ini didalam diriku ?
Bagaimana aku menggambarkan permasalahan ini ? dari siapakah aku bisa menggambar kannya ? karena permasalahan- permasalahan ini ada persamaan dan keserupaannya, sebagiannya bermasalah dan sebagian lagi mungkin tidak didapati orang yang bisa menjelaskan atau yang menggambarkannya dengan gambaran yang benar.
Kami katakan : penggambaran yang dibangun diatasnya hukum syar'i itu adalah :
1.Dari orang yang meminta fatwa, sebab orang tersebutlah yang menghadapi masalah tersebut, jika dia bertanya atau menjelaskan masalah itu, akan timbullah gambaran darinya, maka pemberi fatwa akan menjelaskan hukumnya sesuai dengan keterangan dari penanya.
2.Gambaran tersebut diambil dari orang yang adil (yang baligh, berakal dan bukan fasik – pent) terpercaya dari kaum muslimin yang mana mereka ini dalam memberi kabar tidak keliru sehingga menyebabkan salah dalam menghukumi. Haruslah dari orang yang adil terpercaya dalam masalah ini.
Ketika terjadi fitnah dan kekacauan tidaklah boleh kita berpegang kepada perkataan orang kafir yang menjelaskan gambarannya atau menyebutkan jalan keluar dari masalah itu dalam siaran berita atau majalah atau yang lainnya. Ini tidak diperbolehkan secara syariat yaitu membangun suatu hukum syariat berdasarkan pemberitaan mereka, tapi hukum syariat haruslah berdasarkan kabar dari orang muslim yang adil dan terpercaya.
Hadits-hadits Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah diterima kecuali kalau datang dari jalan orang-orang yang adil, kuat hafalannya dari awal sampai akhir, apabila datang dari orang fasik maka dia ini tidak memiliki muru'ah dan jika datang dari orang yang tidak kuat hafalannya mungkin dia akan mencampur adukkan antara satu dengan yang lainnya dan ini tidak diterima serta tidak dibangun hukum syar'i diatasnya.Oleh karena itulah kita harus memperhatikan masalah ini.
Kesimpulannya : sesungguhnya kaidah ini (menghukumi sesuatu merupakan cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu) pondasinya adalah penggambaran dan hal ini tidaklah akan benar secara syariat kecuali kalau datang dari seorang muslim yang adil terpercaya atau dari seorang penanya walaupun dia fasik.
KETIGA : Seorang muslim haruslah berpegang teguh dengan keadilan disetiap perkara.
Allah jalla wa 'ala berfirman : ) (وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذاقربى
Artinya : Apabila kamu berbicara maka berbuatlah yang adil walaupun kepada kerabat dekatmu . ( Surat Al-An'am : 152 )
Dan Dia berfirman : ( و لا يجرمنكم شنا ن قوم على أن لا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى )
Artinya : Dan janganlah kebenciannmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak berbuat adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat kepada taqwa.( Surat Al-Maidah : 8 )
Sebetulnya masalah ini sudah dijelaskan dengan jelas sekali yaitu seorang haruslah berbuat adil dalam perkataan, dalam menghukumi.Barangsiapa yang tidak berbuat adil dalam berkata atau dalam menghukumi maka dia tidaklah mengikuti syariat ini yang diharapkan keselamatan bersamanya.
Apakah makna adil dalam kaidah ini ?
Maknanya adalah kamu mendatangkan perkara yang baik-baik dan perkara yang jelek, kamu datangkan sisi yang kamu sukai dan yang tidak kamu sukai[2] kemudian kamu timbang keduanya dalam timbangan yang satu, setelah itu kamu menghukuminya. Karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari menisbatkan kepada syariat atau kepada Allah jalla wa 'ala atau kepada sunnah alam ini apa-apa yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan Allah jalla wa 'ala.
Menimbang antara yang baik dan buruk merupakan suatu keharusan, menampakkan keduanya didalam pikiran sampai mendapatkan suatu hasil yang syar'i, sehingga gambaran, perkataan, pemahaman, serta pendapatmu didalam fitnah menjadi penyelamat insya Allah ta'ala.
Ini adalah perkara yang penting dan sekaligus merupakan kaidah yang harus selalu diperhatikan karena barangsiapa yang tidak peduli dengannya maka dia akan terpengaruh oleh hawa nafsunya dan akan menular kepada yang lain yang akhirnya termasuk dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
( ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة )
Artinya : Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek maka dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam shohihnya dalam kitab zakat, Ahmad dalam musnadnya 4/357, 362 dan Ibnu Majah dalam sunannya 1/74/203-207)
Dan musibah itu akan menjadi lebih besar lagi jika yang melakukan adalah orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan dakwah, karena orang bodoh serta orang yang ilmunya masih setengah-setengah akan mencontohnya .
Oleh karena itulah kita harus memperhatikan kaidah ini didalam setiap permasa lahan, barangsiapa yang terbebaskan dari hawa nafsu maka Allah akan menyelamat kan dirinya diakhirat kelak .
KEEMPAT : Firman Allah jalla wa 'ala : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا )
Artinya : Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah . ( Surat Ali ' imron : 103 )
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ayat ini dengan sabdanya :
( عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة )
Artinya : Bersatulah kalian dan jauhilah perpecahan.(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunannya kitabul fitan (7) dan Ahmad dalam Musnadnya (50,370,371) ).
Dan telah tetap juga didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad di zawaid musnad ayahnya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Bersabda : ( الجماعة رحمة والفرقة عذاب )
Artinya : Bersatu itu rahmat dan berpecah belah itu adzab.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4,278 dan 370).
Berpecah belah dengan segala bentuknya - baik dalam pemikiran, perkataan, per buatan merupakan adzab yang Allah timpakan bagi yang menyelisihi perintah-Nya &dia mencari pentunjuk selain tunjuk-Nya.
Oleh karena itulah barangsiapa yang berpegang dengan jama'ah Ahli sunnah wal jama'ah dan menelusuri jejak para Imam dan ulama' mereka maka dia telah berpegang dengan jama'ah/persatuan. Dan barang siapa yang menyelisihi mereka maka dia akan terjerumus kedalam perpecahan dan adzab yang Allah timpakan kepadanya didunia ini. Kita minta kepada Allah jalla wa 'ala untuk menyelamatkan kita dan saudara-saudara kita dari semua hal itu.
Oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
( الجماعة رحمة والفرقة عذاب )
Persatuan dengan segala bentuk macam dan sifatnya jika dilandasi oleh petunjuk dan kebenaran maka dia akan membawa rahmat yang Allah merahmati hamba-hamba -Nya dengannya.
Adapun perpecahan dia akan menyebabkan azdab dan tidak ada kebaikan didalamnya selama-lamanya.
Oleh sebab itulah setelah Allah berfirman : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا )
Allah berfirman pada ayat setelahnya : ( ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون )
Artinya : Dan hendaklah ada sekelompok diantara kalian yang menyuruh kepada
kebaikan beramar ma'ruf dan melarang yang mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung. ( Surat Ali-'Imron : 104 )
Kemudian Allah berfirman : ( ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات
وأولئك لهم عذاب عظيم )
Artinya :Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.( Surat Ali-'Imron : 105 )
