إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسناوشيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إلهإلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صل الله عليه وعلي الهوسلم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون يا أيها الناس اتقواربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراًونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيباً يا أيها الذين آمنوااتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطعالله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً اما بعد Sesungguhnya segala puji (hanyalah) bagi Allah, kami memujiNya, kami memohon pertolongan kepadaNya, dan kami memohon ampunan (hanyalah) kepadaNya. kami pun berlindung dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal kami. barangsiapa yang diberi petunjuk Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tiada yang dapat menberinya petunjuk. aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah -yang berhak disembah- kecuali Allah saja, Yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan (sekaligus) utusanNya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada beliau dan keluarganya. Allah berfirman (yang artinya) : "Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan islam." [Ali Imraan : 102] "Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dair diri yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan ) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasikamu." [An-Nisaa' : 1] "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." [Al-Ahzab : 70-71] amma ba'du : sesunggunya sebenar-benar perkataan adalah kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (perkara baru dalam agama) dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat...
ahlan wa sahlan di blog abu dzar aljanary semoga bisa mengambil segala manfaat di dalamnya dan menjadi sarana dalam memperbaiki diri dan menuju ketaatan kepada-Nya

MENGGAPAI QOLBUN SALIM

"PADA HARI YANG HARTA DAN ANAK-ANAK TIADA BERGUNA.KECUALI BARANG SIAPA YANG DATANG KEPADA ALLAH DENGAN QOLBUN SALIM" [ASY-SYU'ARA'<26>:88-89]

Thursday, December 22, 2005

MABUK CINTA


Salah satu tipu daya setan adalah fitnah yang di timpakannya kepada mereka yang di landa mabuk cinta kepada seseorang. Demi Allah,ini merupakan fitnah dan bencana yang sangat besar,yang menjadikan nafsu menghambakan diri kepada selain penciptanya, yang menaklukkan hati kepada kekasih yang di gandrunginya yang akan menimpakan kehinaan kepadanya,yang menyalakan peperangan antara mabuk cinta dan tauhid,dan yang mengajak untuk memberikan kesetiaan kepada setan durhaka.Ia menjadikan hati sebagai tawanan hawa nafsu,sebaliknya menjadikan hawa nafsu sebagai hakim dan pemimpinnya.Di penuhinya hati dengan bencana dan fitnah,di halanginya dari kebenaran,dan di palingkannya dari jalan yang lurus.Ia berteriak di pasar perbudakan,menawarkan hati kemudian menjualnya sengan harga yang murah.Di berikannya imbalan yang rendah kepada hati,sebagai ganti dari imbalan yang bernilai tinggi,yaitu kamar kamar surga, dan lebih dari itu adalah kedekatan dengan AR-Rahman.
Lantas, hati merasa tentram berada di sisi kekasih yang hina itu,padahal derita yang di rasakannya berlipat ganda di bandingkan dengan kenikmatan yang diperolehnya,kedekatan dengannya merupakan sebab terbesar kesengsaraannya. Padahal,alangkah cepatnya seorang kekasih berubah menjadi musuh! alangkah cepatnya seorang kekasih meninggalkan kekasihnya,sampai sampai seperti tidak pernah menjadi seorang kekasih.Andaikata seseorang bisa bersenang-senang dengan kekasihnya di dunia ini,namun tidak lama lagi ia pasti mendapat penderitaan yang lebih besar padanya,apalagi di hari ketika para kekasih telah menjadi musuh bagi kekasihnya,kecuali orang-orang yang bertaqwa.(1)

Betapa meruginya orang yang mabuk cinta,yang telah menjual dirinya kepada selain"KEKASIH PERTAMA" dengan harga murah dan kenikmatan sesaat; begitu kelezatannya hilang,tinggallah tanggung jawabnya; begitu manfaatnya hilang,tinggallah mudharatnya;begitu kenikmatannya hilang,tinggallah kesengsaraannya; dan begitu kebahagiaannya hilang,tinggallah penyesalannya.

Duhai,kasihinilah orang yang mabuk cinta yang memiliki dua macam duka cita:

-Duka karena tidak mendapatkan "KEKASIH YANG MAHA TINGGI"serta kenikmatan yang abadi.

-Duka karena kepayahan dan siksa pedih yang musti di tanggungnya. Pada hari itu ,orang yang tertipu mengetahui perdagangan apakah yang telah di sia-siakannya serta mengatakan bahwa orang yang selama ini telah memperbudak dirinya dan menguasai hatinya,sebnarnya tidak layak dirinya menjadi pembantu dan pengikut orang itu.

Musibah apakah yang lebih besar daripada seorang raja yang di turunkan dari tahta kerajaannya,di jadikan sebagai tawanan orang tidak pantas menjadi tuannya,seta di paksa untuk mematuhi segala perintah dan larangannya? Jika anda melihat hatinya ketika ia bersama orang yang di cintainya,niscaya anda melihatnya:

Ibarat burung di genggaman seorang bocah

Yang menimpakan berbagai penderitaan kepadanya

Sedangkan si bocah bergembira dan bermain

Jika anda melihat keadaan dirinya dan kehidupannya,niscaya Anda akan berkomentar:

Tiadalah di muka bumi ini orang yang lebih menderita daripada seorang yang di mabuk cinta

Meski hawa nafsunya memperoleh kenikmatan

Kau lihat,ia menangis setiap saat sebab tajut berpisah,atau karena rindu

Menangis ketika merka jauh,karena rindu kepada mereka

Juga menangis ketika mereka dekat,karena takut berpisah
Andaikata Anda melihat tidur dan istirahatnya,Niscaya anda mengetahui bahwa cinta dan tidur telah berjanji dan berspakat untuk tidak akan pernah bertemu. Jika Anda melihat simbah air matanya dan gejolak api di dalam dirinya,niscaya Anda membaca syair:

Maha Suci RABB 'ARSY yang menciptanya dengan sempurna

Yang menjadikan hal-hal yang berlawanan tanpa penolakan

Tetes airmata,muncul dari gejolak api di dalam diri air dan api berada di satu tempat

Andaikata anda bisa melihat masuk dan merasuknya cinta kedalam hati,niscaya Anda mengetahui bahwa cinta itu lebih halus cara masuknya ke dalamnya,daripada masuknya roh kedalam badan. Pantaskah orang yang berakal menjual"raja yang di taati" ini kepada siapa yang akan menimpakan siksaan buruk kepadanya dan yang menciptakan pembatas Tebal antara dirinya dan Wali Maulanya yang Haq, yang senantiasa di Butuhkannya?

Seseorang yang mabuk cinta ibarat mayat bagi yang di cintainya.Ia juga budak yang tunduk dan patuh kepadanya.Jika di panggil ,ia datang menyambut.Jika di tanyakan kepadanya;"apa yang kamu angankan?"Maka yang di cintainya adalah puncak segala angannya. ia tidak bisa memperoleh ketentraman dan ketenangan pada selainnya. Sungguh sepantasnyalah jika ia tidak menyerahkan penghambaan dirinya kecuali kepada sang kekasih dan tidak menjual bagiaannya darinya dengan penukar yang rendah.

di salin ulang dari kitab ighatsatul lahfan min mashayidisy syaithan

(menyelamatkan hati dari tipu daya syaitan jilid 2)

footnote:

(1): Itu terjadi pada hari kiamat .sebaimana firman allah ta'ala dalam surat Az-zukhruf ayat 66-67:" Mereka tidak menunggu kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.Teman-teman akrab pada hari itu sebaiannya menjadi musuh bagi sebaian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa".

Saturday, November 26, 2005

surat Al-Hasan Al-Basri kepada Umar bin Abdul Aziz

Ibnu abid Dunya menyebutkan bahwa al-Hasan al-basri pernah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz"
"amma ba'du, sesungguhnya dunia adalah tempat keberangkatan,bukan tempat tinggal,adam 'alayhissalam di turunkan kedunia tidak lainsebagai hukuman,karena itulah berhati-hatilah terhadapnya wahai amirul mukminin!Sesungguhnya berbekal dari dunia adalah dengan meninggalkannya dan kekayaan di dalamnya adalahkefakirannya.Setiap saat ia bisa membunuh,menghinakan siapa yang memuliakannya,dan memelaratkan siapa yang menumpuknya. Ia ibarat racun yang dimakan oleh orang yang tidak tahu,padahal ia akan membunuhnya.
Di dunia ,jadilah Anda seperti orang yang mengobati luka-luka pada dirinya.Ia sedikit berpantang karena kwatir akan membencinya selamanya serta bersabarterhadap sakitnya obat karena takut penyakitnya berkepanjangan.Maka,hati-hatilah di negeri yang menipu ,memperdaya dan memberikan banyak khayalan ini, yang berhias dengan segala tipu dayanya.menyesatkan dengan bujuk rayunya,menipu dengan harapan-harapannya,dan berdandan untuk para peminangnya. Ia ibarat pengantin wanita dengan wajah terbuka. semua mata memandangnya,hati terpikat olehnya ,dan jiwa tergila-gila kepdanya,padahal ia pembunuh bagi suaminya. Sebagian orang yang tergila-gila kepadanyaberhasil meraih keinginannya,lalu berbanggga,bertindak melampaui batas,dan lupa kepada akhirat.hatinya sibuk memikirkannya sehinngga kakinya tergelincir dan ia banyak menyesali.Sakaratul maut,berbagai penderitaan pada saat kematian,dan penyesalan karena perpisahan menyelimuti dirinya. Adapula orang yang tergila-gila kepadanya etapi tdk berhasil memperoleh keinginannya, ia hidup dgn kepahitan dan pergi dengan kesedihan. Ia tidak pernah menemukan apa yang di carinya sedangkan jiwa tidak pernah istirahat dari kepayahan.Ia meninggalkan dunia tanpa bekal apa apa dan datang ke akhirat tanpa membawa apa apa. Jadikan puncak kebahagian Anda di dalamnya adalah puncak kehati-hatian Anda terhadapnya! Sesungguhnya.orang yang merasa puas dengan kesenagan didunia,maka dunia akan mebawanya kepada keburukan.Kebahagian dunia itu diikat dengan pendertiaan,menetap di dalamnya akan berakhir dengan kafanaan,dan keceriaannya bercampur dengan kesedihan.Angan-angannya bohong,harapan-harapannya kosong,kejernihannya keruh,dan kehidupannya pedih.
Seandainya ALLAH belum memberi tahu dan belum membuat permisalan mengenainya,niscaya ia sendiri mampu membangunkan orang yang tidur dan menyadarkan orang yang lalai.Apalagi ,bukankah ALLAH telah mengutus penasehat dan memberi peringatan di dalamnya!Di sisi ALLAH dunia tidak mempunyai nila sama sekali.ALLAH tidak meliatnya semenjak menciptakannya . Nabi kita shallallahu 'alayhiwassalam telah di tawari kunci kunci dan perbendaharaanya,sesayap nyamuk pun tidak di kurangi di sisi ALLAH,tetapi beliau menolak,karena Beliau tidak suka mencintai apa yang di benci oleh Kahliqnya atau meninggikan apa yang di rendahkan oleh Maliknya.ALLAH menyempitkan bagi orang-orang shalehsebagai pilihan dan melapangkan bagi musuh-musuhNya sebagai tipu daya,sehingga orang orang yang tertipu dan berhasil meperolehnya menyangka bahwa dirinya dimuliakan dengan dunia.ia lupa terhadap apa yang telah dilalukan ALLAH terhadap rasul-Nya ketika mengikatkan batu di perutnya.<1>

disalin dari kitab itsaghatul lahfan min mashayidisy syaithan
halama 78-79

Friday, September 23, 2005

Racun Hati (1/5)


Abdullah Shalih Al-Hadrami .............
Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat. Amma ba'du. Allah berfirman,
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya. (Al-Isra': 36) Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.
Rasulullah bersabda,
Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hat. (HR. Bukhari dan Muslim) Abu Hurairah berkata,
Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya. Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.
Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.
Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.
Jadi, seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya sangat banyak. Dan kami akan menyebutkan empat pintu masuk syetan yang paling banyak tersebar dan berbahaya.
Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan. Dan setiap kemaksiatan adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari kebaikan dan menambah parah penyakitnya.
Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.
Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul. Tidak lain karena kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak ada tandingannya. Abdullah bin Mubarak berkata,
Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati
Membinasakannya mengakibatkan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda. Allah berfirman,
(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (Asy Syu'ara: 88 - 89) Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.
Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.
Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.
Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:
Banyak bicara banyak memandang banyak makan dan minum banyak bergaul dengan sembarang orang Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.

Racun Hati (2/5)


Abdullah Shalih Al-Hadrami .............
Hati yang sehat adalah hati yang selamat, yaitu hati yang terbebas dari setiap racun-racun yang membahayakannya. Siapa saja yang menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu, emudian menjaganya. Apa saja racun-racun itu?
1. Banyak Bicara Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.
Dari Mu'adz, dari Rasulullah bersabda,
Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya. 1 Banyak ayat Al Qur'an dan sabda Rasulullah serta ucapan salafush shalih yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah. Diantaranya firman Allah,
Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18). Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi berkata,
aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?" Beliau bersabda, "Ini." sambil memegang lidahnya. 2 Dari Uqbah bin Amir berkata, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Peliharalah lidahmu." 3
Beliau bersabda pula,
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata,
Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku. Beliau juga berkata,
Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal. Dari Abu Darda' berkata,
Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah.


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, shahih. ...2 HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ad Darimi, shahih. ...3 HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Mubarak, shahih

Friday, September 16, 2005

Racun Hati 3


Abdullah Shalih Al-Hadrami , ditulis oleh Administrator Wednesday, 21 July 2004Simak racun hati berikutnya di antara empat racun hati yang sangat berbahaya yaitu banyak memandang. Bagaimana definisi "banyak memandang"? Bagaimana dalil-dalil serta peringatan dari Allah dan Rasul-Nya mengenai hal ini? Bagaimana penjelasan para 'dokter' penyakit hati?
2. Banyak Memandang Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang. Allah berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya"; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung. (QS An-Nur: 30 - 31) Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bersabda,
Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan. 1 Dari Jarir berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, "Alihkan pandanganmu." 2
Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mepertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:
Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.
Pandangan merupakan pintu masuk syetan Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati.
Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.
Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya. Allah berfirman,
Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kahfi: 28) Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini. Para dokter hati (ulama') bertutur,
Antara mata dan hati ada kaitan yang sangat erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun rusak dan hancur. Hati seperti ini, ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni cinta dan ma'rifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai bersama Allah, dan tidak akan mau inabah (kembali) kepada Allah. Yang bersemayam di dalamnya adalah yang berlawanan dengan semua itu. Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana firmanNya pada Al-Qur'an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan.
Allah berfirman,
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al-Mukmin: 19) Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.
Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.
Seorang yang shalih berkata,
Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.

--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad. ...2 HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Ahmad.

Racun Hati 4


Abdullah Shalih Al-Hadrami (4/5) , ditulis oleh Administrator Friday, 23 July 2004Mari kita lanjutkan ulasan selanjutnya mengenai 4 racun hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan hati kita. Dia adalah banyak makan dan minum. Hal ini telah menjadi perhatian Rasulullah dan para ulama'. Banyak para ulama' yang mengulas masalah ini dan memasukkannya ke dalam buku-buku mereka mengenai tazkiyatun nufus. Bagaimana hadits Rasulullah dan penjelasan para sahabat dan para ulama'?
3. Banyak Makan dan Minum Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.
Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya. Allah berfirman,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A'raf: 31) Dari Miqdam bin Ma'di Karib berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda,
Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas. 1 Ibnu Abbas berkata,
Allah menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan. Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.
Dari Utsman bin Za'idah berkata, Sufyan Ats-Tsauri berkirim surat kepadaku: Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu.
Sebagian salaf berujar,
Sebagian pemuda Bani Israil berta'abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, "Jangan makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi." 'Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Rasulullah belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Amir bin Qais berkata,
Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati.
Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, "Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar."
Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata, "Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.
Al-Harits berkata pula,
Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.
Ibrahim bin Adham berkata,
Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih.

Empat Racun Hati 5

Abdullah Shalih Al-Hadrami (5/5) , ditulis oleh Administrator Friday, 23 July 2004Sebagai penutup dari artikel ini, simak racun hati yang terakhir yaitu "Banyak bergaul dengan sembarang orang". Agama seseorang dapat diketahui dari agama sahabatnya. Bagaimana seorang dapat mempengaruhi / dipengaruhi oleh sahabatnya? Bagaimana perkataan dan tanggapan para alim ulama' mengenai hal ini?
4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.
Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana. Allah berfirman,
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an, ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 - 29)
Allah berfirman pula,
Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)
Rasulullah bersabda,
Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kuran gsedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda,
Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan siapa sahabat kalian. 1
Rasulullah bersabda,
Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu, kecuali orang bertaqwa. 2
Berkata Umar bin Khathab,
Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.
Berkata Muhammad bin Wasi',
Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama'ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih).
Berkata Bilal bin Sa'ad,
Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu, daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda).
Berkata sebagian salaf,
Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.
Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal 'alamin.
Maraji'
1 Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibn Katsir, Jama'ah Minal Ulama', Isyraf Asy-Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakafuri, Daar As-Salam, Riyadh.
2 Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid, Edisi revisi hanya memuat hadits-hadits shahih. Cetakan tahun 1419H / 1998M, Daar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.
3 Tazkiyah An-Nafs, Syaikh Ahmad Farid, Edisi lama (belum direvisi), terjemahan Indonesia. PenterjemahL Imtihan Asy-Syafi'i, Pustaka Arafah.
4 Jami' Al-Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab, tahqiq Syu'aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.
5 Al-Mukhtar Lil Hadits Fi Syahri Ramadhan, Majmu'ah Thalabatil Ilmi, Rabithah Alam Islami.