Memang orang-orang yang berpecah-belah, baik dalam perkataan maupun perbuatan setelah datangnya keterangan dan petunjuk mereka selalu terancam oleh kesesa tan, perselisihan dan tidak akan mendapat petunjuk.
Oleh karena itulah kita harus selalu mengikuti jalannya Ahli sunnah wal jama'ah kita mengikuti perkataan mereka, jangan sampai kita keluar dari kaidah-kaidah atau dhowabith serta ijma' ulama mereka, sebab mereka (ulama ahli sunnah wal jama'ah-pent ) mengetahui dari ushul/pokok-pokok ahli sunnah wal jama'ah dan dari dalil-dalil syariat apa-apa yang tidak diketahui kebanyakan orang atau yang menisbatkan diri mereka kepada ilmu, karena mereka memiliki ilmu yang kokoh, penglihatan yang tepat serta dasar ilmu yang sangat kuat.
Lihatlah apa yang dilakukan Abdullah bin Mas'ud rodhiyallah 'anhu ketika menjalankan ibadah haji bersama 'Utsman bin 'Affan rodhiyallahu 'anhu ?
Dahulu 'Utsman menyempurnakan shalat diMina empat raka'at padahal menurut sunnah adalah dua raka'at dengan mengqashar shalat yang empat raka'at.'Utsman berpendapat shalat tersebut sebaiknya dikerjakan dua raka'at karena beliau memiliki alasan yang syar'i sedangkan Abdullah bin Mas'ud berkata: sunnahnya Nabi itu ialah dikerjakan shalat diMina dua raka'at bukan empat, kemudian beliau ditanya : wahai Abdullah bin Mas'ud anda mengatakan seperti itu sedangkan anda masih tetap shalat bersama 'Utsman bin'Affan empat raka'at, mengapa bisa demikian ? beliau berkata : wahai saudaraku ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ……… diriwayatkan Abu dawud dengan isnad yang kuat.
Hal ini dikarenakan pemahaman mereka terhadap kaidah yang benar, kaidah yang barang siapa tidak mengikutinya maka dia tidak akan bisa selamat dari fitnah dan juga orang lain. Abdullah bin mas'ud berkata : BERSELISIH ITU JELEK.[3]
KELIMA : Bendera-bendera yang dikibarkan pada saat fitnah baik itu bendera negara atau bendera para da'i haruslah bagi seorang muslim untuk menimbangnya dengan timbangan yang syar'i timbangan ahli sunnah wal jama'ah yang mana barang siapa menimbang dengannya pasti timbangannya akan adil tidak akan salah. Seperti yang Allah firmankan tentang timbangannya :
( ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا )
Artinya : Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada hari kiamat,maka tiada dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Surat Al- Anbiya': 47)
Demikianlah ahlu sunnah wal jama'ah memiliki timbangan-timbangan yang adil,mereka menimbang segala perkara dengannya baik itu pemikiran-pemikiran atau keadaan-keadaan. Mereka menimbang dengannya bendera-bendera yang berbeda ketika terjadi perbedaan keadaan.Timbangan-timbangan itu terbagi menurut mereka – sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam-imam dakwak kita Imam ahli sunnah wal jama'ah – menjadi dua bagian :
1.Timbangan yang digunakan untuk membedakan antara islam atau bukan.
Bendera-bendera yang dikibarkan dan dinisbatkan kepada islam banyak sekali maka dia harus ditimbang, jika dia bendera islam maka disana ada hukum-hukum syariat yang harus diperhatikan sebagai jawaban atas perintah Allah dan Nabi shallahu alaihi wa sallam .
2.Timbangan yang digunakan untuk menjelaskan kesempurnaan islam dengan ketiadaannya dan keistiqamahan diatas islam atau ketidakadanya keistiqamahan. Maka yang pertama itu hasilnya adalah kekafiran atau islam, Apakah dia itu bendera islam atau bukan ?
Dan yang kedua hasilnya adalah apakah bendera itu tegak diatas petunjuk seperti yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya ? apakah dia mempunyai kekurangan dalam hal ini ? Apabila hal ini sudah jelas maka disitu akan didapatkan hukum-hukum syari'at . Adapun timbangan pertama yang membedakan antara keimanan dan kekafiran
ada tiga :
Pertama : Kamu lihat apakah disana ada penyerahan ibadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu baginya atau tidak ? karena pokok agama para Nabi dan Rasul adalah menyeru agar hanya Allah saja yang diibadahi tidak yang lain-Nya .
Mengesakan Allah dalam beribadah (Tauhid) adalah pondasi segala sesuatu dialah yang pertama dan terakhir. Barangsiapa yang mengibarkan bendera tauhid dan meng ikrarkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan tidak mengakui peribadahan kepada selain-Nya maka timbangan ini membuktikkan bahwa dia adalah muslim, dan bendera tersebut bendera islam dengan ditambah dengan dua timbangan yang kalian akan mendengarnya dengan seizin Allah.
Timbangan pertama, kita lihat apakah yang mengangkat bendera islam itu bertauhid atau tidak ? apakah disana ada penyembahan kepada selain Allah jalla wa 'ala atau apakah tidak ada dibawah naungan bendera tersebut kecuali hanya Allah yang diibidahi tidak yang lain-Nya dan hati-hati ini hanya bermunajat kepada-Nya saja atau tidak ?
Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت )
Artinya : Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan agar mereka menyembah Allah saja dan menjauhi thoghut (semua sesembahan selain Allah dan dia ridho untuk disembah). (Surat An-nahl : 36)
Dan Allah berfirman : ( الذين إن مكناهم في الأرض أقاموا الصلاة و اتوا الزكاة
وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور ) Artinya : Yaitu orang-orang yang apabila kami mengokohkannya dimuka bumi ini mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta menyuruh yang baik dan melarang yang munkar dan milik Allahlah segala akibat segala sesuatu itu.
Sebagian ahli tafsir berkata tentang ( امروا بالمعروف ) yaitu menyuruh kepada tauhid dan melarang dari yang munkar yaitu dari kesyirikan, karena sebaik-baiknya yang baik adalah tauhid dan sejelek-jeleknya kemungkaran adalah syirik, ini adalah timbangan yang pertama.
Kedua : Kamu melihat perwujudan syahadat Muhammad adalah utusan Allah.
Kalimat syahadat ini diantara konsekwensinya adalah berhukum dengan syari'at yang dibawa oleh Mushthofa shallallahu alaihi wa sallam.
Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( فلا وربك لا يؤ منون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما ) Artinya : Demi Rabmu tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim didalam apa-apa yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan didalam diri mereka kesempitan dari apa-apa yang kamu putuskan dan mereka menyerah dengan penuh ketundukan. (Surat An-Nisa' :65)
Allah juga berfirman : ( أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون )
Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, siapakah yang lebih baik
hukumnya dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.(Surat Al-Maidah:50)
Allah juga berfirman : ( و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )
Artinya : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang kafir. (Surat Al-Maidah : 44)
Apabila kamu telah melihat suatu bendera yang dikibarkan pemiliknya berhukum dengan syari'at Allah dan menjadikan syari'at ini sebagai pemutus perkara-perkara manusia – apabila mereka berselisih siapakah yang menghukumi diantara mereka ? menghukumi diantara mereka seorang hakim yang syar'i. Ketika itulah kamu mengetahui bahwa bendera tersebut bendera islam karena dia menuntut pengi kutnya untuk berhukum dengan syari'at Allah jalla wa'ala dan mereka mendirikan
pengadilan syar'i yang berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah serta tidak mengharuskan seorangpun untuk berhukum dengan selain hukum Allah atau untuk ridho dengan hukum selain hukum Allah dan Rasul-Nya .
Timbangan ketiga : Kamu lihat apakah disana ada penghalalan terhadap apa-apa yang diharamkan Allah ? atau apakah masih ada kebencian, pengingkaran dan kema rahan jika hal-hal yang diharamkan itu dilakukan ?
Karena hal yang diharamkan secara ijma' jika dia telah tampak, pasti ada dua keadaan : 1. Dia dihalalkan dan ini merupakan kekafiran wal 'iyadzu billah.
2. Dia tidak dihalalkan akan tetapi hanya dilakukan dengan masih menyakini kemungkarannya dan bahwasannya dia itu haram, dari sini kamu mengetahui bahwa itu adalah bendera islam yang syar'i. Ini adalah tiga timbangan yang telah dijelaskan oleh para Imam-imam kita rahimahumullah. Dan itu masih bagian yang pertama.
Adapun bagian yang kedua yang mana dari sinilah kita mengetahui kesempurnaan islam dari ketidaksempurnaanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil islam itu secara keseluruhan sebagaimana yang diturunkan dari sisi Allah jalla wa'ala dan beliau merupakan suri tauladan yang baik demikian juga para Khulafa' rasyidin ridhwanullah 'alaihim akan tetapi semakin lama semakin berkurang perwujudan kesempurnaan islam ini pada saat sekarang, (Dan tidaklah datang kepada manusia suatu zaman melainkan yang setelahnya itu lebih jelek dari yang sebelumnya sampai kamu bertemu dengan Rabmu) sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Timbangan ini kamu lihat didalamnya keberadaan perkara-perkara syari'at ? bagaimana masalah sholat ? bagaimana larangan terhadap kemungkaran-kemung karan? bagaimana amar ma'ruf dan nahi'anil munkar yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban serta yang berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan ? apabila hal tersebut telah dilaksanakan secara menyeluruh maka ini menunjukkan tentang kesempurnaannya dan apabila tidak, maka hal ini menunjukkan akan kekurangan yang ada padanya sesuai dengan keadaan tersebut.
Ini semua merupakan timbangan-timbangan yang penting yang harus ada dalam hatimu dan akal pikiranmu, jangan sampai dia hilang selamanya agar kamu tidak tersesat ketika terjadinya kesesatan dan tidak tersamarkan masalah-masalah yang ada saat terjadinya kekaburan.
Apabila hal ini telah jelas bagi kamu dan kamu telah bisa membedakan antara bendera islam dengan selainnya maka wajib bagi kalian menurut syari'at untuk kalian berwala' (mencintai serta menolong) bendera islam tersebut didalam kebenaran dan petunjuk karena Allah jalla wa'ala menyuruh untuk berwala' kepada orang-orang beriman dan menyarankan agar berpegang teguh dengan ajaran Allah serta jangan sampai berpecah belah. (Hal-hal yang perlu diperhatikan –pent):
1. Haruslah kecintaan kalian terhadap bendera islam tersebut benar-benar murni tidak ada penyelewengan, kekaburan serta keraguan karena tidak ada pilihan kecuali islam atau kekafiran. Jika telah jelas keislamannya maka tersusun darinya hukum-hukum syari'at dan tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menjadikan suatu kemaksiatan sebagai sebab untuk tidak berpegang teguh dengan hal-hal yang diperin tahkan Allah jalla wa'ala dan Rasul-Nya dari berwala' kepada orang-orang beriman dan yang berperang dijalan Allah.
2. Nasehatilah pemegang bendera tersebut dengan nasehat yang Allah mengetahui itu dari lubuk hatimu. Ahlu sunnah wal jama'ah – yang mereka selalu menyelisihi ahli bid'ah pecinta perpecahan – mereka selalu menasihati pemimpin-pemimpin serta memperbanyak doa untuk mereka walaupun mereka melihat hal-hal yang tidak disukai (dari pemimpin-pemimpi tersebut – pent) mereka lakukan hal tersebut dari lubuk hati, mereka tidak mengharapkan balasan atau kata terima kasih kecuali dari sisi Allah jalla wa'ala tidak dari yang lain, kalau hal ini kita lakukan dengan hati yang tulus maka kita memang benar-benar termasuk ahlu sunnah wal jama'ah.
Bacalah kitab-kitab aqidah ahli sunnah wal jama'ah kalian akan melihat didalam nya bab-bab khusus tentang hak-hak para pemimpin dari rakyatnya dan hak-hak rakyat dari pemimpinnya karena dengan inilah tercipta persatuan diatas sunnah dan jama'ah.
Dan inilah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menasehati para pemimpin kaum muslimin dan masyarakatnya didalam sabda beliau : (Agama itu nasehat) apabila telah tetap bahwa nasehat itu wajib maka haruslah bagi seorang muslim untuk menasehati, kemudian bagaimanakah cara menasehati itu ? dan bagaimanakah cara menerangkan ? yang sesuai dengan sunnah bukan dari diri kita sendiri.
Telah tetap dari hadits shohih bahwasannya 'Iyadh bin Ghonam berkata kepada Hisyam bin Hakim rodhiyallahu 'anhuma : Apakah kamu tidak mendengar sabda Na bi shallallahu 'alaihi wa sallam : ( من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبد علانية و لكن ليأخذ بيده ثم ليخل به فإن قبل منه فذاك وإلا فإنه قد أدى الذي عليه ) Artinya : Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah, jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan dan jika tidak maka telah gugur kewajiban .( diriwayatkan oleh Ibnu abi 'ashim dalam " As-sunnah "dan selainnya serta dishohikan oleh Al-albani.)
Dengarkanlah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, kalian adalah orang-orang yang bersemangat menjalankan sunnah seperti ahlu sunnah wal jama'ah.
Jika dengan timbangan-timbangan itu dapat dibedakan antara bendera islam dengan selainnya maka hal ini menuntut adanya hak-hak syari'at pada bendera terse but hal ini jika memang terbukti bahwa dia itu diatas islam bukan diatas kekafiran. Dan ini termasuk hal penting yang akan nampak fungsinya ketika terjadi perubahan keadaan dan munculnya fitnah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : (Barangsiapa yang ingin menase hati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah dengannya jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan jika tidak maka telah gugur kewajiban).
Dan inilah yang menjadikan kita tenang serta menjadikan kita mengikuti apa yang disabdakan Mushthofa shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila kita mengambil yang demikian itu maka kita akan selamat biidznillah, dan jika tidak maka akan menimpa kita penyelewengan dan penyimpangan dari jalannya ahli sunnah wal jama'ah sesuai dengan kadar penyimpangan itu.
Timbangan – timbangan tadi jika tersamarkan oleh seorang muslim atau penuntut ilmu maka sebagai rujukan adalah para 'ulama sebab merekalah yang bisa menimbang dengan timbangan yang tepat merekalah yang dapat meluruskan dengan baik serta merekalah yang berhukum dengan hukum syari'at yang betul.
Oleh sebab itu menghukumi adanya keislaman dengan ketidakadanya atau adanya keimanan atau kekafiran tempat rujukannya adalah para 'ulama ahli sunnah wal jama'ah bukan yang lainnya dari kalangan orang-orang baru belajar yang kadangkala mereka mengetahui sebagian dan bodoh terhadap sebagian yang lain atau mereka memperluas apa-apa yang tidak boleh untuk diperluas.
Maka rujukan bagi mereka yang belum bisa menimbang dengan timbangan yang benar adalah para 'ulama, wajib bagi kita untuk mengambil perkataan mereka, metode serta jalan mereka dalam membedakan antara keimanan dengan kekafiran, dan menimbang dengan timbangan yang telah kami sebutkan kepada kalian .