--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 Hadits hasan, diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi. ...2 HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang hasan.

Monday, September 12, 2005

Salafus Shalih Merasa Takut Jika Amalan Mereka Batal Tak Terasa 2


Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali Halaman 2
Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa khawatir amalan-amalan mereka batal tanpa disadari, hal ini termasuk bagian dari kesempurnaan iman mereka. Firman Allah Ta'ala:
.. Tidaklah yang merasa aman dari adzab Allah, kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raaf: 99). 'Abdullah bin 'Ubaidillah bin Abi Mulaikah, seorang yang tsiqah lagi faqih berkata,
Aku mendapati 30 sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semuanya merasa takut kemunafikan menimpa diri mereka, tidak ada seorangpun dari mereka berkata imannya seperti keimanan (malaikat) Jibril dan Mika-il. 5 Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (I/110-111):
Para sahabat yang didapati oleh Ibnu Abi Mulaikah yang paling utama adalah 'Aisyah, saudaranya yaitu Asma', Ummu Salamah, 'Abdullah bin 'Umar, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin Mas'ud, dan 'Abdullah bin Az-Zubair, Abu Hurairah, 'Uqbah bin Al-Harits dan Al-Musawwar bin Makhramah. Mereka adalah para sahabat yang ia dengar haditsnya.
Ia juga mendapati Sahabat lain yang lebih utama dari mereka, seperti 'Ali bin Abi Thalib dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia memastikan bahwa mereka merasa takut (munculnya) kemunafikan dalam amalan-amalan mereka. Dan tidak ada nukilan dari selain mereka yang menyalahi itu, seakan-akan ini adalah ijma'.
Yang demikian itu karena seorang mukmin terkadang ditimpa rintangan yang mengotori amalnya, sehingga membuatnya tidak ikhlas, namun rasa takut mereka dalam perbuatan tersebut, tapi hanya menunjukkan kelebihan mereka dalam wara' dan ketakwaan. Radhiyallahu 'anhum. Sungguh benar apa yang dikatakan al-Hafidz tadi, generasi Rabbani itu telah berjuang melawan hawa nafsunya karena Allah, sehingga mereka pun dekat kepada Allah berlipat-lipat dari amalan orang selain mereka.
Mereka -para shiddiqin- selalu melihat kepada hak Allah yang wajib mereka tunaikan, maka Allah pun memberikan (kenikmatan) berupa rasa penyesalan terhadap diri mereka (karena mereka merasa belum memenuhi hak-hak Allah dengan sempurna), mereka mengetahui bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan ampunan Allah dan rahmat-Nya. Karena hak Allah adalah untuk ditaati dan bukan dimaksiati, untuk diingat dan tidak dilupakan serta untuk disyukuri dan tidak dikufuri.
Maka, barangsiapa yang selalu melihat hak Penciptanya yang wajib dilakukannya, ia akan tahu secara yakin bahwa ia belum dapat melaksanakannya sebagaimana mestinya. Tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali ampunan-Nya, ia merasa akan celaka bila hanya bersandar pada amalannya saja.
Inilah tempat melihatnya orang-orang yang ikhlas demi Allah semata, dan inilah yang mewariskan rasa putus asa kepada dirinya, ia hanya menggantungkan seluruh pengharapannya kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya.
Akan tetapi sungguh sangat disayangkan, jika orang yang bijaksana memperhatikan keadaan manusia di zaman ini, ia mendapati kenyataan yang berlawanan dengan hal tersebut. Mereka hanya menuntut hak mereka kepada Allah dan tidak mau memenuhi hak Allah atas mereka.
Dari situlah, mereka telah terputus asa dari Allah, hati mereka telah tertutup untuk mengenal, mencintai, merasakan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Allah dan terhadap dirinya.
Ketahuilah -mudah-mudahan Allah merahmatimu- bahwa modal utama perdagangan yang tidak akan merugi adalah seorang hamba yang senantiasa melihat kepada hak Allah, kemudian melihat, apakah ia telah melaksanakannya dengan benar. Karena hal itu akan membawa seorang hamba kepada kedudukan para shiddiqin yang Rabbani yang menundukkan hatinya di hadapan Rabb-nya, ketundukan yang di dalamnya terdapat kemuliaan, yang merasa fakir kepada Allah, kefakiran yang di dalamnya terdapat kekayaan.
Ya Allah, inilah hati kami di hadapan-Mu, amalan kami tidak pernah tersembunyi dari-Mu, maka tetapkanlah -ya Allah- hati kami di atas jalan-Mu yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka dari para Nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang yang shalih. Merekalah sebaik-baik teman.


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...5 Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (tanpa sanad) I/109-Fathul Bari dan disambung (sanadnya) oleh Abu Zur'ah Ar-Razi dalam Taarikh Dimasyqi (1367) secara ringkas.
--------------------------------------------------------------------------------
Disalin dari kitab "Mubthilaatul A'maal fii Dhau-il Qur'aanil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah al-Muthahharah" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, Edisi Indonesia, "Penyebab Rusaknya Amal Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahih" Pustaka Imam Syafi'i hal. 7 - 17.

Salafus Shalih Merasa Takut Jika Amalan Mereka Batal Tak Terasa 1


Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali .....
Ketahuilah saudaraku seiman -mudah-mudahan Allah menerangi hatimu dengan petunjuk-, sesungguhnya pahala yang besar dan kebaikan yang luas, yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya hanya dapat dicapai oleh orang yang melakukannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
Setiap amalan itu pasti mempunyai permulaan dan tujuan akhir. Suatu amalan tidak akan menjadi ketaatan sampai di dasarkan atask keimanan, maka keimanan adalah pembangkitnya, bukan ada, bukan hawa nafsu, bukan pula karena mencari pujian dan kedudukan, dan sebagainya.
Tapi, permulaannya harus berasal dari iman, dan tujuan akhirnya adalah pahala Allah Ta'ala, serta mengharapkan keridhaan-Nya, yaitu al-ihtisab (mengharap pahala).
Oleh karena itu, dua perkara tersebut seringkali disandingkan, seperti dalam sabda Nabi, Barangsiapa yang berupasa Ramadhan dengan penuh keimana dan ihtisab (mengharap pahala)... 1
Barangsiapa yang bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan ihtisab ... 2 dan (hadits) yang semisalnya. 3
Hati para hamba berada di antara dua jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkan sesuai dengan kehendaknya. Ya Allah, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Terkadang, seseorang dihampiri aral yang merintangi dari maksudnya yang ikhlas, maka ia terhalang dari pahala dan dijanjikan tanpa ia sadari, karena pahala itu hanya diberikan atas amalan yang ikhlas saja.
Orang yang memperhatikan sirah (perikehidupan) Salafus Shalih dari perkataan dan perbuatan mereka, ia akan melihat bahwa mereka dalam rasa takut (khauf) dan berharap (raja').
Rabb seluruh makhluk, Allah subhanahu wa ta'ala, berfirman mensifati sebaik-baik makhluk (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam):
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka (dengan sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (QS. Al-Mu'minuun: 57-60).
Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, Dan orang-orang yang memberikan ayat yang telah mereka berikan dengan hati yang takut ... 'Aisyah berkata, "Apakah mereka orang-orang yang minum arak dan mencuri?" Beliau menjawab,
Tidak wahai puteri Ash-Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, dan bershadaqah, sedangkan mereka merasa takut amalan-amalan itu tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang beregera dalam kebaikan. 4 Allah menyebutkan kaum mukminin yang bersegera dalam kebaikan dengan sifat yang paling baik, walaupun mereka senantiasa takut amalan mereka tidak diterima.
Rahasianya bukan karena khawatir Allah tidak memberikan pahala kepada mereka, sekali-kali tidak!! Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala amalan-amalan mereka dengan sempurna. (QS. Ali 'Imran: 57). Bahkan Allah menambahkan untuk mereka karunia, kebaikan dan nikmat-Nya:
Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya ... (QS. Al-Fathir: 30). Tapi, karena mereka merasa takut belum melaksanakan (amalan-amalan)nya sesuai dengan syarat-syarat ibadah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka mereka tidak bisa memastikan bahwa mereka telah melaksanakannya sesuai dengan keinginan Allah, tapi mereka mengira telah melakukan kekurangan dalam hal tersebut.
Oleh karena itu mereka merasa takut amalan mereka tidak diterima, maka mereka pun berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shalih. Maka, hendaknya seorang hamba memperhatikan ini, mudah-mudahan dapat menambah semangat untuk memperbaiki ibadah dan meluruskan amalan dengan cara ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti Rasulullah.


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 HR. Bukhari (2014), dan Muslim (760) dari Abu Hurairah. ...2 Ibid. ...3 Risaalah Tabuukiyah (hal. 45-46 dengan tahqiq Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali). ...4 Hasan dengan syawahidnya. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3175), Ahmad (VI/159, 205) dan Al-Hakim (III/393-394) dari jalan Malik bin Mighwal dari 'Abdurrahman bin Sa'id bin Wahb, dari 'Aisyah. Al-Hakim berkata, "Hadits ini sanadnya shahih." Dan Adz-Dzahabi menyetujuinya. (Demikian secara ringkas dari catatan kaki di buku "Penyebab Rusaknya Amal" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali -red. vbaitullah).
--------------------------------------------------------------------------------
Disalin dari kitab "Mubthilaatul A'maal fii Dhau-il Qur'aanil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah al-Muthahharah" oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, Edisi Indonesia, "Penyebab Rusaknya Amal Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang Shahih" Pustaka Imam Syafi'i hal. 7 - 17.

Rasa Takut Yang Tak Terbina (2/2)


Melanjutkan pembahasan sebelumnya, berikut akan dijelaskan tafsir berikutnya dari surat Al-Haaqqah ayat 34 sampai dengan 37 sebagai salah satu dalil pemupuk rasa takut kita kepada azab Allah. Namun sangat aneh jika banyak manusia merasa takut pada waktu-waktu tertentu dan pada tempat-tempat tertentu lantaran ada jin "penunggu". Padahal jin-lah yang takut kepada manusia, benarkah demikian?(Firman Allah, -red.vbaitullah):
Dan tidak pula mendorong (orang lain) untuk memberi makan kepada orang miskin. (al-Haqqah: 34).
Artinya, hatinya tidak memiliki rasa kasih sayang kepada orang-orang fakir dan miskin, ia tidak mau memberi makan orang miskin dari hartanya dan tidak mendorong orang lain untuk memberi makan kepada mereka, sebab hatinya tidak ada unsur keimanan.
Sesungguhnya kebahagiaan bertumpu pada dua hal: Ikhlas hanya karena Allah dimana pangkal keikhlasan ini adalah iman kepada Allah. Berbuat ihsan (kebaikan) terhadap makhluk Allah dengan segala bentuk perbuatan ihsan, dimana yang terbesar di antaranya adalah menghilangkan kesulitan orang-orang yang butuh dengan cara memberi makan kepada mereka dengan makanan pokok sehari-hari. Sementara orang-orang sengsara (yang digambarkan dalam ayat-ayat di atas) itu adalah orang yang tidak ikhlas dan tidak ihsan. Karena itulah mereka berhak mendapatkan siksa yang dahsyat itu, 6 (Firman Allah, -red.vbaitullah):
Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini disini, Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah, Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang ber,dosa. (al-Haqqah: 35-37).
Artinya: Pada hari kiamat itu, tidak ada seorang karibpun yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah. Disini juga tidak ada makanan lain baginya kecuali dari Ghislin.
Imam Qatadah mengatakan: (makanan dari Ghislin) adalah seburuk-buruk makanan penghuni neraka.
Syabib bin Bisyr mengemukakan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas , beliau (Ibnu Abbas) mengatakan: "Ghislin artinya darah dan air yangmengalir dari daging-daging mereka sendiri". Sementara Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ghislin adalah nanahnya penghuni neraka. 7 Demikianlah, banyak orang yang tidak takut terhadap ancaman Allah , seperti tertuang dalam ayat di atas.Seakan mereka merasakan betapa tenteramnya hidup di dunia.
Ironisnya orang itu justeru takut kepada teror-teror setan. Sesuatu yang sebenarnya hanya halusinasi yang berkembang karena i'tiqad (keyakinan) yang batil.
Adalah aneh jika orang merasa amat ketakutan bila pada malam-malam tertentu, dan pada tempat-tempat tertentu, tidak memberikan sesajian kepada (setan) yang diyakini mem-bau rekso- malam-malam atau tempat-tempat tertentu itu.
Juga sangat aneh jika orang ketakutan akan diganggu oleh setan penunggu suatu tempat tertentu jika tidak meminta izin terlebih dahulu bila hendak lewat.
Atau takut kualat jika keris pusakanya tidak dimandikan dengan benda-benda tertentu pada saat-saat tertentu. Tepat benar apa yang difirmankan Allah a tentang mereka:
Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (al-Jin: 6). Berkenaan dengan ayat itu Ibnu Katsir bahkan membawakan riwayat Ibnu Abi Hatim, berasal dari Ikrimah yang mengatakan:
Adalah jin (sebenarnya) takut kepada manusia sebagaimana manusia takut kepada jin atau lebih takut lagi.
Ketika manusia melewati suatu lembah, para jin melarikan diri, tetapi ketika pemimpin rombongan manusia ini berkata, "Kami minta perlindungan kepada penggede penghuni lembah ini", maka jin-jin itu berkata: "Kita lihat, manusia ini takut kepada kita seperti halnya kita takut kepada mereka."
Akhirnya jin jin itu mendekat kepada manusia dan menimpakan penyakit bingung dan gila. (Fazaaduuhum rahaqaa) artinya menambah bagi mereka dosa. Menurut Abu al-Aliyah, ar-Rabi' dan Zaid bin Aslam; (rahaqaa) artinya: (jin jin tersebut menambah bagi mereka) rasa takut. Al-Aufi membawakan riwayat dari Ibnu Abbas: artinya (jin-jin itu) menambah dosa bagi mereka. Qatadah juga menyatakan demikian. 8
Padahal itu hanya takut terhadap bayang-bayang yang tidak benar. Hal tentu amat memprihatinkan karena rasa takut yang demikian justru termasuk rasa takut yang bersifat rahasia (khauf sirr) atau khauf (rasa takut) yang berbentuk peribadatan, yang bila seseorang terkena raga takut ini berarti ia telah terjerumus dalam syirik akbar 9
Apa yang dikemukakan di atas hanya sebagian kecil dari kenyataan yang ada. Nampaknya orang harus dibebaskan dari belenggu-belenggu syirik atau takut seperti di atas. Harus ada upaya pembinaan rasa takut, agar takut yang dimiliki seseorang tidak menyimpang; dan akhirnya hanya takut kepada Allah dan ancaman-ancaman neraka-Nya yang dahsyat.
Jika orang sudah memiliki rasa takut yang benar kepada Allah, niscaya ia akan menjadi orang bertakwa kepada Allah. Sudah barang tentu, dengan takut yang diimbangi mahabbah (kecintaan) yang benar dan raja' (pengharapan) yang benar kepada Allah; sesuai dengan petunjuk dan pemahaman salafus shalih. Bukan rasa takut membabi buta seperti takutnya orang-orang Khawarij.
Takut kepada Allah itu sendiri merupakan ibadah yang luhur dan merupakan barometer keimanan. Allah berfirman:
Karena itu janganlah kdrnu takut kepada mereka, tetapi takatlah kepada-Ku; jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali-Imran: 175) 10 Demikianlah seharusnya umat Islam kembali mengarahkan rasa takutnya hanya kepada Allah dan kepada adzab-Nya yang pedih; srta menanggalkan rasa takut kepada hal-hal yang diluar nalar.
Misalnya takut kepada ramalan-ramalan buruk seorang dukun; takut menyelisihi hari-hari yang dianggap keramat berdasarkan perhitungan Kejawen (neptu dan lain-lain); takut kena kutuk kuburan-kuburan orang yang dianggap wall dan takut jika tidak memberi sajen (sesaji) di tempat tertentu dan waktu tertentu.
Wallahu al-Masta'an


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...6 Taisir al-Karim ar-Rahman juz II. ...7 Tafsir Ibnu Katsir secara ringkas IV/536. ...8 Lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/551-552. ...9 Lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul; Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tentang khauf; macam kedua dan ketiga, halaman 57; Penerbit Dar Ats-Tsuraya cet III 1417 H/1997 M. ...10 Perhatikan Syarh Tsalatsah al-Ushul Syeikh al-Utsaimin hal 56 - 57.

Rasa Takut Yang Tak Terbina (1/2)

Sebagian terbesar umat manusia khususnya umat Islam rasanya sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman-Nya yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kmungkinan-kemungkinan bahwa dirinya terjerembab dalam siksa kubur dan siksa akhirat, masuk dalam kobaran api neraka tanpa ada peluang sedikitpun untuk selamat. Berikut bahasan singkatnya.Bahasa "TAKUT KEPADA ALLAH" yang sering didengar atau bahkan sering meluncur dari lidahnya, seakan menjadi bahasa biasa yang datar tanpa makna. Takut kepada Allah tidak lagi menjadi rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa.
Mestinya rasa takut berkecamuk dalam diri seseorang ketika mendengar ayat-ayat atau hadisthadist tentang siksa neraka dengan berbagai jenisnya yang mengerikan.
Ya, mengapa orang tidak takut mendengar firman Allah semisal dibawah ini? :
Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan amal) terhadap diriku.
Duhai seandainya kematian itu adalah kematian total (tak usah hidup kembali). Hartaku juga sekali-kali tak memberi manfaat kepadaku. Kekuasaanku pun telah lenyap dari padaku." (Pada saat itulah Allah berfirman):
Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian gelandanglah ia kedalam api neraka (Jahim) yang menyala-nyala. Kemudian masukkanlah kedalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin, maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini disini.
Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (al-Haqqah: 25-37) Al-Hafidz Ibnu Katsir 1 menerangkan bahwa ayat-ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara (kelak di Akhirat -Pen). Yaitu manakala diberi catatan amalnya di padang pengadilan Allah, dari arah tangan kirinya. Ketika itulah dia benar-benar menyesal. Dia mengatakan penuh penyesalan:
"Andaikata saja saya tidak usah diberi catatan amal ini dan tidak usah tahu apa hisab (perhitungan) terhadap saya (tentu itu lebih baik bagi saya), dan andaikata saja saya mati terus dan tidak usah hidup kembali." Ibnu Katsir selanjutnya menukil pernyataan imam adh-Dhahhak, Muhammad bin Ka'ab, ar-Rabi' dan as-Sudi, bahwa yang dimaksud dengan ungkapan orang-orang sengsara yang dikemukakan oleh Allah tentang harapan mereka akan kematian itu adalah kematian yang tidak ada lagi kehidupan sesudahnya.
Ibnu Katsir juga menukil perkataan imam Qatadah bahwa artinya: Mereka berharap kematian (tidak hidup lagi -pen) dan tidak ada sesuatupun yang lebih mereka bend melainkan dunia.
Tentang firman Allah Ta'ala
Peganglah dia lalu belenggulah tangan ke lehernya, kemudian gelandanglah ia ke dalam api neraka (Jahim) yang menyala-nyala. (al-Haqqah: 30-31) Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tersebut menjelaskan ayat ini bahwa:
Allah memerintah kan kepada Malaikat Zabaniyah untuk menggelan dang dengan paksa pesakitan (orang yang sengsara/tidak beriman) ini dari padang Mahsyar seraya meletakkan belenggu pada lehernya kemudian mendorong dan melemparkan nya kedalam neraka jahannam. Selanjutnya mengenai firman Allah :
Kemudian masukkanlah dia ke dalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (al-Haqqah: 32). Ibnu Katsir menukil perkataan Ka'ab al Ahbar bahwa tiap-tiap untaian mata rantai tersebut besarnya seperti besi di dunia.
Sementara al-Aufi mengemukakan riwayat dari Ibnu Abbas dan Ibnu Juraij (tentang yang dimaksud 70 hasta) adalah hastanya malaikat. 2
Sedangkan arti (faslukuuhu): Ibnu Katsir mengemukakan perkataan Ibnu Juraij bahwa Ibnu Abbas berkata:
Besi rantai itu dimasukkan dari arah pantatnya, lalu keluar melalui mulutnya, kemudian para pesakitan ini ditata dalam besi rantai tersebut seperti belalang yang ditusuk berjajar dengan kayu ketika di panggang api. Syeikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as Sa'di 3 tentang ayat tersebut, menerangkan bahwa:
Mata rantai itu berasal dari neraka Jahim yang panasnya mencapai puncak panas. Kemudian arti (Faslukuuhu) adalah: Susunlah para pesakitan (orang-orang tidak beriman) ini ke rantai tersebut dengan cara; rantai tersebut dimasukkan melalui duburnya hingga keluar dari mulutnya kemudian gantunglah padanya. Maka orang sengsara ini terus menerus disiksa dengan siksaan yang sedemikian mengerikan ini. Betapa dahsyat siksaan terhadap dirinya itu. Betapa menyesalnya dia dengan penghinaan yang sedemikian rupa ini. Sesungguhnya sebab yang menjadikannya sampai pada kedudukan demikian ialah karena:
Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. (al-Haqqah: 33) Ia kafir kepada Rabbnya, menentang Rasul-Nya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasul-Nya tersebut. 4
Ia tidak menunaikan apa yang menjadi hak Allah, tidak taat kepada-Nya dan tidak beribadah kepada-Nya 5


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 Tafsir Ibnu Katsir IV/535, surat al-Haqqah ...2 Dinukil oleh Ibnu Katsir IV/535. ...3 Beliau adalah seorang tokoh ulama dari Saudi Arabia yang wafat pada tahun 1376 H. ...4 Taisir al-Karim ar-Rahman juz II. ...5 Tafsir Ibnu Katsir IV/536.
--------------------------------------------------------------------------------

Sunday, September 11, 2005

Mendeteksi Sehatnya Qolbu


Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab ،§Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan.،¨ Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur،¦an. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut: 1.Mengembara ke Akhirat Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ،¥alaihi wasallam bersabda, "Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan." (HR. al-Bukhari) Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya. 2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata،¦ala Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata،¦ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata. Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata،¦ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Abul Husain al-Warraq berkata, "Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya." Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata،¦alaƒnlebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia. 3.Tidak Bosan Berdzikir Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata،¦ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata،¦ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya. 4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya. 5. Rindu Beribadah Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata،¦ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman. 6.Khusyu' dalam Shalat Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa. 7.Kemauannya Hanya kepada Allah Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata،¦ala. 8. Menjaga Waktu Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya. 9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata،¦ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata،¦ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya. Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang. Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata،¦ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya. Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata،¦ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya, ،§Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.،¨ (QS. 89:27-28) Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya. Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, "Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.،¨ Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, " Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.،¨ Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata،¦ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, "Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku." Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, "Telah disingkirkan keburukan dari sisiku." Semoga Allah subhanahu wata،¦ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin. Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.

Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (4/4)


Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Monday, 14 February 2005Sebagai penutup, kami sertakan satu dalil tambahan lalu memberikan pandangan yang benar terhadap (kehidupan) dunia itu sendiri agar tidak terkecoh seperti kaum sufi yang tersesat. Apakah kita harus menjauhi dunia dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya? Temukan jawabannya di sini,
2.6 Dalil Keenam Dari Abu Hurairah dia berkata: Saya telah mendengar Rosulullah bersabda:
"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pads hari kiamat ialah orang yang coati dalam peperangan. Dia dipanggil di hadapan Alloh dan diperkenalkan nikmat-nikmatNya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?" Dia menjawab: "Aku gunakan berperang untuk membela agama-Mu sehingga aku meninggal dunia."
Alloh berkata: "Kamu dusta, kamu melakukan itu hanyalah supaya disebut sebagai pemberani." Dan dia telah memperoleh gelar itu. Lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka.
Yang kedua seorang laki-laki ketika di dunia menuntut ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an. Dia dipanggil dihadapan Alloh dan diperkenalkan nikmat-nikmatNya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?". Dia menjawab: "Aku pergunakan untuk mempelajari ilmu dien dan aku mengajarkannya. Aku membaca Al-Qur'an untuk mencari keridhoan-Mu." Alloh berkata:
"Kamu dusta. Kamu berbuat itu supaya disebut sebagai orang pandai dan engkau ntentbaca Al-Qur'an ingin disebut sebagai ahli membaca Al qur'an". Dan dia telah memperoleh gelar itu. Lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka.
Yang ketiga orang kaya, karena Alloh memberi kelapangan dan macam-macam harta, dia dipanggil di hadapan Alloh dan diperkenalkan nikmatnikmat-Nya, orang itu mengakuinya.
Lalu Alloh bertanya: "Untuk apa nikmat itu?". Dia menjawab: "Tidaklah aku membiarkan jalart yang Engkau sukai apabila aku membelanjakannya melainkan aku membelanjakannya untuk mencari ridho-Mu." Alloh berkata: "Kamu dusta. Kamu melakukan itu hanyalah supaya disebut sebagai dermawan." Dan dia telah memperoleh gelar itu. lalu diperintahkan agar ditarik wajahnya dan dilemparkan di neraka. " 13
Kami simpulkan:
Orang yang beribadah untuk mencari kesenangan dunia atau popularitas maka hukumnya syirik dan neraka tempat kediamannya. Amalan ibadah akan diterima bila dzohirnya sesuai dengan sunnah dan hatinya ikhlas karena Alloh . Betapa tinggi nilai amalan hati, karena amalan anggota badan harus disertai dengan amalan hati, bukan sebaliknya. Keikhlasan hati hanya Alloh yang Maha Mengetahuinya kemudian sipelakunya, bertanyalah kepada dirimu: "Siapakah yang bisa menegur diriku jika niat atau tujuanku salah?". Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur'an maupun sunnah yang mengingatkan kita agar tidak terjerumus di dalam kemusyrikan atau kekafiran dan kehancuran, karena mencintai dunia yang berlebih-lebihan. Adapun dalil selain di atas masih banyak sekali.
3 Untuk Apa Dunia Ini? Setelah kita menelaah pembahasan di atas, bukanlah kita harus menjauhi dunia dan kenikmatannya sebagaimana yang difahami oleh kaum sufi yang tersesat.
Ketahuilah bahwa Alloh menjadikan dunia seisinya ini untuk kita umat manusia sebagaimana disebutkan didalam surat Al-Baqoroh ayat 29.
Para utusan Alloh menikmati dunia, mereka makan dan minum, menikah dan mencari nafkah, bahkan Nabi Muhammad melarang orang yang mengharamkan dirinya dari kenikmatan dunia karena ingin memfokuskan ibadahnya kepada Alloh. Beliau berpuasa dan berbuka, beliau shalat malam dan tidur, beliau menikah bahkan menganjurkan umatnya agar segera menikah. Beliau melarang umatnya membujang dan mengebiri.
Tetapi lihat ibadah beliau dan para sahabatnya, lihatlah ibadah pembela-pembelanya, seperti ahli hadits, ahli tafsir, ahli fikih. Mereka bersunguh-sungguh menegakkan syariat Islam bukan hanya lewat mulut yang membual, berteriak kesana kemari: "Ayo tegakkan syariat Islam." Tetapi dibuktikan di dalam kesungguhan mereka menuntut ilmu dien, mengamalkan dan mendakwahkannya, baik secara lisan atau tulisan.
Mereka sabar menghadapi kemiskinan, cobaan dan penganiayaan karena menyampaikan yang haq. Mereka ridho dengan kenikmatan dunia yang sedikit dan penuh dengan kekurangan untuk mencari ridho Alloh yang abadi kelak di akhiratnya.
Jasad mereka sudah dikubur, mereka tidak meninggalkan harts benda yang menjadi perebutan umat sesudahnya dan tidak meninggalkan hutang yang menjadi beban pengikutnya. Tetapi meninggalkan warisan yang tidak bisa dihabiskan oleh orang yang `tamak' mengambilnya.
Mereka sudah meninggal dunia tetapi selalu diingat jasa kebaikannya. Ilmu mereka selalu menyinari umat yang mendapatkan taufiq dari Robbnya. Silakan simak riwayat hidup mereka ketika menuntut ilmu, ketika menyampaikan ilmu kepada umat, lihat kesederhanaan urusan dunianya.
Insya Alloh dengan membaca kitab-kitabnya, engkau akan dapat mengetahui betapa indah kehidupan mereka di dunia, apalagi di akhiratnya. Lalu bandingkan dengan kehidupan kita umat Islam di zaman sekarang, apa yang mereka prioritaskan, dan apa yang mereka lupakan dan apa kerugiannya?
Akhirnya mari kita mohon kepadaAlloh semoga kita senantiasa mendapatkan hidayat-Nya, dimudahkan untuk menelaah ajaran Islam dengan pemahaman salaful umat dan dimudahkan untuk mengamalkannya dan mampu mendakwakannya dan diberi kesabaran setiap menghadapi rintangan karena membela ajaran-Nya.


--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...13 HR. Muslim (dalam) Kitabul Imaroh.
--------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari majalah Al-Furqon 4/II/1423H hal. 23 - 24.

Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (3/4)


Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Sunday, 13 February 2005Melanjutkan pembahasan yang lalu, masih mengenai dalil-dalil yang membuktikan bahwa penyebab kekufuran (salah satunya) adalah cinta kepada dunia. Hal ini tidak lain hanya untuk menguatkan alasan dan juga untuk menunjukkan betapa bahayanya sikap cinta terhadap dunia. Dalil-dalil kali ini cukup panjang pembahasannya dari pada dalil sebelumnya.
2.4 Dalil Keempat:
Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka kami akan penuhi mereka usahanya di dunia dan mereka tidak dirugtkan.- Mereka di akhirat tidak mendapatkan apa-apa melainkan api neraka dan gugurlah apa yang mereka kerjakan di dunia dan batal apa yang mereka kerjakan. (QS. Hud: 16). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab tauhidnya menulis judul "termasuk syirik orang yang beribadah untuk kepentingan dunia " lalu beliau berdalil dengan ayat tersebut. 7
Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Ali Syaikh berkata:
"Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin menjelaskan kepada kita semua bahwa amalan ibadah yang diperuntukkan untuk mencari dunia tergolong syirik, menghapus kemumian tauhid dan menghapuskan amalan shalih.
Bahkan lebih berbahaya dari pada riya'. Karena orang yang bertujuan mencari dunia selalu memusatkan ibadahnya untuk kepentingan dunia belaka. Berbeda dengan perbuatan riya', tidak selamanya terjadi. Oleh karenanya, orang mukmin harus menjauhi dua perkara yang sangat membahayakan ini". 8 Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas demikian:
"Barang siapa yang beribadah dengan maksud untuk mendapatkan imbalan harta, maka Alloh akan membalasnya berupa kesehatan dan kesenangan dunia, tetapi di akhirat mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan neraka". Qotadah menafsirkan:
"Barang siapa menilai dunia ini sebagai tujuan utama hidupnya makaAlloh akan membalas amalannya di dunia berupa kenikmatan dunia saja, sedangkan di akhirat tidak mendapatkan apa-apa". 9 Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab pernah ditanya makna ayat ini, beliau menjawab:
Orang yang beramal shalih karena Alloh, seperti mengerjakan shalat, bersilaturahmi dan meninggalkan perbuatan dzalim, tetapi tidak berniat untuk mendapatkan pahala akhirat, dia menginginkan agar berkembang hartanya dan keluarganya sehat, maka dia akan memperoleh dunia saja, sedangkan di akhiratnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikianlah perkataan Ibnu Abbas. Lebih berbahaya dari pada yang pertama, yaitu orang beramal shalih hanya ingin mencari pujian manusia, tidak ingin mencari pahala demikianlah perkataan Mujahid Orang beramal shalih hanya ingin mendapatkan keuntungan dunia, seperti menjalankan haji dan berhijrah hanya untuk meraih harta dan wanita, atau belajar agama Islam agar menjadi pengajar dan memperoleh pekerjaan di sekolahnya atau untuk meraih jabatan yang tinggi, dia belajar membaca Al-Qur'an dan membagusi shalatnya agar diangkat sebagai pegawai masjid sebagaimana kenyataannya pada zaman sekarang. Orang yang taat kepada Alloh dan ikhlas, tetapi dia mengamalkan amalan kufur seperti orang Yahudi dan Nasroni maka amalnya ditolak, demikian juga umat yang berbuat kemusyrikan, amalannya tidak diterima. 10
Kami simpulkan:
Beramal shaleh untuk meraih dunia adalah syirik, maka bagaimana jika beramal dengan perbuatan syirik? Orang beribadah untuk kepentingan dunia, akan disiksa kelak di akhiratnya.
2.5 Dalil kelima: Dari Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda:
Hancurlah penyembah dinar, hancurlah penyembah dirham, dan binasalah penyembah pakaian dari sutra dan wol, jika diberi, dia rela, jika tidak diberi dia marah, binasa dan terbalik kepalanya. 11 Ibnu Taimiyah berkata:
"Nabi menamakan pecinta dunia dengan sebutan penyembah dunia. Hadits ini juga mengandung doa semoga penyembah dunia celaka.." Beliau berkata:
"Orang yang mencari harta ada dua macam, Pertama, bila dia mencarinya untuk sekedar menutup kebutuhannya seperti makan, minum, menikah, kebutuhan tempat tinggal dan semisalnya, maka dianjurkan, karena harta sebagai wasilah untuk beribadah kepada Alloh.
Menurut golongan ini, harta baginya ibarat kendaraan dan hamparan, artinya di waktu dia membutuhkan dia menggunakannya, orang ini tidak dinamakan penyembah dunia.
Adapun yang kedua: mereka mencari harta melebihi kebutuhan, hatinya selalu memikirkannya sehingga lupa ibadah kepada Alloh. Mereka senang apabila mendapatkan harta, dan marah bila -tidak mendapatkannya, inilah penyembah dunia". 12
Kami simpulkan:
Betapa rugi penyembah dunia. Belum tentu bahagia di dunia, tapi pasti celaka di akhiratnya. Jadikanlah dunia sebagai budakmu, jangan sebaliknya.