Sebagai tuntutan dari hasil timbangan-timbangan itu sebagaimana yang disepakati oleh ahlu sunnah wal jama'ah yaitu bahwasannya jihad itu dilakukan bersama setiap imam atau pemimpin yang baik maupun yang fasik, tidak boleh bagi seorangpun untuk tidak mengikutinya dengan alasan bahwa pemimpinnya mempunyai penyim pangan terhadap syari'at pada suatu waktu .
Dhobith ini haruslah kita pegangi setiap saat, mungkin pada waktu yang akan datang terjadi sesuatu apa-apa yang kita tidak mengetahuinya sehingga kita memiliki pedoman dan timbangan yang bisa digunakan untuk menimbang keadaan atau pemikiran kita. Diantara hak-hak tersebut adalah mendoakan bagi siapa saja yang Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin kita.
Berkata Al-Barbahari rahimahullah penolong sunnah, Imam dari Imam-imamnya Ahli sunnah wal jama'ah didalam kitabnya " As-sunnah " dan buku ini telah dicetak.Beliau berkata : Apabila kamu melihat seseorang berdoa untuk pemimpinnya ketahuilah bahwa dia adalah pemegang sunnah dan jika kamu melihat orang berdoa (dengan doa yang jelek) kepada pemimpinnya maka ketahuilah dia adalah ahli bid'ah.
Al-Fudhail bin 'Iyadh dahulu sering memperbanyak doa untuk pemimpin pada waktunya..Padahal kita mengetahui bagaimana para pemimpin bani Al-abbas pada saat itu, ketika ditanya : Kamu lebih banyak mendoakan mereka daripada untuk dirimu sendiri ? beliau menjawab : ya, karena jika aku baik maka kebaikan ini hanya untuk diriku sendiri dan orang disekitarku, adapun kalau seorang Imam itu baik maka ini untuk kaum muslimin semuanya.
Maka barang siapa yang menginginkan kebaikan yang merata bagi kaum muslimin Allahlah yang mengetahui dari hatinya bahwa dia benar-benar berdo'a dengan ikhlas untuk kebaikan pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan agar mereka diberi petunjuk untuk bisa mengamalkan Al-qur'an dan sunnahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena kita tidaklah berharap dan tamak lebih banyak daripada untuk mendapatkan petunjuk serta beramal dengan Al-qur'an dan As-sunnah. Hati-hati ini ada ditangan Allah Dialah yang membolak-balikkannya.
KEENAM : Sesungguhnya perkataan dan perbuatan ditengah-tengah fitnah memiliki dhowabith tidak semua perkataan yang tampaknya baik bagimu kamu mengucapkannya dan tidak semua perbuatan yang kelihatannya bagus kamu kerjakan karena perkataan dan perbuatanmu pada waktu fitnah dapat menyebabkan banyak hal.
Maka tidak heran apabila kita mendengar Abu Hurairah rodhiyallah 'anhu berkata : (Aku menghafal dari Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam dua perkara yang pertama telah aku sebarkan adapun yang lainnya seandainya aku sebarkan maka
akan terpotong tenggorokan ini ) diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya.
Berkata ahlu ilmi : perkataan Abi Hurairah " akan terpotong tenggorokan ini " maksudnya adalah dia menyembunyikan hadits-hadits tentang fitnah dan hadits-hadits tentang bani Umayyah dll dan beliau berkata demikian pada zamannya Mu'awiyah rodhiyallahu 'anhu yang mana manusia bersatu padanya setelah perpecahan dan peperangan, kamu mengetahui apa yang terjadi pada waktu itu dan sejarah nya, Abu Hurairah menyembunyikan beberapa hadits ; kenapa demikian padahal itu adalah hadits-hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam ? bukan tentang hukum -hukum syari'at akan tetapi yang lainnya, mengapa beliau menyembunyikannya ? beliau berbuat demikian agar jangan sampai manusia terfitnah. Sesungguhnya hadits itu betul dan tidak diperbolehkan untuk menyembunyikan ilmu, mengapa bisa demikian ? karena menyembunyikan hal tersebut pada waktu itu adalah suatu keharus an agar manusia tidak terpecah belah setelah bersatu pada tahun jama'ah (persatuan) bersama Mu'awiyah bin Abi sufyan rodhiyallahu 'anhu.
Berkata Ibnu Mas'ud sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya : (Tidaklah kamu berbicara kepada suatu kaum dengan perkataan yang tidak difahami oleh akal mereka kecuali hal ini akan menimbulkan fitnah pada sebagian mereka).
Manusia tidak semuanya mengerti apa yang dikatakan oleh sipembicara tentang setiap perkara dalam fitnah, kadang kala mereka mendengar banyak hal yang tidak difahami oleh akal mereka kalaulah mereka faham mereka akan menjadikannya keyakinan, perbuatan dan perkataan yang akibatnya tidak baik.
Oleh karena itulah para pendahulu (salaf ) banyak melakukan hal ini.
Lihatlah Hasan Al-bashri rahimahullah ta'ala ketika mengingkari Anas bin malik rodhiyallah 'anhu saat berbicara dengan Hajjaj bin Yusuf tentang perangnya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dengan Al-'Uraniyyin ; beliau berbuat demikian karena Hajjaj bin Yusuf senang menumpahkan darah, dan dia akan menta'wil hadits tersebut untuk membenarkan perbuatannya maka yang wajib dilakukan adalah menyembunyi kan hadits dan ilmu tersebut dari Hajjaj agar jangan sampai dia salah dalam memaha minya bahwa hadits itu menguatkannya.
Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingkari perkataan Anas bin Malik rodhiyallah 'anhu seorang shahabat dan Anas rodhiyallahu 'anhu menyesal setelah menceritakan hadits Al- 'Uraniyyin kepada Al-Hajjaj.
Sebelum Anas bin Malik Hudzaifah menyembunyikan hadits-hadits fitan karena dia melihat manusia tidak membutuhkannya, Imam Ahmad juga tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits tentang keluar dari pemimpin dan beliau memerintahkan untuk dihilangkan hal-hal tersebut dari (Musnadnya) karena beliau pernah berkata : (Tidak ada kebaikan dalam fitnah dan tidak ada kebaikan untuk keluar daripemimpin).
Demikian juga Abu Yusuf tidak suka meriwayatkan hadits-hadits yang aneh-aneh.
Imam Malik rahimahullahu tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits yang didalamnya disebutkan sifat –sifat.
Tujuan dari semua itu adalah karena pada waktu fitnah tidak semua yang diketahui dikatakan dan tidak semua yang dikatakan itu dikatakan setiap saat.
Haruslah perkataan itu memiliki dhowabith karena kamu tidak tahu akibat dari apa yang kamu katakan ? dan apa yang terjadi dari pendapatmu itu ? serta apa akibat dari pemahamanmu ?
Para salaf rahimahumullah lebih menyukai keselamatan pada waktu fitnah, mereka diam dalam banyak hal dalam rangka mencari keselamatan untuk agama mereka, Agar mereka menemui Allah jalla wa 'ala dalam keadaan selamat.
Dan telah tetap dari Sa'ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu 'anhu bahwasannya dia berkata kepada anaknya ketika berbicara tentang keikutsertaan pada beberapa perkara dalam fitnah beliau berkata kepada anaknya : wahai anakku ? apakah kamu ingin aku menjadi pelopor dalam fitnah ? dia menjawab : tidak, demi Allah aku tidak ingin hal itu.
Sa'ad bin Abi Waqqash melarang anaknya untuk dia atau anaknya menjadi pelopor dalam fitnah walaupun dengan perkataan atau perbuatan dan dianggapnya benar, karena dia takut akan akibat buruk darinya.
Manusia haruslah menimbang segala perkara dengan timbangan yang syar'i dan benar agar selamat dan tidak terjerumus kedalam kesalahan.
Kemudian perkataan, perbuatan atau tingkah laku itu mempunyai dhowabith yang harus diperhatikan, tidak semua perbuatan yang terpuji itu baik dilakukan dalam keadaan fitnah apabila hal itu akan disalah pahami.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shohihnya beliau berkata kepada 'Aisyah ( لولا حد ثان قومك بكفر لهدمت الكعبة ولبنيتها على قواعد إبرا هيم و لجعلت لها بابين )