--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...7 Lihat Fathul Majid hal 126. ...8 Lihat Fathul Majid hal. 451. ...9 Lihat Fathul Majid 452. ...10 Lihat Fathul Majid: 454. ...11 HR Bukhori (dalam) Kitabul Jihad. ...12

Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (2/4)


Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Sunday, 13 February 2005Salah satu alasan mengapa sikap cinta dunia merupakan faktor utama kehancuran manusia adalah sikap itu merupakan penyebab kekufuran. Benarkah demikian? Apa yang mendasarinya? Simak sebagian dalil-dalil dan keterangannya berikut ini.
2 Cinta Dunia Penyebab Kekufuran? Selanjutnya marl kita menyimak dalil dari Al-Qur'an dan sunnah serta fatwa para ulama' untuk mendapatkan jawabannya.
2.1 Dalil Pertama
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (orang munafiq tentang perkataannya), tentu mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya senda gurau dan main-main".
Katakanlah: "Apakah dengan Alloh dan ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu sekalian berolok-olok? "
Janganlah kamu minta maaf, sungguh kamu telah kufur setelah kamu beriman, jika Kami memaafkan sebagian golongan dari kamu (karena bertaubat), maka aku akan mengazab sebagian kelompok yang lain, karena mereka itu orang-orang yang berdosa. (QS. At-Taubah: 65-66). Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di berkata:
"Ada sebagian orang Islam yang pernah ikut perang Tabuk berkata Tidaklah kita melihat Qurro' kita yaitu Nabi Muhammad dan para shahabatnya melainkan orang yang paling besar perutnya, paling pendusta bila berbicara dan paling penakut bila berjumpa dengan musuh dan lain-lain. Tatkala omongan mereka itu sampai kepada Rosulullah mereka datang kepada Nabi untuk minta maaf,
"Wahai Nabi! Kami hanya bersenda gurau, tidak bermaksud untuk menghina dan mencaci." Maka Alloh menurunkan ayat menolak alasannya, bahkan Nabi diperintah agar memberitahu kepadanya,
Pantaskah kamu mengolok-olok Alloh, ayat dan Rasul-Nya, kamu jangan minta maaf, kamu telah kafir setelah kamu beriman. Ayat ini sebagai dalil juga bahwa siapa saja bertujuan menghina agama Alloh dan Rasul-Nya dengan rahasia, maka Alloh akan membuka aibnya dan dia itu kafir kecuali bila dia segera bertaubat." 2
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:
"Apabila kamu telah mengerti bahwa sebagian manusia yang pernah ikut perang bersama Rasulullah ketika melawan bangsa Romawi, mereka menjadi kafir karena mengolok-olok Nabi dan para shahabatnya walaupun hanya dengan senda gurau.
Maka lebih jelas lagi bagimu bahwa orang yang mengeluarkan perkataan kafir karena takut akan kekurangan harta, turun jabatannya atau takut dihina oleh manusia adalah lebih kejam dan berbahaya daripada senda gurau." 3 Abdul Aziz Lathif menambahkan:
"Apabila ada orang yang diperintah agar mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat, lalu matanya memicing, lidahnya menjulur, bibirnya mencibir, mereka tergolong mengolok-olok dinul Alloh dan amalannya termasuk kufur, maka bagaimana hukumnya dengan orang yang melecehkan tauhid?" 4
Kesimpulannya:
Bukankah orang yang mengolok-olok Islam dan pemeluknya dikatakan kafir karena ingin melampiaskan hawa nafsunya dan ingin mencintai dunia? Waspadalah! Jikalau orang yang mencemooh dan menghina Islam dengan senda gurau saja hukumnya kafir, bagaimana bila disertai dengan kesengajaan? Sebagaimana mulut tokoh tokoh yang pada zaman sekarang ini mengaku sebagai pembela Islam? Tidaklah diragukan lagi mereka itu kafir, pembela dunia, pembela hawa nafsu syaithoniyah dan harus segera bertaubat. Jika tidak, dia adalah kafir. Oleh karena itu, waspadalah wahai pengikut bila kamu punya pimpinan.

2.2 Dalil Kedua:
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu di neraka yang paling bawah dan tidaklah engkau menjumpai. baginya penolong " (QS. An-Nisa': 145). Mengapa mereka di neraka yang paling bawah? Bukankah mereka menjalankan shalat, ikut berjamaah, berdzikir, mengeluarkan zakat dan beramal shaleh? Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di menjawab:
"Karena mereka ikut mengingkari Alloh dan memusuhi Rosul-Nya, bahkan mereka memusuhi dan membuat makar kepada kaum mislimin dengan cara yang halus, sulit diraba". 5
Kami simpulkan:
Orang-orang munafik menyembunyikan kekafiran dan pura-pura membela Islam tidak lain disebabkan karena cinta dunia dan takut mati. Orang yang beramal hanya mencari dunia, akan celaka di akhiratnya. Tauhid bukan hanya pengakuan hati, tetapi harus dibuktikan dengan lisan dan perbuatan, jika salah satunya hilang, lenyaplah keislamannya.
2.3 Dalil Ketiga:
Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar.
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. An-Nahl: 106-107). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:
"Ayat di atas menerangkan bahwa Alloh tidak menerima udzur apapun dari hambaNya yang berbuat kekafiran melainkan orang yang dipaksa, tetapi hatinya masih tetap teguh dengan keimanan.
Adapun selain dipaksa tetap dikatakan kafir, baik dengan alasan khawatir kekurangan harta, atau karena ingin meraihnya, takut dihina oleh manusia, atau karena ingin membela keluarga dan harta, atau pun hanya karena bersenda gurau.
Mengapa demikian? Sebab dalam ayat di atas ada dua pembahasan yang pokok. (Illaa man ukriha = kecuali dipaksa). Perlu difahami bahwa manusia hanya mungkin mendapat paksaan dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Sedangkan hati, tidak ada seorangpun yang bisa memaksanya. (dzalika biannahumus tahabbul hayaatad dunyaa 'alal aakhirati = yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka, mencintai kehidupan di dunia melebihi dari akhirat). Alloh menjelaskan bahwa amalan kufur yang pelakunya berhak diazab dengan adzab yang pedih bukanlah karena sebab keyakinan hati, atau karena kebodohan, atau karena membenci agama Islam, atau karena mencintai kekafiran, tetapi karena ingin meraih dunia dengan memojokkan agama Islam". 6

Kami simpulkan:
Orang yang berbuat kufur karena ingin meraih dunia maka dia itu kafir. Orang yang berbicara kufur karena ingin meraih dunia, dia itu pun kafir. Kekafiran mungkin terjadi sebab keyakinan saja, perkataan saja atau perbuatan saja. Bisa jugs terjadi karena, keyakinan dan perkataan, keyakinan dan perbuatan ataupun karena keyakinan, perkataan dan perbuatan sekaligus.

--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...2 Lihat Tafsir Al-Karimur Rahman hal. 300. ...3 Lihat kitab Kasyfus Syubuhat hal 129 syarah Abdul Aziz Lathif. ...4 Lihat kitab Tarikh Ibnu Ghonim 2/319 dan Kasyfus Syubuhat hal 128. ...5 Lihat Tafsir Al-Karimur Rahman hal 174. ...6 Lihat Kasyfus Syubuhat hal. 128 Syarah Abdul Aziz Lathif.
--------------------------------------------------------------------------------

Cinta Dunia, Faktor Kehancuran Manusia (1/4)


Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron , ditulis oleh Administrator Wednesday, 09 February 2005Sebagaimana yang rasulullah beritakan, bahwa nanti jumlah umat Islam banyak, namun lemah bagaikan buih di lautan. Salah satu penyebabnya adalah Al-Wahn. Beliau langsung menafsirkan maksud Al-Wahn adalah "cinta dunia dan takut mati." Oleh karena itu, perlu kami bahas di sini mengenai cinta dunia, sebagai faktor kehancuran bagi manusia. Berikut pengantar dari bahasan ini.
1 Mengapa Harus Dibahas? Sering kita dengar pecinta dunia mengatakan:
"Yang penting mencari rizki", "yang penting makan", "Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal", "kalau jujur, kita akan ditinggal kawan",
"Buat apa kamu belajar agama? Kamu tidak akan memperoleh pekerjaan", "Belajarlah agama supaya kamu mendapat ijazah untuk mencari pekerjaan", "Perbaikilah perekonomianmu sebelum beribadah", "waktu adalah uang",
"Umat Islam tidak boleh ketinggalan zaman, zaman edan kitapun hams edan", "lihat... umat Islam miskin dan lemah, lihat orang kafir kaya dan menang", "orang kafir lebih maju, mampu menguasai dunia dari pada umat Islam". Itulah obrolan dan perbincangan yang memusingkan umat di zaman sekarang, sehingga mereka harus menjauhkan dinul Islam dari kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Mereka mengetahui bahwa pendidikan adalah bibit pertumbuhan generasi masa depan dan pelanjut generasi tua yang akan mengembangkan perekonomian, dan jika Islam dikajikan di dalam pendidikan akan menghambat kemajuan. Kita berfikir, bila yang punya obrolan di atas orang kafir, memang benar. Karena Alloh berfirman:
"Dan orang-orang kafir itu berkata: janganlah kamu dengarkan dengan sungguh-sungguh Al-Qur'an ini, dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (QS. Fushilat: 26). Itulah konsep hidup mereka, mereka tidak suka mendengarkan Al-Qur'an, apalagi membaca dan menelaahnya, mustahil mereka akan membela Islam dengan mendirikan pendidikan dan memasukkan anaknya didalam pendidikan Islam, karena orientasi hidup mereka adalah mengumpulkan harta. Oleh karena itu, segala aktifitas yang dinilai mengganggu kelancaran mencari uang harus dijauhkan, terutama ajaran Islam.
Berikutnya, bila yang punya obrolan di atas orang ahli kitab yaitu orang Yahudi dan Nasroni, memang benar, karena Alloh berfirman:
"Dan tidak akan ridho orang Yahudi dan Nasroni kepadamu sehingga engkau mengikuti agamanya. Katakanlah (hai Muhamad) sesungguhnya petunjuk Alloh itulah benar-benar petunjuk, dan jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu itu datang kepadamu, maka tidak atla bagimu dari Alloh wall dan penolong." (QS. Al Baqoroh: 120). Itulah kedengkian orang Yahudi dan Nasroni kepada umat Islam yang tidak pernah padam, menyala ketika mereka mendengar bahwa Rasulullah diutus bukan dari golongannya. Sampai saat ini, bahkan sampai hari kiamat mendatang.
Itulah bahaya orang yang kebakaran jenggot karena khawatir hilang kedudukannya dan mengais kemewahan dunia, mereka rela mengorbankan tauhid dan Islam. Naudzu billahi nun dzalik. Jika yang punya obrolan di atas orang munafiq, memang benar, karena Alloh berfirman:
Di dalam hati-hati mereka itu ada penyakit, maka Alloh menambah penyakit mereka, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih disebabkan mereka itu mendustakan. (QS. Al-Baqoroh: 10). Orang munafik memang punya simpanan penyakit hati, yaitu penyakit syubhat dan keraguan. Apabila mereka mendengar ayat Al-Quran dan sunnah, bertambah kambuh penyakitnya.
Sebaliknya, jika mendengar nyanyian atau kenikmatan dunia bertambah senang. Oleh karena itu, mereka selalu. menutup telinga dan menjauh ketika mendengarkan ayat dan sunnah, karena khawatir merugikan urusan dunianya.
Mereka menyembunyikan kekafiran di hadapan kaum muslimin karena takut mendapatkan permusuhan. Sebaliknya mereka menampakkan kekafiran di hadapan orang kafir karena takut dikatakan pembela Islam. 1 Begitulah kehidupan mereka, serba bingung karena ingin mencari keuntungan dunia dari dua belah pihak.
Tiga kelompok di atas sangat membahayakan kaum muslimin, karena mereka ingin menghancurkan Islam lewat gerakan pengerhbangan kesenangan dunia. Dan yang paling berbahaya adalah kelompok munafiqin, karena mereka hidup dalam satu selimut bersama kaum mislimin.
Inilah pentingnya kita bahas,
"barangsiapa ingin meraih kenikmatan dunia dengan mengorbankan Islam, baik dengan perkataan atau perbuatannya, basa basi atau dengan serius, dengan kerelaan hati atau benci, maka hukumnya kufur".

--------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kaki...1 Silakan simak surat Al-Baqoroh sesudah ayat yang ke tujuh.
--------------------------------------------------------------------------------

BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH ?

(Naskah ceramah Syaikh Sholeh bin Abdil 'Aziz Ali Asy-syaikh (
Pada rabi'uts tsani 1411 H
Alih Bahasa :
Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc.

Muqoddimah

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman : (لكل أمة جعلنا منسكاهم ناسكوه فلا ينازعنك في الأمر وادع إلى ربك إنك لعلى هدى مستقيم . وإن جادلوك فقل الله أعلم بما تعملون . الله يحكم بينكم يوم القيامة فيما كنتم فيه تختلفون)
Artinya : Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah : " Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.Allah akan mengadili diantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya. (Surat Al-Hajj : 67 – 69)
Dan segala puji baginya yang telah berfirman :
(أليس الله بكاف عبده ويخوفونك بالذين من دونه ومن يضلل الله فما له من هاد. ومن يهد الله فما له من مضل أليس الله بعزيز ذي انتقام)
Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya . Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.
(Surat Az-Zumar : 36)
Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak untuk disembah dengan benar melainkan Allah tiada sekutu baginya, persaksian orang yang telah merasuk ketauhidan didalam lubuk hatinya, dan dia mengetahui apa – apa yang dicintai Allah dan yang diridhoi-Nya dari perkataan maupun perbuatan.
Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan, pilihan serta kekasih-Nya, dialah pemberi kabar gembira sekaligus peringatan, beliau bersabda dan memberi pelajaran, maka beruntunglah bagi yang mengambil sunnah dan mengikuti jejak
serta meneladani petunjuknya, semoga shalawat Allah baginya, keluarga, shahabatnya, serta yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat nanti, kemudian setelah itu :
Wahai saudaraku berlindunglah kepada Allah dari segala bentuk fitnah, berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang merusak agama ini, merusak pikiran, badan serta merusak segala bentuk kebaikan, berlindunglah kepada Allah dari itu semua, karena tidak ada kebaikan didalam fitnah itu selamanya.Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan darinya.
Oleh karena itulah ketika Bukhari –rahimahullah- menyebutkan didalam Shahihnya kitab Al -fitan beliau memulainya dengan perkataan : ( Bab : firman Allah ta'ala :
(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)
Artinya : Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantara kamu . (Surat Al-Anfal : 25)
Dan dahulu Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- memperingatkan dari fitnah itu).
Fitnah itu apabila telah datang tidaklah akan menimpa orang yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya, dan tidak akan meninggalkan perkataan orang yang berkata . Maka wajib bagi kita untuk berhati – hati dari fitnah sebelum terjerumus kedalamnya, serta menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari setiap hal yang mendekatkan kepada fitnah karena termasuk tanda-tanda akhir zaman adalah banyaknya fitnah sebagaimana yang telah tersebut didalam hadits shohih bahwasanya Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda : (tanda – tanda akhir zaman adalah ..pent-cepatnya waktu, sedikitnya amal, meratanya kebakhilan, banyaknya atau nampaknya fitnah ).
Karena fitnah itu apabila telah tampak maka akan selalu mengiringinya kerusakan yang mendekatkan kepada hari kiamat.
Termasuk dari kasih-sayangnya Nabiyullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- kepada kkita adalah peringatan beliau untuk kita berhati-hati dari terjerumus kedalam segala bentuk fitnah.
Allah subhanahu wa ta'ala telah memperinngatkan kita dengan firman-Nya :
(واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة)
Berkata Ibnu katsir rahimahullah didalam mentafsiri ayat ini : (Ayat ini walaupun ditujukan kepada Shahabat akan tetapi dia itu umum untuk setiap muslim karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan dari segala bentuk fitnah).
Berkata pula Al- alusy didalam tafsirnya tentang ayat ini : (ditafsirkan fitnah didalam ayat : ( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )
dengan sikap bertoleransi didalam menyuruh yang baik dan melarang yang mungkar, ditafsirkan pula dengan perpecahan dan perselisihan serta tidak adanya pengingkaran terhadap bid'ah yang telah tampak dan lain sebagainya).
Beliau pun berkata : (Semua makna tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi).
Maksudnya apabila zaman itu zaman perpecahan atau perselisihan maka seharusnya sebagian kita memperingatkan sebagian yang lain dengan firman-Nya :
( واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة )
Maksudnya adalah takutlah perpecahan dan perselisihan yang akibatnya tidak hanya menimpa mereka yang zhalim saja akan tetapi akan menimpa semuanya.
Oleh karena itulah kami pada kesempatan kali ini ingin mengingatkan tentang perkara ini, sebab kami melihat adanya kebangkitan islam yang lurus – dengan seizin Allah – di negeri ini (Saudi Arabia –pent-) yang tegak diatas tauhid dan seruan kepada peribadahan hanya kepada Allah saja pada masa ini, yang mana kita tidak melihat hal demikian itu kecuali yang hanya dikehendaki oleh Allah.
Maka wajib bagi kami untuk mengingatkan mereka dan diri kami semuanya untuk terus menuntut ilmu yang bermanfaat dan memegang teguh aqidah para Salafush sholeh aqidah ahli sunnah wal jama'ah.
Sesungguhnya kebangkitan yang mubarak ini adalah kebangkitan yang kita meng harap darinya tersebar agama Allah dan menjadikan manusia cinta terhadap syariat ini serta istiqomah diatasnya, kita menginginkan darinya agar dia tetap diatas ilmu yang bermanfaat, sebab pemuda-pemuda kita pada saat ini mereka sangat berantusias sekali terhadap ilmu yang bermanfaat serta terhadap perkataan ahli sunnah wal jama'ah.
Oleh sebab itu wajib bagi saya untuk menukilkan, mengingatkan serta menerangkan kepada mereka beberapa perkataan Imam-imam kita ahli sunnah wal jama'ah yang dibangun diatas hadits Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam serta diatas firman Allah subhana.
Sesungguhnya fitnah apabila tidak diperhatikan keadaan serta tidak dilihat akibatnya maka akan berakhir dengan kejelekan, hal ini jika ahli ilmu tidak memperhatikan perkara- perkara baru yang timbul atau fitnah yang tampak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.
Ketentuan-ketentuan (dhowabith) dan kaidah-kaidah haruslah diperhatikan, karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari kekeliruan. Jika kita mengambil ketentuan-ketentuan syariat serta kaidah-kaidah tersebut dan kita pegang teguh maka akan kita hasilkan banyak sekali kebaikan dan kita tak akan menyesal selamanya –insya Allah-.
Ketentuan (Dhabith) pada setiap perkara haruslah diketahui, sehingga mudah bagimu –wahai saudaraku- untuk menjaga diri dari terseret kedalam akibat yang buruk atau kamu tidak bisa mengetahui apa akibatnya nanti, kemaslahatan atau kerusakan.
Dari sinilah kita mengetahui bahwasannya harus kita memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan ahlu sunnah wal jama'ah.
Apakah yang dimaksud dengan dhobith (ketentuan) dan kaidah itu ?
Dhobith didalam suatu masalah itu adalah apa-apa yang dengannya kita mengetahui bagaimana menghukumi masalah-masalah disuatu bab dan kepadanyalah dikembalikan permasalahan-permasalahan di bab tersebut.
Adapun kaidah itu adalah perkara menyeluruh yang merujuk kepadanya masalah-masalah dibab-bab yang berbeda.
Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mengambil ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang dipakai Ahlu sunnah wal jama'ah.
Nabi shallallahu 'alahi wa sallam pernah bersabda : ( إنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا, فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ).
Artinya : Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian akan melihat perselisihan yang banyak maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa' rasyidin setelahku, pegang dan gigit dengan gigi-gigi geraham.( Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), dan Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah(43,44)
Sungguh para Shahabat telah melihat perselisihan tersebut dan tidaklah mereka itu selamat melainkan karena berpegang teguh dengan kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafa' rasyidin setelahnya.