Artinya : Seandainya bukan karena dekatnya kaummu dengan kekafiran aku akan merobohkan ka'bah dan akan kubangun diatas pondasi Ibrahim serta kujadikan untuknya dua pintu.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam takut kalau orang-orang kafir quraisy yang baru memeluk islam salah paham mengenai perobohan ka'bah dan pembangunannya diatas pondasi Ibrahim serta dijadikan untuknya dua pintu, pintu masuk dan keluarnya manusia. Beliau takut kalau mereka mengangap itu hanya sekedar untuk pamer atau untuk menghina agama mereka agamanya Nabi Ibrahim atau yang lainnya maka Nabi meninggalkan pembangunan tersebut.
Oleh karena itu Bukhari membuat suatu bab yang bagus berdalil dengan hadits tadi, apa yang beliau katakan ? beliau berkata : bab : Meninggalkan suatu perbuatan karena takut manusia salah memahaminya sehingga mereka terjatuh pada hal-hal yang lebih berbahaya dari hal tersebut.
Bukhari menyebutkan hadits diatas dalam kandungan bab ini.
Dari sinilah kita mengetahui harusnya memakai akal dan pemahaman, adapun tergesa-gesa dan sembrono itu tidaklah terpuji, siapakah yang mengharuskan kamu untuk berbicara disetiap majlis atau pertemuan dengan apa-apa yang kamu anggap itu benar dalam mengahadapi fitnah ?
Kebenaran itu telah dijelaskan oleh 'ulama ahli sunnah wal jama'ah, jika kamu memiliki pendapat atau suatu pemahaman maka tanyakannlah kepada mereka jika mereka menerimanya maka itulah dan jika tidak, maka telah lepas tanggungjawabmu untuk kamu memberi tahu kaum muslimin tentang pendapatmu itu.
KETUJUH : Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mencintai dan meno long orang-orang beriman khususnya para 'ulama. Orang-orang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah jalla wa'ala : ( بعضهم أولياء بعض )
Artinya : Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.(Surat At-taubah:71)
Setiap mu'min wajib dan harus untuk mencintai orang-orang yang beriman, menolong serta menjauhkan mereka dari celaan, lebih-lebih kalau mereka itu penolong syari'at Allah yang menjelaskan kepada manusia mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan mana yang salah ?!
Diharamkan untuk kita menyebutkan para 'ulama kecuali dengan kebaikan.
Majlis yang disebutkan didalamnya para ulama bukan dengan kebaikan adalah majlis yang jelek. Mengapa bisa demikian ? karena para'ulama adalah pewaris para nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu, barang-siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.
Barangsiapa yang menghormati dan memuliakan para 'ulama serta mengambil perkataan 'ulama ahli sunnah wal jama'ah – pemegang tauhid – maka dia telah mengambil warisannya Nabi dan tidak meningalkan warisan kenabian itu pada selainnya.'Ulama yang dijadikan sebagai rujukan dan yang harus dicintai dan ditolong ciri-cirinya adalah :
1. Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah pada waktunya, para imam tauhid dan perkataan mereka dijadikan rujukan dalam masalah tauhid.
2. Mereka orang yang mengetahui hukum-hukum syari'at secara menyeluruh mengetahui fiqih dengan semua babnya, faham kaidah-kaidah syari'at dan ushulnya tidak ada kekaburan bagi mereka antara satu masalah dengan yang lainnya.
Dari sini kami harus mengingatkan suatu perkara penting, banyak yang terjerumus kedalamnya yaitu perkataan orang : sesungguhnya 'ulama kita sekarang tidak mengetahui waqi' (kenyataan) !! bahkan sebagian mereka mengatakan kepada bebera pa teman-temannya di perkumpulan kecil : sesungguhnya kita telah mengambil faidah dari kejadian-kejadian dan keadaan ini bahwa kejadian-kejadian tersebut telah memfir ter mana itu 'ulama yang paham waqi' dan menghukuminya dengan hukum-hukum syar'i dan mana 'ulama yang tidak paham waqi'.
Demi Allah ini adalah perkataan yang busuk yang menunjukkan ketidakpaham an terhadap hukum-hukum syari'at dan apa-apa yang diambil oleh para 'ulama, mana yang perlu diperhatikan untuk dipahami dan mana yang tidak perlu.
Sesungguhnya memahami waqi' (kenyataan) menurut 'ulama terbagi menjadi dua bagian :
1. Pemahaman terhadap waqi' yang dibangun diatasnya hukum syari'at dan ini merupakan suatu keharusan, barangsiapa yang menghukumi suatu masalah tanpa memahami waqi' maka dia telah salah. Jika waqi' itu memiliki pengaruh dalam hukum maka wajib untuk memahaminya.
2.Waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syari'at seperti kenyataan ini dan itu atau kisah cerita yang panjang lebar akan tetapi tidak ada pengaruhnya dalam hukum syari'at selamanya. Disini para 'ulama tidak mengambilnya, walaupun mereka memahami hal tersebut tidaklah semua itu dibangun diatasnya hukum syari'at. Saya akan memberikan contoh-contoh untuk bagian pertama dan kedua agar kalian lebih jelas dan paham.
- Contoh bagian pertama yaitu bahwasannya memahami waqi' terbangun diatas nya hukum syari'at : masalah kapan mayit itu dihukumi benar-benar telah meninggal ? apakah yang mati itu hanya detak jantungnya saja ? atau otaknya ?
Ini adalah persoalan baru seandainya datang seseorang berbicara masalah ini tanpa mengetahui waqi' dan keadaannya maka pastilah dia akan salah dalam meng hukumi, karena memahami waqi' masalah ini memiliki pengaruh dalam hukum syari'at.
Contoh yang lain : menghukumi suatu negara atau wilayah apakah dia negara islam atau bukan, bagaimana saya bisa menghukumi itu negara islam atau bukan tanpa saya mengetahui hakikat didalamnya atau tanpa saya pahami waqi'nya ?
Memahami waqi' seperti ini merupakan suatu keharusan agar seorang 'alim bisa mengeluarkan hukum syari'at, apabila paham waqi' dikeluarkanlah hukum syari'at berdasarkan atas pemahaman tadi ?
Contoh lainnya lagi : kelompok-kelompok islam sekarang banyak sekali dan berbeda-beda, apakah boleh bagi seorang 'alim untuk menghukuminya atau melurus kannya tanpa mengetahui waqi' kelompok-kelompok tersebut. Apa aqidah mereka ? apa pokok-pokok ajaran mereka ? bagaimana metodenya ? bagaimana pemikiran-pemikiran mereka ? bagaimanakah dakwah mereka ? tidak akan mungkin baginya untuk menghukumi.
Maka harus baginya untuk memahami waqi' kelompok-kelompok tersebut karena memahami waqi' seperti ini berpengaruh dalam hukum syari'at, barangsiapa yang tidak memahaminya maka hukumnya terhadap sesuatu itu tidaklah akan benar.
- Contoh bagian kedua yaitu waqi' yang tidak berpengaruh bagi hukum syari'at antara lain adalah : apa-apa yang diungkapkan oleh dua orang yang saling berselisih didepan hakim. Dua orang tersebut mengungkapkan apa yang terjadi antara mereka dengan cerita yang panjang yang diketahui oleh hakim akan tetapi perkataan banyak tadi yang merupakan waqi' tidaklah ditetapkan oleh hakim dalam perkara tersebut dan inilah waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syar'i.
Oleh karena itulah seorang hakim atau pemberi fatwa berkata pada waktu seperti itu: jika memang demikian maka begini atau begitu, maksudnya apa-apa yang disebut kan dari waqi' tersebut tidaklah berpengaruh menurut syari'at dalam hukum syar'i.
Contoh lain : kita melihat pada saat sekarang – ini merupakan contoh yang lebih diterima oleh akal dalam masalah ini – banyak para da'i dari golongan tua bergaul dengan anak-anak muda, mereka menyeru anak-anak muda tersebut dan menjadikan mereka cinta kepada petunjuk serta kebaikan ditempat-tempat umum atau diperpus takaan-perpustakaan atau yang lainnya.
Kita telah mengetahui bahwa bergaulnya mereka orang-orang tua dengan anak-anak muda ada tidak baiknya bahkan ada keharamannya, kita tahu hal ini pada beberapa keadaan dengan ada perinciannya .
Pemahaman kita terhadap waqi' ini tidaklah menjadikan kita menghukumi dakwahnya golongan tua kepada anak-anak muda bahwasanya itu tidak boleh. Pemahaman kita mengenai fakta yang jelek tadi tidak ada pengaruhnya dalam meng hukumi dakwah itu bahwa hal itu tidak disyari'atkan.
Akan tetapi pemahaman kita tadi mengundang permasalahan lain yaitu untuk kita menasehati dan menunjukkkan orang yang salah atau yang terjerumus kedalam hal yang haram atau melakukan sesuatu yang tidak disyari'atkan atau yang tidak diridhoi Allah untuk bertaubat.Jadi pemahaman kita terhadap waqi' tadi tidak berpengaruh dalam hukum syari'at boleh atau tidaknya, tapi berpengaruh dalam kita menasehati orang yang terjerumus kedalam kesalahan sampai dia kembali kepada kebenaran dan tidak mengulangi kemunkarannya serta perkara yang tidak dicintai Allah serta rasul-Nya.
Ini diantara contoh-contoh yang aku tidak ingin untuk memperbanyaknya, akan tetapi ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman kepada kalian.
Contoh lain yang selayaknya untuk disebutkan adalah : disana ada hukum-hukum syari'at yang salah diyakini oleh manusia misalnya : ada hadits shohih menetapkan bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kencing berdiri.
Kencing dengan berdiri tanpa adanya percikan atau air kencing serta najis yang mengenai badan atau pakaian itu hukumnya boleh, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya.
Akan tetapi orang-orang bodoh menyalahkan orang yang berbuat seperti itu, dia tidak mempunyai sopan santun dia itu begini dan begitu.
Ini diantara keyakinan mereka orang-orang bodoh, bukan berarti hukum tadi itu salah atau tidak perlu diambil, tapi perkara ini – bolehnya kencing berdiri tidak diragukan lagi kebenarannya, tidak ada perdebatan didalamnya, kesalahan orang bodoh dalam keyakinannya, dalam penggambaran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at obatnya adalah dengan mengajarinya bukan dengan merubah kebena ran pendapat orang 'alim terhadap hukum syari'at tersebut.
KEDELAPAN : Ini adalah dhobith penting yang harus kita perhatikan yaitu dhobit tentang at-tawally kepada orang-orang kafir dan dhobith al-muwaalah kepada mereka : disini menurut syari'at serta Imam-imam tauhid ada dua lafadz yang masing-masing memiliki makna, kebanyakan orang tidak bisa membedakan satu dengan yang lain : Pertama : At-tawally, ini menjadikan pelakunya kafir
Kedua : Al-muwaalah, ini tidak diperbolehkan
Ketiga : Meminta pertolongan serta perlindungan dari orang kafir, ini diperbo lehkan dengan syarat-syarat. Ini tiga masalah .
Pertama : at-tawally, turun firman Allah jalla wa'ala mengenai hal ini :
( يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا اليهود و النصارى أولياء بعضهم أولياء بعض و من يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين ) Artinya : Wahai orang-orang beriman jangannlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nashrani sebagai pemimpin-pemimpinmu sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Surat Al-Maidah :51)
Dhobith at-tawally itu adalah : menolong orang kafir terhadap orang muslim pada saat perang antara muslim dan kafir dengan tujuan agar orang kafir menang terhadap orang muslim. Asal dari at-tawally itu adalah cinta penuh atau membantu orang kafir terhadap orang muslim, barang siapa yang mencintai orang kafir karena agamanya maka dia telah menjadikannya wali dan ini merupakan suatu kekafiran .
Kedua : adapun muwaalatul kuffar adalah sayang dan cinta kepada orang-orang kafir karena dunia mereka serta mengunggulkan dan menyanjung mereka.Ini merupa kan suatu kefasikan bukan kekafiran .
Allah berfirman : ( ياأيها الذين أمنوا لا تتخذوا عدوي و عدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة )
Artinya : Hai orang-orang beriman janganlah kalian menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka ( berita-berita Muhammad ) karena rasa kasih sayang.(Surat Al-Mumtahanah : 1)
Sampai kepada firmannya : ( ومن يفعله منكم فقد ضل سواء السبيل )
Artinya : Dan barang siapa yang melakukannya diantara kalian maka sungguh dia telah telah tersesat dari jalan yang lurus.
Berkata ahlu ilmi : Allah subhana wa ta'ala memanggil mereka dengan panggilan iman, termasuk didalamnya orang yang memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak merupakan kekafiran akan tetapi itu termasuk kesesatan dari jalan yang lurus.
Yang demikian ini karena dia telah memberikan kasih sayangnya dan memberitakan rahasia kepada mereka dengan tujuan dunia bukan karena ragu dengan agama ini.
Oleh karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang yang melakukan hal ini : Apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti ini ?dia menjawab: Demi Allah, tidaklah aku menginginkan kecuali aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku hanya ingin menanam jasa di kaummku agar Allah menyelamatkan dengannya keluarga dan hartaku. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shohihnya.
Dari sini telah jelas bahwa mencintai orang kafir dan condong kepada mereka karena tujuan dunia bukan merupakan kekafiran apabila masih ada akar iman dan thuma'ninah dengannya.
Ketiga : Adapun meminta bantuan serta perlindungan dari orang kafir maka ahlu ilmi berkata : itu adalah boleh pada beberapa keadaan, yang lain berfatwa akan bolehnya hal itu pada setiap keadaan dan kejadian dengan melihat kebenaran yang difatwakan itu.
Adapun memberi orang kafir sodaqah untuk menarik mereka atau untuk menolak kejelekan ini adalah pembahasan yang lain bukan termasuk pembagian yang tiga tadi.
KESEMBILAN : Janganlah kamu menerapkan semua hadits tentang fitnah pada setiap fakta yang kamu temui, karena memang manis bagi manusia untuk mengulang hadits-hadits tentang fitnah dikala fitnah itu telah muncul. Dan banyak (dikatakan) diperkumpulan mereka : Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda begini, inillah waktunya, inilah yang disebut fitnah dan lain sebagainya.
Salaf mengajarkan kita bahwa hadits-hadits fitnah tidaklah diterapkan pada kenyataan sekarang akan tetapi ini menunjukkan kebenaran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa-apa yang beliau kabarkan dari terjadinya fitnah setelah terjadi dan terputus serta keharusan berhati-hati dari fitnah semuanya.
Contoh : sebagian orang mentafsirkan sabda Nabi shallallahu' alaihi wa sallam : (sesungguhnya fitnah pada akhir zaman akan berada dibawah seorang dari ahli baitku) yaitu fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : (sehingga manusia bersatu dibawah bai’at seorang pemimpin yang tidak berhak untuk memimpin) maksudnya fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : (akan terjadi perdamaian yang aman antara kalian dan Rum) sampai akhir hadits dan apa-apa yang terjadi setelahnya itu adalah saat sekarang ini.
Penerapan hadits-hadits ini pada kenyataan sekarang dan menyebarkannya ke pada kaum muslimin bukanlah dari metode ahli sunnah wal jama'ah .
Sesungguhnya ahlu sunnah wal jama'ah menyebutkan tentang fitnah dan hadits-hadits fitnah dalam rangka untuk berhati-hati darinya serta menjauhkan kaum muslimin dari terjerumus atau mendekatinya agar tidak menimpa kaum muslimin fitnah tersebut dan agar mereka menyakini kebenaran apa-apa yang diberitakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