MANFAAT YANG BISA DIAMBIL DARI BERPEGANG DENGAN KETENTUAN-KETENTUAN DAN KAIDAH-KAIDAH INI.
PERTAMA :Bahwasanya memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut akan menjaga gambaran seorang muslim dari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat dan sekaligus memantapkan pikirannya tentang gambaran tersebut.
Telah dimaklumi bahwa seorang muslim apabila menghadapi suatu masalah tanpa dhobith dan kaidah akan terombang-ambing didalam perbuatannya terhadap diri, mau pun keluarganya, masyarakat serta umatnya.
Dari sinilah kita mengetahui pentingnya ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah itu karena dia akan mengatur akal seorang muslim didalam gambaran-gambarannya yang merupakan sumber dari perbuatannya didalam diri, keluarga, ataupun masyarakatnya. KEDUSA
KEDUA : Kemudian didalam memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tersebut ada manfaat yang lain yaitu dia akan menjaga seorang muslim dari kesalahan, karena kalau dia berjalan hanya berlandaskan diatas pendapatnya saja didalam menghadapi apa yang dia temui atau dalam menghadapi fitnah jika telah tampak dan mencari jalan keluar dengan mengandalkan akal pikirannya saja tanpa peduli dengan dhowabith serta kaidah-kaidah Ahli sunnah wal jama'ah maka dikhawatirkan akan terjerumus kedalam kesalahan dan jika itu terjadi maka akan berakibat fatal karena kesalahan ini akan bercabang dan berkembang dan mungkin juga bertambah.
Dhowabith dan kaidah-kaidah ini apabila kita berpegang teguh kepadanya akan kita dapati banyak sekali manfaatnya, sebab dia akan menjaga kita dari kesalahan.
Mengapa bisa demikian ?
Karena siapakah yang membuat dhowabith dan kaidah-kaidah tersebut ? Yang membuatnya adalah Ahlu sunnah wal jama'ah berdasarkan dalil-dalil.
Maka barangsiapa berjalan dibelakang dalil dan mengikuti ahlu sunnah wal jama'ah maka dia tidak akan menyesal selamanya.
KETIGA : Termasuk dari faedah mengikuti dhowabith serta kaidah-kaidah itu adalah bahwasannya dia akan menyelamatkan seorang muslim dari dosa, sebab jika dia berjalan hanya berlandaskan kepada akal pikirannya saja dan kamu juga seperti itu dan kamu sangka ini adalah benar tanpa peduli terhadap dhowabith serta kaidah-kaidah tersebut maka sesungguhnya kamu tidak akan bisa selamat dari dosa, karena kamu tidaklah tahu apa yang akan terjadi akibat dari perkataan serta perbuatanmu jika kamu berjalan hanya berlandaskan akal pikiran saja atau perasaanmu yang kau kira itu benar.
Adapun apabila kamu mengambil sesuai dengan apa-apa yang ditunjukkan oleh dalil dari dhowabith dan ushul yang global maka kamu akan selamat dari dosa - insya Allah – dan Allah azza wa jalla akan mengampunimu karena kamu berjalan sesuai dengan dalil dan sungguh baik orang yang mengambil dalil sebagai pedomannya.
Oleh karena itulah –wahai saudaraku- telah jelas bagi kita keharusan untuk meng ambil dhowabith serta kaidah-kaidah yang akan datang penjelasannya.
Dhowabith dan kaidah-kaidah ini sumber dan dalilnya adalah satu dari dua perkara yaitu :
PERTAMA : Nash bagi kaidah dan dhobith tersebut didalam dalil-dalil syar'i seperti didalam Al-qur'an dan sunnah serta diamalkan oleh ahlu sunnah wal jama'ah.
KEDUA : Sunnah yang diamalkan oleh para Shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena para Shahabat, Tabi'in setelah mereka serta para Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah mereka memiliki sikap dalam menghadapi fitnah apabila telah tampak dan didalam keadaan yang telah berubah, mereka mensikapinya sesuai dengan dalil-dalil, kemudian mempraktekkannya dalam perbuatan .
Oleh karena itulah penglihatan, akal pikiran kita tidak akan tersesat jika kita meng ikuti jejak mereka. Dan ini adalah rahmat Allah bagi kita yang mana Dia tidak meninggal kan kita tanpa sauri tauladan, dan ulama Ahlu sunnah wal jama'ah itulah yang harus kita jadikan pemahaman, pemikiran dan perkataan mereka sebagai rujukan karena merekalah yang lebih tahu tentang syari'at ini, serta merekalah yang lebih paham tentang kaidah-kaidah global serta dhowabith yang bisa menjaga kita dari kesalahan dan dari ketergelin ciran.
Dari sini telah jelas bagi kita kewajiban untuk mengambil kaidah-kaidah dan dhowa bith yang akan saya jelaskan dan telah jelas juga bagi kita manfaat dari mengambil kaidah-kaidah dan dhowabith itu serta pengaruhnya bagi diri dan masyarakat kita. Maka berun tunglah bagi mereka yang berjalan dibelakang orang yang mendapat petunjuk dan yang sesuai dengan dalil-dalil dan dia tidak akan menyesal untuk selama-lamanya.