PENUTUP
Saya memohon kepada Allah jalla wa'ala untuk memperlihatkan yang benar itu benar serta memberikan kita kekuatan untuk mengikutinya dan untuk memberi kita persatuan dan kekuatan diatas kebenaran serta tegak diatasnya dan untuk menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh dengan jalannya ahli sunnah wal jama'ah dan aqidah mereka dari yang pertama sampai yang akhir, tidaklah kita memilah sesuatupun dari yang mereka katakan atau yang mereka tetapkan atau yang mereka berdalil dengan dalil-dalil syar'i.
Ya Allah kami memohon kepadamu agar kau jauhkan kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, berilah kaum muslimin kebaikan pada diri serta pemimpin mereka serta tunjukkanlah mereka kejalan yang benar dan jauhkanlah mereka dari orang-orang yang menyimpang dan merusak, Wahai Pencipta alam semesta.
Kita minta kepada-Nya untuk menjadikan kita termasuk yang diberi rahmat, dan mengakhiri hidup kita dengan kebaikan serta menjadikan perkara dan fitnah yang tampak ini baik akibatnya bagi kaum muslimin serta menjauhkan kita dari kejahatan dan kejelekannya. Semoga Dia menjadikan kejelekan dan kejahatan fitnah itu bagi musuh-musuh kaum muslimin, ya Rabbal 'alamin .

و صلى الله و سلم على نبينا محمد وعلى اله وصحبه ومن اهتدى بهداه الى يوم الدين

Penukil tulisan ini dari kaset : Akram bin sirdar syaikh
Tanggal 22 jumadil ' ula 1411 H
PENERJEMAH : ABU ABDIRRAHMAN AS-SALAFY



[1]Mungkin maksud beliau adalah organisasi internasional terselubung yang bergerak dalam bidang agama dan politik, muncul di Amerika pada pertengahan abad ke-19 dan mengaku dirinya sebagai pengikut al-masih (‘Isa bin Maryam) tapi dia dibawah naungan yahudi, mereka memusuhi islam- untuk lebih jelasnya lihat kitab “Al-mausu’ah al-muyassarah fil adyaan wal madzaahib wal ahzab mu’ashirah” jil. 2 hal 658-662-pent.
[2] Adapun dalam kita mengkritik atau memperingatkan umat dari bahaya bid'ahnya seseorang/mubtadi' atau kelompok yang sesat maka tidak perlu menyebutkan kebaikannya, dan inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama'ahli sunnah wal jama'ah/salafunash sholeh seperti Imam Ahmad dll … untuk lebih jelasnya lihat kitab " Manhaj Ahlis sunnah wal jama'ah fi naqdir rijal wal kutub wath thowaaif " dan " Al-mahajjatul baidho' fi himaayatis sunnah al-ghorra' min zallaati ahlil akhtho' waz zaighi ahlil ahwa' "oleh DR.Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly-hafizhahullah- Dosen Islamic university of medina –pent.
[3] Perselisihan dalam agama ini ada dua menurut para 'ulama : 1. Perselisihan yang tidak ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan pintu ijtihad terbuka di dalamnya oleh karena itu perselisihan/khilaf ini dinamakan masalah ijtihady. Dan kita diperbolehkan untuk berlapang dada didalamnya ( Lihat " Kitabul ilmi "bab Adab Tholibil 'ilmi oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimiin –rahimahullah- ).2. Perselisihan yang ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan tidak ada ijtihad didalamnya. Disini kita wajib untuk mengingkari pendapat yang menyelisihi nash tersebut. Lihat " Hujajul aslaf fibayaanil farqi baina masailil ijtihad wa masaailil khilaf " oleh Abu Abdirrahman Fauzi bin Abdillah Al-Atsary –pent.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Name:
Location: " SANSHIN "gunma-ken/ Maebashi, izumisawa-machi 1250-7, Japan

istiqomah di atas kebenaran dengan mengikuti jejak para salafus sholeh...

Gabung Milis As-Sunnah
Free Site Counters
pengunjung

hikmah


Ahlan wa Sahlan di Mauqi' (Web) pribadi Abu dzar al-Janary
<<-------------------->>
dan yang (Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yg lurus maka ikutilah dia janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yg lain) yang menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.Yang demikian itu di perintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa(al-An'am:153)

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,dan mengikuji jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin.Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah di kuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam.Dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali."(an-Nisa:115)

"Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang di turunkan kepadanya dari Tuhannya,demikian pula orang-orang yang beriman."(al-Baqarah:285)

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan jannah-jannah yg mengalir sungai-sungai di dalamnya,mereka kekal di dalamnya selama-lamanya,itulah kemenangan yang besar."(at-Taubah:100)

-:--------------:-

"Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma'ruf,dan mencegah dari yang mungkar,dan beriman kepada Allah."(ali imran:110)

-:--------------:-

  • BUKU TAMU
    • Powered by Blogger