DHOWABITH DAN KAIDAH-KAIDAH SYARIAT YANG WAJIB DIIKUTI DIDALAM MENGHADAPI FITNAH
PERTAMA : Apabila fitnah telah muncul dan keadaan sudah berubah maka wajib bagi kita untuk bersikap lemah lembut, berhati-hati tidak tergesa-gesa serta santun.
Ini merupakan kaidah yang penting yaitu :
1. Lemah lembut, karena nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shohih : (Tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali akan baik sesuatu itu dan tidaklah dia dicabut dari sesuatu itu kecuali dia akan menjadi buruk).
Berkata Ahli ilmi : sabda beliau ini (tidaklah dia ada pada sesuatu kecuali dia akan
baik) kata (شيء / sesuatu) adalah umum, dia datang setelah konteks peniadaan, hal ini mengharuskan mencakup segala sesuatu, yaitu bahwasanya lemah lembut itu terpuji disegala keadaan.
Dan didalam hadits yang lain Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda : (Sesung
guhnya Allah mencintai lemah lembut disegala perkala) hal ini beliau katakan kepada 'Aisyah As-siddiqah binti As-siddiq dan Imam Bukhari memberikan salah satu judul didalam kitabnya ash-shohih ( bab lemah lembut disegala perkara ).
Maka wajib bagi kamu untuk berlemah lembut disegala perkara dan berhati – hati jangan cepat marah serta kasar, karena kamu tidak akan menyesal selamanya kalau kamu berlemah lembut, tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali sesuatu itu akan baik didalam pemikiran, didalam mensikapi, didalam menghukumi dan lain sebagai nya.
Wajib bagi kamu untuk bersikap lemah lembut jangan tergesa-gesa dan jangan bersama orang yang tergesa-gesa, akan tetapi berhati-hatilah dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shllallahu 'alahi wa sallam : (tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu melainkan sesuatu itu akan baik).Ambillah perkara yang baik dan jauhilah perkara yang buruk yaitu dengan dicabut nya sikap lemah lembut.
2. Berhati-hati, bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais : (Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang Allah dan Rasul-Nya mencintai keduanya yaitu santun dan berhati-hati).
Berhati-hati itu adalah perangai yang terpuji, oleh karena itulah Allah berfirman :
( و يدع الإنسان بالشر دعاءه بالخير و كان الإنسان عجولا ) Artinya : Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Surat Al-Isra' : 11)
Ahlu ilmi berkata : disini ada celaan bagi manusia yang mana mereka selalu tergesa-gesa, maka barang-siapa yang memiliki perangai seperti ini maka dia tercela, oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah tergesa-gesa.
3. Santun dalam menghadapi fitnah dan ketika terjadi suasana yang tidak menentu adalah suatu hal yang sangat terpuji, karena dengan santun itulah seorang akan dapat melihat setiap permasalahan dengan sebenarnya.
Diriwayatkan dalam shohih Muslim dari hadits Al-laits bin sa'ad dari Musa bin 'ali dari ayahnya bahwasanya Al-Mustaurid Al-Qurasy ada disisinya 'Amru bin Al-ash -radhiyallahu 'anhu-dia berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda : (pada waktu terjadinya kiamat Rum adalah orang yang terbanyak) berkata 'Amru bin Al-'ash kepada Al-Mustaurid : bagaimana menurutmu ? dia menjawab : mengapa aku tidak mengatakan apa-apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ? dia berkata : jika memang demikian maka sebabnya adalah karena Rum memiliki empat perangai :
1. Mereka orang yang paling bersabar ketika menghadapi fitnah
2. Mereka orang yang paling cepat sadar ketika ditimpa musibah
3. dst...
Dan beliau menyebutkan keempat-empatnya bahkan menambahnya sampai lima.
Berkata ahlu 'ilmi : perkataan ini adalah dari 'Amru bin Al-ash bukan untuk memuji orang -orang Romawi dan nashara yang kafir, tidak ! akan tetapi untuk menjelaskan kepada kaum muslimin bahwasannya keberadaan Rum dan banyaknya jumlah mereka sampai datangnya hari kiamat nanti itu disebabkan karena mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi fitnah dengan kesantunan yang mereka miliki itulah mereka dapat melihat setiap permasalahan sekaligus menyelesaikannya dengan baik sehingga mereka dan golongannya tidak binasa.
Dan inilah yang dikatakan oleh As-Sanusy dan Al-Ubby dalam syarahnya terhadap shohih muslim.
Disini terdapat peringatan halus, karena Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam mengabar kan bahwasannya tidak akan terjadi hari kiamat sampai Rum menjadi orang yang terbanyak, mengapa ?
Berkata 'Amru bin al- 'ash : karena mereka memiliki empat perangai diantaranya adalah bahwasanya mereka adalah orang yang paling santun dalam menghadapi perubahan zaman dan ketika menghadapi fitnah, mereka santun, tidak tergesa-gesa dan tidak cepat marah untuk menyelamatkan teman-teman mereka dari pembunuhan ataupun fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa kalau fitnah itu muncul maka akan menimpa mereka, dengan perangai itulah mereka bertahan sampai hari kiamat dan menjadi orang yang terbanyak.
Sungguh sangat mengherankan jika kita tidak mengambil perangai ini, yang mana 'Amru bin al-'ash menyebut Rum karenanya dan mereka memiliki perangai yang terpuji tersebut. Sebetulnya kitalah yang lebih pantas dengan segala kebaikan daripada selain kita. Santun adalah sangat terpuji didalam segala hal karena dia akan menerangi pikiran orang yang berakal didalam menghadapi fitnah dan ini menunjukkan atas keberadaan akal pikirannya.
Ini adalah dhobith yang pertama serta kaidah yang awal yang selalu diperhatikan oleh Ahlu sunnah wal jama'ah ketika munculnya fitnah dan berubahnya zaman.
Dhowabith dan qawaid ini sebagiannya dhobit dan sebagian lagi kaidah aku (pengarang) menggabungkannya karena ada persamaan makna diantara keduannya.
KEDUA : Apabila fitnah telah tampak dan keadaan telah berubah janganlah kamu menghukumi terhadap sesuatu dari fitnah tersebut atau dari perubahan keadaan itu kecuali setelah mengetahui gambaran dari hal tersebut.Hal ini sesuai dengan qaidah :
( الحكم على شيء فرع عن تصوره )
( Menghukumi sesuatu itu merupakan cabang dari gambaran dari sesuatu itu )
Qaidah ini digunakan oleh orang yang berakal pikiran semuanya sebelum islam atau sesudahnya, dalilnya yang syar'i adalah firman Allah jalla wa'ala :
( و لا تقف ما ليس لك به علم )
Artinya : Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. ( Surat Al-Isra' : 36 )
Maksudnya adalah setiap perkara yang kamu tidak mengetahui, tidak memiliki gambaran serta tidak mempunyai bukti tentangnya maka jangan sekali-kali kamu berbicara tentang nya lebih-lebih kamu menjadi pelopor atau orang yang diikuti atau sebagai hakim atasnya.
( الحكم على شيء فرع عن تصوره )
Kaidah ini kalian mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari dan pada waktu
yang berbeda-beda. Akal pikiran selalu memperhatikan kaidah ini, tidaklah sesuatu
perbuatan itu akan baik tanpa memperhatikan kaidah ini, karena kalau tidak maka ia akan terjerumus pada kesalahan, syariat ini telah menekankan dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya akan kaidah ini.
Saya akan memberikan permisalahan tentang kaidah ini agar lebih jelas :
Contoh : jika aku bertanya kepada salah seorang diantara kalian dan aku berkata kepadanya apa hukum islam terhadap jual belih Al- murabahah ?
Mungkin salah seorang akan mengatakan : mencari untung adalah suatu hal yang dinginkan dan ini tidak ada larangannya dalam syariat maka tidak mengapa jual beli dengan al-murabahah.
Hukum orang tersebut terhadap masalah ini adalah salah karena dia tidak memiliki gambaran yang dimaksud dengan perkataan orang : apa hukum islam terhadap jual-beli dengan murabahah? Dia mengira bahwa yang dimaksud dengan murabahah adalah mencari keuntungan dalam berdagang, karena salah dalam menggambarkan masalah ini maka diapun salah dalam menghukuminya secara syar'i.
Hukum syariat haruslah dibangun diatas gambaran yang benar, murabahah adalah suatu bentuk jual beli yang dilarang yang banyak dipakai oleh beberapa bank yang menisbatkan kepada islam atau yang tidak, dengan menutupi riba didalamnya.
Gambarannya adalah dia dibangun atas dasar perwakilan kepada orang lain, setelah mewakilkan, disana ada keharusan untuk membayar atau menepati janji, dan janji yang dijanjikan oleh orang yang mewakilkan ini kepada wakilnya mengharuskan dia untuk menepatinya.Ini tidak diperbolehkan dalam syariat, maka jual beli dengan murabahah ini dilarang.
Contoh lain yang menjelaskan kaidah " Menghukumi sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu " jika aku bertanya kepada seseorang diantara kalian apa hukum kita terhadap kelompok syuhudu yahwa[1] ? apa yang akan dikatakan oleh seorang diantara kalian?
Jika dia tahu mungkin dia akan menjawab dia adalah kelompok begini dan begitu dan hukum islam terhadapnya adalah begini atau begitu. Atau juga dia mungkin berkata aku tidak tahu kelompok ini ! aku tidak pernah mendengarnya sebelum ini, dari sini kamu tidak bisa menghukumi kelompok tersebut.
Dan juga kamu tidak bisa menjelaskan hukum syariat atasnya karena kamu tidak memiliki gambaran tentang kelompok ini, siapakah mereka ? apa undang-undang dasar mereka ? apakah dia itu islamiyah atau nashraniyah atau yahudiyah ? kamu tidak bisa menghukumi nya kecuali setelah tahu gambarannya.
Jika hal ini telah jelas bagi kamu maka seorang hakim atau pemberi fatwa atau pembicara didalam masalah syariat dilarang untuk berbicara – dalam rangka untuk menja ga diri mereka dari dosa dan hak-hak kaum muslimin serta untuk berlepas diri dari berka ta kepada Allah tanpa ilmu - kecuali kalau memiliki dua perkara :
Pertama : Dia harus memiliki gambaran yang benar tentang perkara yang diajukan tidak tersamarkan dengan perkara yang lain, karena kadang kala beberapa perkara itu ada persamaannya dan gambaran dari permasalahan itu ada keserupaan dengan permasalahan yang lain maka pikiranmu akan berpindah kepermasalahan yang lain yang serupa dengannya, pada saat itulah kamu akan terjerumus pada kesalahan.
Kedua : Mengetahui hukum Allah dan hukum Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam terhadap permasalahan yang dihadapi bukan pada permasalahan yang serupa dengannya.
Apabila hal ini telah jelas, timbullah suatu pertanyaan yang penting, mungkin seorang dari kalian bertanya : bagaimana timbul penggambaran ini didalam diriku ?
Bagaimana aku menggambarkan permasalahan ini ? dari siapakah aku bisa menggambar kannya ? karena permasalahan- permasalahan ini ada persamaan dan keserupaannya, sebagiannya bermasalah dan sebagian lagi mungkin tidak didapati orang yang bisa menjelaskan atau yang menggambarkannya dengan gambaran yang benar.
Kami katakan : penggambaran yang dibangun diatasnya hukum syar'i itu adalah :
1.Dari orang yang meminta fatwa, sebab orang tersebutlah yang menghadapi masalah tersebut, jika dia bertanya atau menjelaskan masalah itu, akan timbullah gambaran darinya, maka pemberi fatwa akan menjelaskan hukumnya sesuai dengan keterangan dari penanya.
2.Gambaran tersebut diambil dari orang yang adil (yang baligh, berakal dan bukan fasik – pent) terpercaya dari kaum muslimin yang mana mereka ini dalam memberi kabar tidak keliru sehingga menyebabkan salah dalam menghukumi. Haruslah dari orang yang adil terpercaya dalam masalah ini.
Ketika terjadi fitnah dan kekacauan tidaklah boleh kita berpegang kepada perkataan orang kafir yang menjelaskan gambarannya atau menyebutkan jalan keluar dari masalah itu dalam siaran berita atau majalah atau yang lainnya. Ini tidak diperbolehkan secara syariat yaitu membangun suatu hukum syariat berdasarkan pemberitaan mereka, tapi hukum syariat haruslah berdasarkan kabar dari orang muslim yang adil dan terpercaya.
Hadits-hadits Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah diterima kecuali kalau datang dari jalan orang-orang yang adil, kuat hafalannya dari awal sampai akhir, apabila datang dari orang fasik maka dia ini tidak memiliki muru'ah dan jika datang dari orang yang tidak kuat hafalannya mungkin dia akan mencampur adukkan antara satu dengan yang lainnya dan ini tidak diterima serta tidak dibangun hukum syar'i diatasnya.Oleh karena itulah kita harus memperhatikan masalah ini.
Kesimpulannya : sesungguhnya kaidah ini (menghukumi sesuatu merupakan cabang dari gambaran terhadap sesuatu itu) pondasinya adalah penggambaran dan hal ini tidaklah akan benar secara syariat kecuali kalau datang dari seorang muslim yang adil terpercaya atau dari seorang penanya walaupun dia fasik.
KETIGA : Seorang muslim haruslah berpegang teguh dengan keadilan disetiap perkara.
Allah jalla wa 'ala berfirman : ) (وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذاقربى
Artinya : Apabila kamu berbicara maka berbuatlah yang adil walaupun kepada kerabat dekatmu . ( Surat Al-An'am : 152 )
Dan Dia berfirman : ( و لا يجرمنكم شنا ن قوم على أن لا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى )
Artinya : Dan janganlah kebenciannmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak berbuat adil, berbuat adillah karena itu lebih dekat kepada taqwa.( Surat Al-Maidah : 8 )
Sebetulnya masalah ini sudah dijelaskan dengan jelas sekali yaitu seorang haruslah berbuat adil dalam perkataan, dalam menghukumi.Barangsiapa yang tidak berbuat adil dalam berkata atau dalam menghukumi maka dia tidaklah mengikuti syariat ini yang diharapkan keselamatan bersamanya.
Apakah makna adil dalam kaidah ini ?
Maknanya adalah kamu mendatangkan perkara yang baik-baik dan perkara yang jelek, kamu datangkan sisi yang kamu sukai dan yang tidak kamu sukai[2] kemudian kamu timbang keduanya dalam timbangan yang satu, setelah itu kamu menghukuminya. Karena dengan itulah seseorang akan terjaga dari menisbatkan kepada syariat atau kepada Allah jalla wa 'ala atau kepada sunnah alam ini apa-apa yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan Allah jalla wa 'ala.
Menimbang antara yang baik dan buruk merupakan suatu keharusan, menampakkan keduanya didalam pikiran sampai mendapatkan suatu hasil yang syar'i, sehingga gambaran, perkataan, pemahaman, serta pendapatmu didalam fitnah menjadi penyelamat insya Allah ta'ala.
Ini adalah perkara yang penting dan sekaligus merupakan kaidah yang harus selalu diperhatikan karena barangsiapa yang tidak peduli dengannya maka dia akan terpengaruh oleh hawa nafsunya dan akan menular kepada yang lain yang akhirnya termasuk dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
( ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة )
Artinya : Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek maka dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam shohihnya dalam kitab zakat, Ahmad dalam musnadnya 4/357, 362 dan Ibnu Majah dalam sunannya 1/74/203-207)
Dan musibah itu akan menjadi lebih besar lagi jika yang melakukan adalah orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan dakwah, karena orang bodoh serta orang yang ilmunya masih setengah-setengah akan mencontohnya .
Oleh karena itulah kita harus memperhatikan kaidah ini didalam setiap permasa lahan, barangsiapa yang terbebaskan dari hawa nafsu maka Allah akan menyelamat kan dirinya diakhirat kelak .
KEEMPAT : Firman Allah jalla wa 'ala : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا )
Artinya : Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah . ( Surat Ali ' imron : 103 )
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ayat ini dengan sabdanya :
( عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة )
Artinya : Bersatulah kalian dan jauhilah perpecahan.(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunannya kitabul fitan (7) dan Ahmad dalam Musnadnya (50,370,371) ).
Dan telah tetap juga didalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad di zawaid musnad ayahnya bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Bersabda : ( الجماعة رحمة والفرقة عذاب )
Artinya : Bersatu itu rahmat dan berpecah belah itu adzab.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4,278 dan 370).
Berpecah belah dengan segala bentuknya - baik dalam pemikiran, perkataan, per buatan merupakan adzab yang Allah timpakan bagi yang menyelisihi perintah-Nya &dia mencari pentunjuk selain tunjuk-Nya.
Oleh karena itulah barangsiapa yang berpegang dengan jama'ah Ahli sunnah wal jama'ah dan menelusuri jejak para Imam dan ulama' mereka maka dia telah berpegang dengan jama'ah/persatuan. Dan barang siapa yang menyelisihi mereka maka dia akan terjerumus kedalam perpecahan dan adzab yang Allah timpakan kepadanya didunia ini. Kita minta kepada Allah jalla wa 'ala untuk menyelamatkan kita dan saudara-saudara kita dari semua hal itu.
Oleh sebab itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
( الجماعة رحمة والفرقة عذاب )
Persatuan dengan segala bentuk macam dan sifatnya jika dilandasi oleh petunjuk dan kebenaran maka dia akan membawa rahmat yang Allah merahmati hamba-hamba -Nya dengannya.
Adapun perpecahan dia akan menyebabkan azdab dan tidak ada kebaikan didalamnya selama-lamanya.
Oleh sebab itulah setelah Allah berfirman : ( واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا )
Allah berfirman pada ayat setelahnya : ( ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون )
Artinya : Dan hendaklah ada sekelompok diantara kalian yang menyuruh kepada
kebaikan beramar ma'ruf dan melarang yang mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung. ( Surat Ali-'Imron : 104 )
Kemudian Allah berfirman : ( ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات
وأولئك لهم عذاب عظيم )
Artinya :Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.( Surat Ali-'Imron : 105 )
Memang orang-orang yang berpecah-belah, baik dalam perkataan maupun perbuatan setelah datangnya keterangan dan petunjuk mereka selalu terancam oleh kesesa tan, perselisihan dan tidak akan mendapat petunjuk.
Oleh karena itulah kita harus selalu mengikuti jalannya Ahli sunnah wal jama'ah kita mengikuti perkataan mereka, jangan sampai kita keluar dari kaidah-kaidah atau dhowabith serta ijma' ulama mereka, sebab mereka (ulama ahli sunnah wal jama'ah-pent ) mengetahui dari ushul/pokok-pokok ahli sunnah wal jama'ah dan dari dalil-dalil syariat apa-apa yang tidak diketahui kebanyakan orang atau yang menisbatkan diri mereka kepada ilmu, karena mereka memiliki ilmu yang kokoh, penglihatan yang tepat serta dasar ilmu yang sangat kuat.
Lihatlah apa yang dilakukan Abdullah bin Mas'ud rodhiyallah 'anhu ketika menjalankan ibadah haji bersama 'Utsman bin 'Affan rodhiyallahu 'anhu ?
Dahulu 'Utsman menyempurnakan shalat diMina empat raka'at padahal menurut sunnah adalah dua raka'at dengan mengqashar shalat yang empat raka'at.'Utsman berpendapat shalat tersebut sebaiknya dikerjakan dua raka'at karena beliau memiliki alasan yang syar'i sedangkan Abdullah bin Mas'ud berkata: sunnahnya Nabi itu ialah dikerjakan shalat diMina dua raka'at bukan empat, kemudian beliau ditanya : wahai Abdullah bin Mas'ud anda mengatakan seperti itu sedangkan anda masih tetap shalat bersama 'Utsman bin'Affan empat raka'at, mengapa bisa demikian ? beliau berkata : wahai saudaraku ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ! berselisih itu jelek ……… diriwayatkan Abu dawud dengan isnad yang kuat.
Hal ini dikarenakan pemahaman mereka terhadap kaidah yang benar, kaidah yang barang siapa tidak mengikutinya maka dia tidak akan bisa selamat dari fitnah dan juga orang lain. Abdullah bin mas'ud berkata : BERSELISIH ITU JELEK.[3]
KELIMA : Bendera-bendera yang dikibarkan pada saat fitnah baik itu bendera negara atau bendera para da'i haruslah bagi seorang muslim untuk menimbangnya dengan timbangan yang syar'i timbangan ahli sunnah wal jama'ah yang mana barang siapa menimbang dengannya pasti timbangannya akan adil tidak akan salah. Seperti yang Allah firmankan tentang timbangannya :
( ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا )
Artinya : Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada hari kiamat,maka tiada dirugikan seseorang barang sedikitpun. (Surat Al- Anbiya': 47)
Demikianlah ahlu sunnah wal jama'ah memiliki timbangan-timbangan yang adil,mereka menimbang segala perkara dengannya baik itu pemikiran-pemikiran atau keadaan-keadaan. Mereka menimbang dengannya bendera-bendera yang berbeda ketika terjadi perbedaan keadaan.Timbangan-timbangan itu terbagi menurut mereka – sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam-imam dakwak kita Imam ahli sunnah wal jama'ah – menjadi dua bagian :
1.Timbangan yang digunakan untuk membedakan antara islam atau bukan.
Bendera-bendera yang dikibarkan dan dinisbatkan kepada islam banyak sekali maka dia harus ditimbang, jika dia bendera islam maka disana ada hukum-hukum syariat yang harus diperhatikan sebagai jawaban atas perintah Allah dan Nabi shallahu alaihi wa sallam .
2.Timbangan yang digunakan untuk menjelaskan kesempurnaan islam dengan ketiadaannya dan keistiqamahan diatas islam atau ketidakadanya keistiqamahan. Maka yang pertama itu hasilnya adalah kekafiran atau islam, Apakah dia itu bendera islam atau bukan ?
Dan yang kedua hasilnya adalah apakah bendera itu tegak diatas petunjuk seperti yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya ? apakah dia mempunyai kekurangan dalam hal ini ? Apabila hal ini sudah jelas maka disitu akan didapatkan hukum-hukum syari'at . Adapun timbangan pertama yang membedakan antara keimanan dan kekafiran
ada tiga :
Pertama : Kamu lihat apakah disana ada penyerahan ibadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu baginya atau tidak ? karena pokok agama para Nabi dan Rasul adalah menyeru agar hanya Allah saja yang diibadahi tidak yang lain-Nya .
Mengesakan Allah dalam beribadah (Tauhid) adalah pondasi segala sesuatu dialah yang pertama dan terakhir. Barangsiapa yang mengibarkan bendera tauhid dan meng ikrarkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja tiada sekutu bagi-Nya dan tidak mengakui peribadahan kepada selain-Nya maka timbangan ini membuktikkan bahwa dia adalah muslim, dan bendera tersebut bendera islam dengan ditambah dengan dua timbangan yang kalian akan mendengarnya dengan seizin Allah.
Timbangan pertama, kita lihat apakah yang mengangkat bendera islam itu bertauhid atau tidak ? apakah disana ada penyembahan kepada selain Allah jalla wa 'ala atau apakah tidak ada dibawah naungan bendera tersebut kecuali hanya Allah yang diibidahi tidak yang lain-Nya dan hati-hati ini hanya bermunajat kepada-Nya saja atau tidak ?
Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله و اجتنبوا الطاغوت )
Artinya : Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rasul yang menyerukan agar mereka menyembah Allah saja dan menjauhi thoghut (semua sesembahan selain Allah dan dia ridho untuk disembah). (Surat An-nahl : 36)
Dan Allah berfirman : ( الذين إن مكناهم في الأرض أقاموا الصلاة و اتوا الزكاة
وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور ) Artinya : Yaitu orang-orang yang apabila kami mengokohkannya dimuka bumi ini mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta menyuruh yang baik dan melarang yang munkar dan milik Allahlah segala akibat segala sesuatu itu.
Sebagian ahli tafsir berkata tentang ( امروا بالمعروف ) yaitu menyuruh kepada tauhid dan melarang dari yang munkar yaitu dari kesyirikan, karena sebaik-baiknya yang baik adalah tauhid dan sejelek-jeleknya kemungkaran adalah syirik, ini adalah timbangan yang pertama.
Kedua : Kamu melihat perwujudan syahadat Muhammad adalah utusan Allah.
Kalimat syahadat ini diantara konsekwensinya adalah berhukum dengan syari'at yang dibawa oleh Mushthofa shallallahu alaihi wa sallam.
Allah subhana wa ta'ala berfirman : ( فلا وربك لا يؤ منون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما ) Artinya : Demi Rabmu tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim didalam apa-apa yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan didalam diri mereka kesempitan dari apa-apa yang kamu putuskan dan mereka menyerah dengan penuh ketundukan. (Surat An-Nisa' :65)
Allah juga berfirman : ( أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون )
Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan, siapakah yang lebih baik
hukumnya dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin.(Surat Al-Maidah:50)
Allah juga berfirman : ( و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )
Artinya : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang kafir. (Surat Al-Maidah : 44)
Apabila kamu telah melihat suatu bendera yang dikibarkan pemiliknya berhukum dengan syari'at Allah dan menjadikan syari'at ini sebagai pemutus perkara-perkara manusia – apabila mereka berselisih siapakah yang menghukumi diantara mereka ? menghukumi diantara mereka seorang hakim yang syar'i. Ketika itulah kamu mengetahui bahwa bendera tersebut bendera islam karena dia menuntut pengi kutnya untuk berhukum dengan syari'at Allah jalla wa'ala dan mereka mendirikan
pengadilan syar'i yang berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah serta tidak mengharuskan seorangpun untuk berhukum dengan selain hukum Allah atau untuk ridho dengan hukum selain hukum Allah dan Rasul-Nya .
Timbangan ketiga : Kamu lihat apakah disana ada penghalalan terhadap apa-apa yang diharamkan Allah ? atau apakah masih ada kebencian, pengingkaran dan kema rahan jika hal-hal yang diharamkan itu dilakukan ?
Karena hal yang diharamkan secara ijma' jika dia telah tampak, pasti ada dua keadaan : 1. Dia dihalalkan dan ini merupakan kekafiran wal 'iyadzu billah.
2. Dia tidak dihalalkan akan tetapi hanya dilakukan dengan masih menyakini kemungkarannya dan bahwasannya dia itu haram, dari sini kamu mengetahui bahwa itu adalah bendera islam yang syar'i. Ini adalah tiga timbangan yang telah dijelaskan oleh para Imam-imam kita rahimahumullah. Dan itu masih bagian yang pertama.
Adapun bagian yang kedua yang mana dari sinilah kita mengetahui kesempurnaan islam dari ketidaksempurnaanya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil islam itu secara keseluruhan sebagaimana yang diturunkan dari sisi Allah jalla wa'ala dan beliau merupakan suri tauladan yang baik demikian juga para Khulafa' rasyidin ridhwanullah 'alaihim akan tetapi semakin lama semakin berkurang perwujudan kesempurnaan islam ini pada saat sekarang, (Dan tidaklah datang kepada manusia suatu zaman melainkan yang setelahnya itu lebih jelek dari yang sebelumnya sampai kamu bertemu dengan Rabmu) sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Timbangan ini kamu lihat didalamnya keberadaan perkara-perkara syari'at ? bagaimana masalah sholat ? bagaimana larangan terhadap kemungkaran-kemung karan? bagaimana amar ma'ruf dan nahi'anil munkar yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban serta yang berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan ? apabila hal tersebut telah dilaksanakan secara menyeluruh maka ini menunjukkan tentang kesempurnaannya dan apabila tidak, maka hal ini menunjukkan akan kekurangan yang ada padanya sesuai dengan keadaan tersebut.
Ini semua merupakan timbangan-timbangan yang penting yang harus ada dalam hatimu dan akal pikiranmu, jangan sampai dia hilang selamanya agar kamu tidak tersesat ketika terjadinya kesesatan dan tidak tersamarkan masalah-masalah yang ada saat terjadinya kekaburan.
Apabila hal ini telah jelas bagi kamu dan kamu telah bisa membedakan antara bendera islam dengan selainnya maka wajib bagi kalian menurut syari'at untuk kalian berwala' (mencintai serta menolong) bendera islam tersebut didalam kebenaran dan petunjuk karena Allah jalla wa'ala menyuruh untuk berwala' kepada orang-orang beriman dan menyarankan agar berpegang teguh dengan ajaran Allah serta jangan sampai berpecah belah. (Hal-hal yang perlu diperhatikan –pent):
1. Haruslah kecintaan kalian terhadap bendera islam tersebut benar-benar murni tidak ada penyelewengan, kekaburan serta keraguan karena tidak ada pilihan kecuali islam atau kekafiran. Jika telah jelas keislamannya maka tersusun darinya hukum-hukum syari'at dan tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menjadikan suatu kemaksiatan sebagai sebab untuk tidak berpegang teguh dengan hal-hal yang diperin tahkan Allah jalla wa'ala dan Rasul-Nya dari berwala' kepada orang-orang beriman dan yang berperang dijalan Allah.
2. Nasehatilah pemegang bendera tersebut dengan nasehat yang Allah mengetahui itu dari lubuk hatimu. Ahlu sunnah wal jama'ah – yang mereka selalu menyelisihi ahli bid'ah pecinta perpecahan – mereka selalu menasihati pemimpin-pemimpin serta memperbanyak doa untuk mereka walaupun mereka melihat hal-hal yang tidak disukai (dari pemimpin-pemimpi tersebut – pent) mereka lakukan hal tersebut dari lubuk hati, mereka tidak mengharapkan balasan atau kata terima kasih kecuali dari sisi Allah jalla wa'ala tidak dari yang lain, kalau hal ini kita lakukan dengan hati yang tulus maka kita memang benar-benar termasuk ahlu sunnah wal jama'ah.
Bacalah kitab-kitab aqidah ahli sunnah wal jama'ah kalian akan melihat didalam nya bab-bab khusus tentang hak-hak para pemimpin dari rakyatnya dan hak-hak rakyat dari pemimpinnya karena dengan inilah tercipta persatuan diatas sunnah dan jama'ah.
Dan inilah yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menasehati para pemimpin kaum muslimin dan masyarakatnya didalam sabda beliau : (Agama itu nasehat) apabila telah tetap bahwa nasehat itu wajib maka haruslah bagi seorang muslim untuk menasehati, kemudian bagaimanakah cara menasehati itu ? dan bagaimanakah cara menerangkan ? yang sesuai dengan sunnah bukan dari diri kita sendiri.
Telah tetap dari hadits shohih bahwasannya 'Iyadh bin Ghonam berkata kepada Hisyam bin Hakim rodhiyallahu 'anhuma : Apakah kamu tidak mendengar sabda Na bi shallallahu 'alaihi wa sallam : ( من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبد علانية و لكن ليأخذ بيده ثم ليخل به فإن قبل منه فذاك وإلا فإنه قد أدى الذي عليه ) Artinya : Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah, jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan dan jika tidak maka telah gugur kewajiban .( diriwayatkan oleh Ibnu abi 'ashim dalam " As-sunnah "dan selainnya serta dishohikan oleh Al-albani.)
Dengarkanlah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, kalian adalah orang-orang yang bersemangat menjalankan sunnah seperti ahlu sunnah wal jama'ah.
Jika dengan timbangan-timbangan itu dapat dibedakan antara bendera islam dengan selainnya maka hal ini menuntut adanya hak-hak syari'at pada bendera terse but hal ini jika memang terbukti bahwa dia itu diatas islam bukan diatas kekafiran. Dan ini termasuk hal penting yang akan nampak fungsinya ketika terjadi perubahan keadaan dan munculnya fitnah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : (Barangsiapa yang ingin menase hati pemimpin janganlah dia menyebarkannya akan tetapi ambillah tangannya dan bersepi-sepilah dengannya jika dia menerima nasehat itu maka itulah yang diharapkan jika tidak maka telah gugur kewajiban).
Dan inilah yang menjadikan kita tenang serta menjadikan kita mengikuti apa yang disabdakan Mushthofa shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila kita mengambil yang demikian itu maka kita akan selamat biidznillah, dan jika tidak maka akan menimpa kita penyelewengan dan penyimpangan dari jalannya ahli sunnah wal jama'ah sesuai dengan kadar penyimpangan itu.
Timbangan – timbangan tadi jika tersamarkan oleh seorang muslim atau penuntut ilmu maka sebagai rujukan adalah para 'ulama sebab merekalah yang bisa menimbang dengan timbangan yang tepat merekalah yang dapat meluruskan dengan baik serta merekalah yang berhukum dengan hukum syari'at yang betul.
Oleh sebab itu menghukumi adanya keislaman dengan ketidakadanya atau adanya keimanan atau kekafiran tempat rujukannya adalah para 'ulama ahli sunnah wal jama'ah bukan yang lainnya dari kalangan orang-orang baru belajar yang kadangkala mereka mengetahui sebagian dan bodoh terhadap sebagian yang lain atau mereka memperluas apa-apa yang tidak boleh untuk diperluas.
Maka rujukan bagi mereka yang belum bisa menimbang dengan timbangan yang benar adalah para 'ulama, wajib bagi kita untuk mengambil perkataan mereka, metode serta jalan mereka dalam membedakan antara keimanan dengan kekafiran, dan menimbang dengan timbangan yang telah kami sebutkan kepada kalian .
Sebagai tuntutan dari hasil timbangan-timbangan itu sebagaimana yang disepakati oleh ahlu sunnah wal jama'ah yaitu bahwasannya jihad itu dilakukan bersama setiap imam atau pemimpin yang baik maupun yang fasik, tidak boleh bagi seorangpun untuk tidak mengikutinya dengan alasan bahwa pemimpinnya mempunyai penyim pangan terhadap syari'at pada suatu waktu .
Dhobith ini haruslah kita pegangi setiap saat, mungkin pada waktu yang akan datang terjadi sesuatu apa-apa yang kita tidak mengetahuinya sehingga kita memiliki pedoman dan timbangan yang bisa digunakan untuk menimbang keadaan atau pemikiran kita. Diantara hak-hak tersebut adalah mendoakan bagi siapa saja yang Allah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin kita.
Berkata Al-Barbahari rahimahullah penolong sunnah, Imam dari Imam-imamnya Ahli sunnah wal jama'ah didalam kitabnya " As-sunnah " dan buku ini telah dicetak.Beliau berkata : Apabila kamu melihat seseorang berdoa untuk pemimpinnya ketahuilah bahwa dia adalah pemegang sunnah dan jika kamu melihat orang berdoa (dengan doa yang jelek) kepada pemimpinnya maka ketahuilah dia adalah ahli bid'ah.
Al-Fudhail bin 'Iyadh dahulu sering memperbanyak doa untuk pemimpin pada waktunya..Padahal kita mengetahui bagaimana para pemimpin bani Al-abbas pada saat itu, ketika ditanya : Kamu lebih banyak mendoakan mereka daripada untuk dirimu sendiri ? beliau menjawab : ya, karena jika aku baik maka kebaikan ini hanya untuk diriku sendiri dan orang disekitarku, adapun kalau seorang Imam itu baik maka ini untuk kaum muslimin semuanya.
Maka barang siapa yang menginginkan kebaikan yang merata bagi kaum muslimin Allahlah yang mengetahui dari hatinya bahwa dia benar-benar berdo'a dengan ikhlas untuk kebaikan pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan agar mereka diberi petunjuk untuk bisa mengamalkan Al-qur'an dan sunnahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena kita tidaklah berharap dan tamak lebih banyak daripada untuk mendapatkan petunjuk serta beramal dengan Al-qur'an dan As-sunnah. Hati-hati ini ada ditangan Allah Dialah yang membolak-balikkannya.
KEENAM : Sesungguhnya perkataan dan perbuatan ditengah-tengah fitnah memiliki dhowabith tidak semua perkataan yang tampaknya baik bagimu kamu mengucapkannya dan tidak semua perbuatan yang kelihatannya bagus kamu kerjakan karena perkataan dan perbuatanmu pada waktu fitnah dapat menyebabkan banyak hal.
Maka tidak heran apabila kita mendengar Abu Hurairah rodhiyallah 'anhu berkata : (Aku menghafal dari Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam dua perkara yang pertama telah aku sebarkan adapun yang lainnya seandainya aku sebarkan maka
akan terpotong tenggorokan ini ) diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya.
Berkata ahlu ilmi : perkataan Abi Hurairah " akan terpotong tenggorokan ini " maksudnya adalah dia menyembunyikan hadits-hadits tentang fitnah dan hadits-hadits tentang bani Umayyah dll dan beliau berkata demikian pada zamannya Mu'awiyah rodhiyallahu 'anhu yang mana manusia bersatu padanya setelah perpecahan dan peperangan, kamu mengetahui apa yang terjadi pada waktu itu dan sejarah nya, Abu Hurairah menyembunyikan beberapa hadits ; kenapa demikian padahal itu adalah hadits-hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam ? bukan tentang hukum -hukum syari'at akan tetapi yang lainnya, mengapa beliau menyembunyikannya ? beliau berbuat demikian agar jangan sampai manusia terfitnah. Sesungguhnya hadits itu betul dan tidak diperbolehkan untuk menyembunyikan ilmu, mengapa bisa demikian ? karena menyembunyikan hal tersebut pada waktu itu adalah suatu keharus an agar manusia tidak terpecah belah setelah bersatu pada tahun jama'ah (persatuan) bersama Mu'awiyah bin Abi sufyan rodhiyallahu 'anhu.
Berkata Ibnu Mas'ud sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya : (Tidaklah kamu berbicara kepada suatu kaum dengan perkataan yang tidak difahami oleh akal mereka kecuali hal ini akan menimbulkan fitnah pada sebagian mereka).
Manusia tidak semuanya mengerti apa yang dikatakan oleh sipembicara tentang setiap perkara dalam fitnah, kadang kala mereka mendengar banyak hal yang tidak difahami oleh akal mereka kalaulah mereka faham mereka akan menjadikannya keyakinan, perbuatan dan perkataan yang akibatnya tidak baik.
Oleh karena itulah para pendahulu (salaf ) banyak melakukan hal ini.
Lihatlah Hasan Al-bashri rahimahullah ta'ala ketika mengingkari Anas bin malik rodhiyallah 'anhu saat berbicara dengan Hajjaj bin Yusuf tentang perangnya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dengan Al-'Uraniyyin ; beliau berbuat demikian karena Hajjaj bin Yusuf senang menumpahkan darah, dan dia akan menta'wil hadits tersebut untuk membenarkan perbuatannya maka yang wajib dilakukan adalah menyembunyi kan hadits dan ilmu tersebut dari Hajjaj agar jangan sampai dia salah dalam memaha minya bahwa hadits itu menguatkannya.
Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingkari perkataan Anas bin Malik rodhiyallah 'anhu seorang shahabat dan Anas rodhiyallahu 'anhu menyesal setelah menceritakan hadits Al- 'Uraniyyin kepada Al-Hajjaj.
Sebelum Anas bin Malik Hudzaifah menyembunyikan hadits-hadits fitan karena dia melihat manusia tidak membutuhkannya, Imam Ahmad juga tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits tentang keluar dari pemimpin dan beliau memerintahkan untuk dihilangkan hal-hal tersebut dari (Musnadnya) karena beliau pernah berkata : (Tidak ada kebaikan dalam fitnah dan tidak ada kebaikan untuk keluar daripemimpin).
Demikian juga Abu Yusuf tidak suka meriwayatkan hadits-hadits yang aneh-aneh.
Imam Malik rahimahullahu tidak menyukai meriwayatkan hadits-hadits yang didalamnya disebutkan sifat –sifat.
Tujuan dari semua itu adalah karena pada waktu fitnah tidak semua yang diketahui dikatakan dan tidak semua yang dikatakan itu dikatakan setiap saat.
Haruslah perkataan itu memiliki dhowabith karena kamu tidak tahu akibat dari apa yang kamu katakan ? dan apa yang terjadi dari pendapatmu itu ? serta apa akibat dari pemahamanmu ?
Para salaf rahimahumullah lebih menyukai keselamatan pada waktu fitnah, mereka diam dalam banyak hal dalam rangka mencari keselamatan untuk agama mereka, Agar mereka menemui Allah jalla wa 'ala dalam keadaan selamat.
Dan telah tetap dari Sa'ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu 'anhu bahwasannya dia berkata kepada anaknya ketika berbicara tentang keikutsertaan pada beberapa perkara dalam fitnah beliau berkata kepada anaknya : wahai anakku ? apakah kamu ingin aku menjadi pelopor dalam fitnah ? dia menjawab : tidak, demi Allah aku tidak ingin hal itu.
Sa'ad bin Abi Waqqash melarang anaknya untuk dia atau anaknya menjadi pelopor dalam fitnah walaupun dengan perkataan atau perbuatan dan dianggapnya benar, karena dia takut akan akibat buruk darinya.
Manusia haruslah menimbang segala perkara dengan timbangan yang syar'i dan benar agar selamat dan tidak terjerumus kedalam kesalahan.
Kemudian perkataan, perbuatan atau tingkah laku itu mempunyai dhowabith yang harus diperhatikan, tidak semua perbuatan yang terpuji itu baik dilakukan dalam keadaan fitnah apabila hal itu akan disalah pahami.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Shohihnya beliau berkata kepada 'Aisyah ( لولا حد ثان قومك بكفر لهدمت الكعبة ولبنيتها على قواعد إبرا هيم و لجعلت لها بابين )
Artinya : Seandainya bukan karena dekatnya kaummu dengan kekafiran aku akan merobohkan ka'bah dan akan kubangun diatas pondasi Ibrahim serta kujadikan untuknya dua pintu.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam takut kalau orang-orang kafir quraisy yang baru memeluk islam salah paham mengenai perobohan ka'bah dan pembangunannya diatas pondasi Ibrahim serta dijadikan untuknya dua pintu, pintu masuk dan keluarnya manusia. Beliau takut kalau mereka mengangap itu hanya sekedar untuk pamer atau untuk menghina agama mereka agamanya Nabi Ibrahim atau yang lainnya maka Nabi meninggalkan pembangunan tersebut.
Oleh karena itu Bukhari membuat suatu bab yang bagus berdalil dengan hadits tadi, apa yang beliau katakan ? beliau berkata : bab : Meninggalkan suatu perbuatan karena takut manusia salah memahaminya sehingga mereka terjatuh pada hal-hal yang lebih berbahaya dari hal tersebut.
Bukhari menyebutkan hadits diatas dalam kandungan bab ini.
Dari sinilah kita mengetahui harusnya memakai akal dan pemahaman, adapun tergesa-gesa dan sembrono itu tidaklah terpuji, siapakah yang mengharuskan kamu untuk berbicara disetiap majlis atau pertemuan dengan apa-apa yang kamu anggap itu benar dalam mengahadapi fitnah ?
Kebenaran itu telah dijelaskan oleh 'ulama ahli sunnah wal jama'ah, jika kamu memiliki pendapat atau suatu pemahaman maka tanyakannlah kepada mereka jika mereka menerimanya maka itulah dan jika tidak, maka telah lepas tanggungjawabmu untuk kamu memberi tahu kaum muslimin tentang pendapatmu itu.
KETUJUH : Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mencintai dan meno long orang-orang beriman khususnya para 'ulama. Orang-orang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah jalla wa'ala : ( بعضهم أولياء بعض )
Artinya : Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.(Surat At-taubah:71)
Setiap mu'min wajib dan harus untuk mencintai orang-orang yang beriman, menolong serta menjauhkan mereka dari celaan, lebih-lebih kalau mereka itu penolong syari'at Allah yang menjelaskan kepada manusia mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan mana yang salah ?!
Diharamkan untuk kita menyebutkan para 'ulama kecuali dengan kebaikan.
Majlis yang disebutkan didalamnya para ulama bukan dengan kebaikan adalah majlis yang jelek. Mengapa bisa demikian ? karena para'ulama adalah pewaris para nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu, barang-siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.
Barangsiapa yang menghormati dan memuliakan para 'ulama serta mengambil perkataan 'ulama ahli sunnah wal jama'ah – pemegang tauhid – maka dia telah mengambil warisannya Nabi dan tidak meningalkan warisan kenabian itu pada selainnya.'Ulama yang dijadikan sebagai rujukan dan yang harus dicintai dan ditolong ciri-cirinya adalah :
1. Imam-imam ahli sunnah wal jama'ah pada waktunya, para imam tauhid dan perkataan mereka dijadikan rujukan dalam masalah tauhid.
2. Mereka orang yang mengetahui hukum-hukum syari'at secara menyeluruh mengetahui fiqih dengan semua babnya, faham kaidah-kaidah syari'at dan ushulnya tidak ada kekaburan bagi mereka antara satu masalah dengan yang lainnya.
Dari sini kami harus mengingatkan suatu perkara penting, banyak yang terjerumus kedalamnya yaitu perkataan orang : sesungguhnya 'ulama kita sekarang tidak mengetahui waqi' (kenyataan) !! bahkan sebagian mereka mengatakan kepada bebera pa teman-temannya di perkumpulan kecil : sesungguhnya kita telah mengambil faidah dari kejadian-kejadian dan keadaan ini bahwa kejadian-kejadian tersebut telah memfir ter mana itu 'ulama yang paham waqi' dan menghukuminya dengan hukum-hukum syar'i dan mana 'ulama yang tidak paham waqi'.
Demi Allah ini adalah perkataan yang busuk yang menunjukkan ketidakpaham an terhadap hukum-hukum syari'at dan apa-apa yang diambil oleh para 'ulama, mana yang perlu diperhatikan untuk dipahami dan mana yang tidak perlu.
Sesungguhnya memahami waqi' (kenyataan) menurut 'ulama terbagi menjadi dua bagian :
1. Pemahaman terhadap waqi' yang dibangun diatasnya hukum syari'at dan ini merupakan suatu keharusan, barangsiapa yang menghukumi suatu masalah tanpa memahami waqi' maka dia telah salah. Jika waqi' itu memiliki pengaruh dalam hukum maka wajib untuk memahaminya.
2.Waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syari'at seperti kenyataan ini dan itu atau kisah cerita yang panjang lebar akan tetapi tidak ada pengaruhnya dalam hukum syari'at selamanya. Disini para 'ulama tidak mengambilnya, walaupun mereka memahami hal tersebut tidaklah semua itu dibangun diatasnya hukum syari'at. Saya akan memberikan contoh-contoh untuk bagian pertama dan kedua agar kalian lebih jelas dan paham.
- Contoh bagian pertama yaitu bahwasannya memahami waqi' terbangun diatas nya hukum syari'at : masalah kapan mayit itu dihukumi benar-benar telah meninggal ? apakah yang mati itu hanya detak jantungnya saja ? atau otaknya ?
Ini adalah persoalan baru seandainya datang seseorang berbicara masalah ini tanpa mengetahui waqi' dan keadaannya maka pastilah dia akan salah dalam meng hukumi, karena memahami waqi' masalah ini memiliki pengaruh dalam hukum syari'at.
Contoh yang lain : menghukumi suatu negara atau wilayah apakah dia negara islam atau bukan, bagaimana saya bisa menghukumi itu negara islam atau bukan tanpa saya mengetahui hakikat didalamnya atau tanpa saya pahami waqi'nya ?
Memahami waqi' seperti ini merupakan suatu keharusan agar seorang 'alim bisa mengeluarkan hukum syari'at, apabila paham waqi' dikeluarkanlah hukum syari'at berdasarkan atas pemahaman tadi ?
Contoh lainnya lagi : kelompok-kelompok islam sekarang banyak sekali dan berbeda-beda, apakah boleh bagi seorang 'alim untuk menghukuminya atau melurus kannya tanpa mengetahui waqi' kelompok-kelompok tersebut. Apa aqidah mereka ? apa pokok-pokok ajaran mereka ? bagaimana metodenya ? bagaimana pemikiran-pemikiran mereka ? bagaimanakah dakwah mereka ? tidak akan mungkin baginya untuk menghukumi.
Maka harus baginya untuk memahami waqi' kelompok-kelompok tersebut karena memahami waqi' seperti ini berpengaruh dalam hukum syari'at, barangsiapa yang tidak memahaminya maka hukumnya terhadap sesuatu itu tidaklah akan benar.
- Contoh bagian kedua yaitu waqi' yang tidak berpengaruh bagi hukum syari'at antara lain adalah : apa-apa yang diungkapkan oleh dua orang yang saling berselisih didepan hakim. Dua orang tersebut mengungkapkan apa yang terjadi antara mereka dengan cerita yang panjang yang diketahui oleh hakim akan tetapi perkataan banyak tadi yang merupakan waqi' tidaklah ditetapkan oleh hakim dalam perkara tersebut dan inilah waqi' yang tidak memiliki pengaruh dalam hukum syar'i.
Oleh karena itulah seorang hakim atau pemberi fatwa berkata pada waktu seperti itu: jika memang demikian maka begini atau begitu, maksudnya apa-apa yang disebut kan dari waqi' tersebut tidaklah berpengaruh menurut syari'at dalam hukum syar'i.
Contoh lain : kita melihat pada saat sekarang – ini merupakan contoh yang lebih diterima oleh akal dalam masalah ini – banyak para da'i dari golongan tua bergaul dengan anak-anak muda, mereka menyeru anak-anak muda tersebut dan menjadikan mereka cinta kepada petunjuk serta kebaikan ditempat-tempat umum atau diperpus takaan-perpustakaan atau yang lainnya.
Kita telah mengetahui bahwa bergaulnya mereka orang-orang tua dengan anak-anak muda ada tidak baiknya bahkan ada keharamannya, kita tahu hal ini pada beberapa keadaan dengan ada perinciannya .
Pemahaman kita terhadap waqi' ini tidaklah menjadikan kita menghukumi dakwahnya golongan tua kepada anak-anak muda bahwasanya itu tidak boleh. Pemahaman kita mengenai fakta yang jelek tadi tidak ada pengaruhnya dalam meng hukumi dakwah itu bahwa hal itu tidak disyari'atkan.
Akan tetapi pemahaman kita tadi mengundang permasalahan lain yaitu untuk kita menasehati dan menunjukkkan orang yang salah atau yang terjerumus kedalam hal yang haram atau melakukan sesuatu yang tidak disyari'atkan atau yang tidak diridhoi Allah untuk bertaubat.Jadi pemahaman kita terhadap waqi' tadi tidak berpengaruh dalam hukum syari'at boleh atau tidaknya, tapi berpengaruh dalam kita menasehati orang yang terjerumus kedalam kesalahan sampai dia kembali kepada kebenaran dan tidak mengulangi kemunkarannya serta perkara yang tidak dicintai Allah serta rasul-Nya.
Ini diantara contoh-contoh yang aku tidak ingin untuk memperbanyaknya, akan tetapi ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman kepada kalian.
Contoh lain yang selayaknya untuk disebutkan adalah : disana ada hukum-hukum syari'at yang salah diyakini oleh manusia misalnya : ada hadits shohih menetapkan bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kencing berdiri.
Kencing dengan berdiri tanpa adanya percikan atau air kencing serta najis yang mengenai badan atau pakaian itu hukumnya boleh, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya.
Akan tetapi orang-orang bodoh menyalahkan orang yang berbuat seperti itu, dia tidak mempunyai sopan santun dia itu begini dan begitu.
Ini diantara keyakinan mereka orang-orang bodoh, bukan berarti hukum tadi itu salah atau tidak perlu diambil, tapi perkara ini – bolehnya kencing berdiri tidak diragukan lagi kebenarannya, tidak ada perdebatan didalamnya, kesalahan orang bodoh dalam keyakinannya, dalam penggambaran yang berkaitan dengan hukum-hukum syari'at obatnya adalah dengan mengajarinya bukan dengan merubah kebena ran pendapat orang 'alim terhadap hukum syari'at tersebut.
KEDELAPAN : Ini adalah dhobith penting yang harus kita perhatikan yaitu dhobit tentang at-tawally kepada orang-orang kafir dan dhobith al-muwaalah kepada mereka : disini menurut syari'at serta Imam-imam tauhid ada dua lafadz yang masing-masing memiliki makna, kebanyakan orang tidak bisa membedakan satu dengan yang lain : Pertama : At-tawally, ini menjadikan pelakunya kafir
Kedua : Al-muwaalah, ini tidak diperbolehkan
Ketiga : Meminta pertolongan serta perlindungan dari orang kafir, ini diperbo lehkan dengan syarat-syarat. Ini tiga masalah .
Pertama : at-tawally, turun firman Allah jalla wa'ala mengenai hal ini :
( يا أيها الذين أمنوا لا تتخذوا اليهود و النصارى أولياء بعضهم أولياء بعض و من يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين ) Artinya : Wahai orang-orang beriman jangannlah kalian menjadikan orang-orang yahudi dan nashrani sebagai pemimpin-pemimpinmu sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(Surat Al-Maidah :51)
Dhobith at-tawally itu adalah : menolong orang kafir terhadap orang muslim pada saat perang antara muslim dan kafir dengan tujuan agar orang kafir menang terhadap orang muslim. Asal dari at-tawally itu adalah cinta penuh atau membantu orang kafir terhadap orang muslim, barang siapa yang mencintai orang kafir karena agamanya maka dia telah menjadikannya wali dan ini merupakan suatu kekafiran .
Kedua : adapun muwaalatul kuffar adalah sayang dan cinta kepada orang-orang kafir karena dunia mereka serta mengunggulkan dan menyanjung mereka.Ini merupa kan suatu kefasikan bukan kekafiran .
Allah berfirman : ( ياأيها الذين أمنوا لا تتخذوا عدوي و عدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة )
Artinya : Hai orang-orang beriman janganlah kalian menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka ( berita-berita Muhammad ) karena rasa kasih sayang.(Surat Al-Mumtahanah : 1)
Sampai kepada firmannya : ( ومن يفعله منكم فقد ضل سواء السبيل )
Artinya : Dan barang siapa yang melakukannya diantara kalian maka sungguh dia telah telah tersesat dari jalan yang lurus.
Berkata ahlu ilmi : Allah subhana wa ta'ala memanggil mereka dengan panggilan iman, termasuk didalamnya orang yang memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang kafir, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak merupakan kekafiran akan tetapi itu termasuk kesesatan dari jalan yang lurus.
Yang demikian ini karena dia telah memberikan kasih sayangnya dan memberitakan rahasia kepada mereka dengan tujuan dunia bukan karena ragu dengan agama ini.
Oleh karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada orang yang melakukan hal ini : Apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti ini ?dia menjawab: Demi Allah, tidaklah aku menginginkan kecuali aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku hanya ingin menanam jasa di kaummku agar Allah menyelamatkan dengannya keluarga dan hartaku. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shohihnya.
Dari sini telah jelas bahwa mencintai orang kafir dan condong kepada mereka karena tujuan dunia bukan merupakan kekafiran apabila masih ada akar iman dan thuma'ninah dengannya.
Ketiga : Adapun meminta bantuan serta perlindungan dari orang kafir maka ahlu ilmi berkata : itu adalah boleh pada beberapa keadaan, yang lain berfatwa akan bolehnya hal itu pada setiap keadaan dan kejadian dengan melihat kebenaran yang difatwakan itu.
Adapun memberi orang kafir sodaqah untuk menarik mereka atau untuk menolak kejelekan ini adalah pembahasan yang lain bukan termasuk pembagian yang tiga tadi.
KESEMBILAN : Janganlah kamu menerapkan semua hadits tentang fitnah pada setiap fakta yang kamu temui, karena memang manis bagi manusia untuk mengulang hadits-hadits tentang fitnah dikala fitnah itu telah muncul. Dan banyak (dikatakan) diperkumpulan mereka : Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda begini, inillah waktunya, inilah yang disebut fitnah dan lain sebagainya.
Salaf mengajarkan kita bahwa hadits-hadits fitnah tidaklah diterapkan pada kenyataan sekarang akan tetapi ini menunjukkan kebenaran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa-apa yang beliau kabarkan dari terjadinya fitnah setelah terjadi dan terputus serta keharusan berhati-hati dari fitnah semuanya.
Contoh : sebagian orang mentafsirkan sabda Nabi shallallahu' alaihi wa sallam : (sesungguhnya fitnah pada akhir zaman akan berada dibawah seorang dari ahli baitku) yaitu fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : (sehingga manusia bersatu dibawah bai’at seorang pemimpin yang tidak berhak untuk memimpin) maksudnya fulan bin fulan atau sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : (akan terjadi perdamaian yang aman antara kalian dan Rum) sampai akhir hadits dan apa-apa yang terjadi setelahnya itu adalah saat sekarang ini.
Penerapan hadits-hadits ini pada kenyataan sekarang dan menyebarkannya ke pada kaum muslimin bukanlah dari metode ahli sunnah wal jama'ah .
Sesungguhnya ahlu sunnah wal jama'ah menyebutkan tentang fitnah dan hadits-hadits fitnah dalam rangka untuk berhati-hati darinya serta menjauhkan kaum muslimin dari terjerumus atau mendekatinya agar tidak menimpa kaum muslimin fitnah tersebut dan agar mereka menyakini kebenaran apa-apa yang diberitakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

PENUTUP
Saya memohon kepada Allah jalla wa'ala untuk memperlihatkan yang benar itu benar serta memberikan kita kekuatan untuk mengikutinya dan untuk memberi kita persatuan dan kekuatan diatas kebenaran serta tegak diatasnya dan untuk menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh dengan jalannya ahli sunnah wal jama'ah dan aqidah mereka dari yang pertama sampai yang akhir, tidaklah kita memilah sesuatupun dari yang mereka katakan atau yang mereka tetapkan atau yang mereka berdalil dengan dalil-dalil syar'i.
Ya Allah kami memohon kepadamu agar kau jauhkan kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, berilah kaum muslimin kebaikan pada diri serta pemimpin mereka serta tunjukkanlah mereka kejalan yang benar dan jauhkanlah mereka dari orang-orang yang menyimpang dan merusak, Wahai Pencipta alam semesta.
Kita minta kepada-Nya untuk menjadikan kita termasuk yang diberi rahmat, dan mengakhiri hidup kita dengan kebaikan serta menjadikan perkara dan fitnah yang tampak ini baik akibatnya bagi kaum muslimin serta menjauhkan kita dari kejahatan dan kejelekannya. Semoga Dia menjadikan kejelekan dan kejahatan fitnah itu bagi musuh-musuh kaum muslimin, ya Rabbal 'alamin .

و صلى الله و سلم على نبينا محمد وعلى اله وصحبه ومن اهتدى بهداه الى يوم الدين

Penukil tulisan ini dari kaset : Akram bin sirdar syaikh
Tanggal 22 jumadil ' ula 1411 H
PENERJEMAH : ABU ABDIRRAHMAN AS-SALAFY



[1]Mungkin maksud beliau adalah organisasi internasional terselubung yang bergerak dalam bidang agama dan politik, muncul di Amerika pada pertengahan abad ke-19 dan mengaku dirinya sebagai pengikut al-masih (‘Isa bin Maryam) tapi dia dibawah naungan yahudi, mereka memusuhi islam- untuk lebih jelasnya lihat kitab “Al-mausu’ah al-muyassarah fil adyaan wal madzaahib wal ahzab mu’ashirah” jil. 2 hal 658-662-pent.
[2] Adapun dalam kita mengkritik atau memperingatkan umat dari bahaya bid'ahnya seseorang/mubtadi' atau kelompok yang sesat maka tidak perlu menyebutkan kebaikannya, dan inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama'ahli sunnah wal jama'ah/salafunash sholeh seperti Imam Ahmad dll … untuk lebih jelasnya lihat kitab " Manhaj Ahlis sunnah wal jama'ah fi naqdir rijal wal kutub wath thowaaif " dan " Al-mahajjatul baidho' fi himaayatis sunnah al-ghorra' min zallaati ahlil akhtho' waz zaighi ahlil ahwa' "oleh DR.Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly-hafizhahullah- Dosen Islamic university of medina –pent.
[3] Perselisihan dalam agama ini ada dua menurut para 'ulama : 1. Perselisihan yang tidak ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan pintu ijtihad terbuka di dalamnya oleh karena itu perselisihan/khilaf ini dinamakan masalah ijtihady. Dan kita diperbolehkan untuk berlapang dada didalamnya ( Lihat " Kitabul ilmi "bab Adab Tholibil 'ilmi oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimiin –rahimahullah- ).2. Perselisihan yang ada didalamnya nash yang jelas yang menunjukkan akan kebenaran salah satu pendapat dan tidak ada ijtihad didalamnya. Disini kita wajib untuk mengingkari pendapat yang menyelisihi nash tersebut. Lihat " Hujajul aslaf fibayaanil farqi baina masailil ijtihad wa masaailil khilaf " oleh Abu Abdirrahman Fauzi bin Abdillah Al-Atsary –pent.

Name:
Location: " SANSHIN "gunma-ken/ Maebashi, izumisawa-machi 1250-7, Japan

istiqomah di atas kebenaran dengan mengikuti jejak para salafus sholeh...

Gabung Milis As-Sunnah
Free Site Counters
pengunjung

hikmah


Ahlan wa Sahlan di Mauqi' (Web) pribadi Abu dzar al-Janary
<<-------------------->>
dan yang (Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yg lurus maka ikutilah dia janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yg lain) yang menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.Yang demikian itu di perintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa(al-An'am:153)

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,dan mengikuji jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin.Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah di kuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam.Dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali."(an-Nisa:115)

"Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang di turunkan kepadanya dari Tuhannya,demikian pula orang-orang yang beriman."(al-Baqarah:285)

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan jannah-jannah yg mengalir sungai-sungai di dalamnya,mereka kekal di dalamnya selama-lamanya,itulah kemenangan yang besar."(at-Taubah:100)

-:--------------:-

"Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma'ruf,dan mencegah dari yang mungkar,dan beriman kepada Allah."(ali imran:110)

-:--------------:-

  • BUKU TAMU